Your in My Memory

            Matahari mulai turun dari tempatnya. Awan mulai menguning yang menyilaukan mata. Ah kala senja telah datang. Aku duduk di sebuah bangku dipinggir rel kereta api. Banyak manusia silih berganti melewatiku dengan berbagai bawaan. Mungkin saja tas isi pakaian atau oleh-oleh. Semua punya tujuannya masing-masing. Entah itu mudik atau hanya sebuah perjalanan. Aku bersandar pada dinding bangku dan menghela nafas. Tak lupa ku tengok jam tanganku. Tepat jam 16.27 wib.
            -Tuttttt..tutt....ttt-
            Peron kereta mulai berbunyi. Seketika itu juga aku beranjak dari bangku tunggu penumpang. Ya, sebuah stasiun di kota kecilku. Sesuai jadwal, kereta api yang ku tunggu telah datang. Kereta dengan tujuan keberangkatan ke Surabaya.
            “Keretanya datang!” gumamku dan sekilas tersenyum. Aku berlari kecil sambil menjinjing tas pakaianku. ‘Gerbong tiga, kursi E 8, Gaya Baru Malam, Ekonomi’ batinku melihat tulisan yang tertera dalam tiket.
            Alhamdulillah. Kereta sekarang tak penuh sesak seperti dahulu. Aku taruh tasku dan duduk dekat jendela. Masih aku sendiri. Belum ada penumpang lain yang duduk dideretan kursi D yang berhadapan dengan kursiku
            -Perhatian! Perhatian!  Kereta akan segera berangkat..-
            Kereta mulai jalan perlahan. Ah berangkat. Aku tundukkan kepala sejenak untuk berdoa.
            ‘Ya Tuhan..lindungi aku dalam perjalanan ini sampai tujuan. Amin.’ Batinku sejenak. Tanpa perlindunganNya aku tak bisa sampai sini.
            Aku Tris. Aku hanya seorang gadis berumur 23 tahun dengan sebuah kenekatan pergi ke kota berlambangkan hiu dan buaya putih. Surabaya. Sebuah tujuan yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Aku seorang karyawan swasta sebuah perusahaan di kota Purwokerto. Sebuah kota ya dibilang kecil juga tidak. Aku nekat pergi ke Surabaya selama tiga hari. Sendirian.
***
            Seorang gadis berkulit coklat dan berambut panjang tergerai sedang melamun menatap keluar jedela kereta. Berpakaian switter berlengan panjang warna abu-abu dan celana panjang hitam melekat di tubuh dan bersepatu kets. Tak lupa dia mengapit tas ranselnya di dada. Gadis itu adalah Tris. Ini adalah perjalanan Tris pertama kali ke Surabaya seorang diri. Dia melihat sekeliling, banyak penumpang yang menatapnya aneh.
‘Kenapa mereka melihatku seperti itu? Apakah tak pernah melihat orang sebelumnya?’ batin Tris mengalihkan pandangannya kembali keluar jendela.
Tak ada yang bisa diajak mengobrol. Huft. Tris hanya menghela nafas panjang. Terdengar suara berisik dari deretan kursi penumpang sebelah. Terlihat ada enam orang duduk disana. Sungguh berisik, tapi itu yang membuatku tersenyum kecil dengan tingkah mereka. Seiringnya waktu berjalan.
“Dari mana, Mba?” celetuk seorang ibu bertubuh mungil salah satu dari mereka.
“Ah iya, bu. Dari Purwokerto. Ibu sendiri dari mana?” tanya Tris sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan.
“Saya dari Jakarta. Ini rombongan. Ke Surabaya ada apa, Mba? Kerjakah?” tanya Ibu itu balik sambil tersenyum.
“Hanya ingin berkunjung ke rumah saudara, Bu” jawab Tris membalas dengan senyuman.
Tris berkenalan dengan mereka semua. Ternyata mereka sebuah keluarga yang akan berkunjung ke sebuah pernikahan di Surabaya. Mereka terlihat ramah. Suasana jadi tak begitu canggung.
***
Ah..badanku semua pegal. Remuk. Selama kurang lebih sembilan jam aku duduk. Belum sampai juga di stasiun Gubeng. Stasiun terakhir berhenti tujuan Surabaya. Aku tak bisa tidur. Tepat pukul 02.00 waktu setempat.
“Akhirnya..” gumamku lirih.
“Akhirnya sampai juga ya, Mba” celetuk seorang anak lelaki anak salah satu rombongan tadi. Entah siapa namanya. Tak peduli.
“Iya” jawabku sopan.
Aku langsung mengambil tas pakaianku, bersiap untuk turun dari kereta. Stasiun Gubeng sudah terlihat dan kereta pun berhenti. Semua penumpang berbondong-bondong ingin segera keluar dari gerbong kereta.
‘Cepat! Cepat!’ hatiku berteriak. Aku ingin segera sampai di rumah saudaraku.
Udara pagi dini hari menusuk tulang rusuk. Banyak sopir taksi menawarkan jasanya.
“Taksi pakai argo, mba mas ?” slih berganti pak sopir taksi menawarkankan. Tepat aku berhenti di depan seorang pria berseragam biru dan bertubuh besar. Aku rasa ini lebih baik.
“Taksi argo, pak?” tanyaku ramah pada sang sopir.
“Iya, mba. Mau kemana?” tanya dia balik.
“Antarkan saya ke wisma Lidah Kulon ya, pak!” jawabku menjelaskan sebuah alamat.
“Baik. Silahkan!” ucap sang sopir ramah sambil membawakan tas jinjingku kedalam taksi.
Perjalan cukup sepi. Ini kedua kalinya kau pergi ke Surabaya. Pertama dengan keluarga. Kedua seorang diri. Hampir saja aku tersesat karena tak tahu arah jalan. Pak sopir juga pelan mencari alamat yang dicari. Ah sebuah perumahan. Tepat aku berhenti di sebuaj rumah tertutup pintu gerbang setinggi dua meter.
Selama tiga hari dua malam aku menginap di rumah itu. Ya sebuah rumah berpenghuni lima orang yaitu saudara-saudaraku. Sungguh menyenagkan bisa bertemu lagi dengan mereka.
“Hey! Apa kabar?” tanya seorang saudaraku sambil memeluk diriku erat.
“Mba Yuni!!! Baik” aku bals pelukkannya. Tapi aku dan dia hanya berbisik karena yang lain sudah tidur. Takut mengganggu.
“Kamu berani ya sendirian ke Surabaya?” tanya Mba Yuni.
“Harus berani! Kalau tidak begini, aku tak akan pernah kemari. Hehe” senyum mengembang di kedua sudut bibirku.
“Ya sudah Istirahat. Hadeuh..kamu bela-belain kesini cuma ingin lihat lelaki itu?” tanya Mba Yuni tak habis pikir dengan inginku.
“Sebenarnya hanya ingin lihat. Sekali saja. Penasaran. Itu saja, sekalian main kan kesini” jawabku sambil menata barang bawaanku. Tak lupa aku juga membawa oleh-oleh khas kotaku. Tempe Keripik dan Mino.
***
Hari kamis tanggal lima Desember 2013. Tepat pukul 18.30. Langit sudah gelap, namun tetap terang benderang banyak lampu jalan, gedung pencakar langit, dan kendaraan bermotor. Kalian tahu apa yang terjadi? MACET. Seorang gadis berambut panjang tergerai, terbalut kaos motif bunga kecil berwarna merah muda dab terbalut celana jeans biru muda. Tas kecil terselempang dibahu dan sepatu coklat melekat di kakinya duduk gelisah di dalam taksi. Jalanan penuh sesak. Cukup lama. Argo juga mulai bertambah angkanya. Hadeuh.
Tepat di pinggir jalan sebuah cafe. Ah tak terlalu besar. Tris mengira ini lumayan besar. Tak apalah. Tris keluar dari taksi dan menuju pintu masuk. Dag dig dug. Itu yang dia rasa sekarang. Sebuah pintu kaca tembus pandang. Seorang pelayan perempuan berpenampilan ala waiters dalam komik jepang. Lucu. Sebuah cafe dengan meja dan kursi tertata rapi. Sebuah panggung mini dan perlengkapan band juga.
‘Ah belum dimulai’ batin Tris melihat sekeliling. Kosong untuk panggung, tapi tidak untuk meja kursi pengunjung cafe. Rame. Bisa dibilang mayoritas perempuan. Mungkin anak SMA, anak Kuliahan, atau ada juga seorang Ibu. Ada yang sedang mengobrol. Ada juga yang sedang mengutak atik kamera.
Tris duduk paling depan. Ah tak kenal siapapun. Aku duduk seorang diri sambil memberi pesan pada saudara kalau sudah sampai tujuan. Seperti orang hilang. Menunggu itu adalah yang sangat membosankan. Penantianku tak sia-sia juga. Tepat pukul 20.30. muncul dua orang host. Mereka berdiri diatas panggung sambil bercuap-cuap. Semua pengunjung riuh bersorak. Yang ditunggu belum muncul.
“Kalian pasti sudah tak sabar menunggu? Benerkan?” cuap seorang dari host.
“Bagaimana kalau kita panggil saja ya? Yang sudah ditunggu-tunggu...” ucap host satunya.
“”JEJE”” Ucap kedua host bersamaan.
Seorang lelaki terbalu kain sperti duffle coat warna biru tua, berdasi dan tak berjambul. Rapi. Jidatnya ituloh?! Hehe..senyum yang menawan yang selalu membuat para Jeje Lovers sebutan para fansnya berteriak histeris. Ah..iya, sebuah acara Showcase solo debut Jeje salah satu personil S4 Boyband yang menjabat sebagai leader vocal S4.
“Oh..ini dia!” gumam Tris pelan. Ya rasa penasaran yang ia bawa dari sebuah dea kecil sudah terobati. Tak sia-sia Tris datang jauh-jauh.
“Halo semuanya!” Sapa Jeje pada semuanya. Jeje Lovers hanya berteriak. Ah tentu tak lupa memotret sang penyanyi ganteng dan suka galau. Hehe..
Jeje menyanyikan beberapa lagu milik penyanyi Indonesia. Dia juga tak sendirian. Ada penyanyi lain sebagai bintang tamu. Kiki Asiska dan Simon (penyanyi baru). Jeje juga berduet dengan Kiki Asiska dengan lagu Day Light by Maroon 5. Ah suaranya sungguh merdu. Benar-benar suara asli tanpa lipsing. Dia juga sesekali turun panggung menyapa para penggemarnya dan menyalami satu persatu.
“Jeje! Jeje! Jeje!”  semua berteriak termasuk Tris di dalamnya.
Dari beberapa lagu yang Jeje nyanyikan. Tris lebih suka pada lagu milik Sheila On 7 berjudul Seberapa Pantas yang Jeje nyanyikan. Andaikan dia menyanyikan lagu Jangan Takut Gelap by SO7 feat Tasya. Pasti lucu.
***
Waktu cepat berlalu. Jeje sudah selesai menyanyi. Acara terakhir adalah sesi foto bareng. Antusias foto bareng lebih heboh. Dibilang heboh juga tidak. Justru ketemu Jeje nya langsung, malah pada malu-malu kucing. Bingung. Mungkin rasa dag dig dug tak karuan yang mereka rasa. Berbagai macam gaya mereka berfoto bersama. Ada yang peluk. Ada yang cium. Ada yang hanya dirangkul dan lain lain.
Giliranku mengambil foto bersama Jeje. Aku mendekatinya dan tersenyum bingung ingin bicara apa.
“Hey..” sapa Jeje dengan senyum mautnya. Ya Tuhan! Lelaki ini tampan sekali. Tanpa noda jerawat. Membuat diriku sedikit iri. Sebagai seorang gadis, mukaku saja tak semulus dia. Hahaha..
“Hey Jeje! Ini buat kamu” ucapku sambil memberinya sebuah bungkusan berwarna merah padanya.
“Ah..terima kasih ya” ucapnya dan menerima bungkusan itu.
“Auw!” aku merintih kesakitan. Tak sengaja jeje menginjak kakiku dengan sepatu boot yang menempel di kakinya. Ah sakit.
“Maaf! Maaf! Maaf! Sakit ya?!” ucapnya mohon maaf. Secara refles dia berjongkok mengelus kakiku yang masih terbalut sepatu. Aduh mas, yang sakit bukan sepatunya, tapi kakinya!
“Tak apa! Sudah tak apa!” ucapku memberi komando padanya untuk berdiri kembali. Tak tega aku melihatnya. Mungkin tak ada artis yang mau seperti itu. Jadi sedikit terpesona dengan kebaikan secuil itu.  
“Benar tak apa?” tanya Jeje memastikan.
“Ya aku baik-baik saja” jawabku sambil tersenyum.
“Ayo difoto!” suara sang fotographer menyuruh kami berfoto.
“Ya”
“Kamu dari mana?” tanya Jeje berbisik sambil memeluk bahuku.
“Dari Purwokerto” jawabku menyamping lihat wajahnya. Wangi tubuhnya sungguh menyengat hidungku. Sebenarnya aku tak suka wangi parfumnya. Tapi tak apalah. Hehe..
“Jauh sekali” ucap dia sambil tersenyum melihat kamera.’
“Sudah siap! Satu. Dua. Tiga..” sang Fotographer memberi aba-aba.
-CEKREK!-
Sebuah foto sudah terjepret lensa kamera. Tinggal menunggu kapan foto itu  jadi. Sebelum pulang aku berfoto ria dengan Jeje Lovers yang lain. Ada yang dari Yogyakarta, Bandung, Pasuruan, Sidoarjo, Semarang juga ada. Mungkin masih ada yang lain. Aku senang sekali.  Memiliki teman-teman baru dari berbagai daerah. Aku juga ingin bertemu S4_US yang lainnya. Aku juga ingin bertemu Firly, Alif dan juga Arthur. Hmm..pasti lebih menyenangkan.
Sudah malam. Aku harus pulang. Taksi yang ku pesan juga sudah menungguku. Tak sia-sia aku datang. Aku senang mendapat sebuah sovenir boneka mini dari Jeje langsung. Hanya beberapa yang dapat. Walaupun tak seberapa berharganya, tapi pemberinya itu yang membuat senang. Hehe..
Pulang bukannya senang malah sakit. Ya sepulang dari sana aku mengalami Masuk Angin. Terlalu banyak angin malam yang masuk. Mau tak mau selama sehari aku harus tinggal didalam rumah tak kemana-mana. Menyebalkan! Ah tak bisa mengantar Jeje di bandara. Untungnya, ada seorang teman baik hati yang memberi kabar saat mengantar Jeje  bersama Jeje Lovers yang lain di Bandara. Betapa terkejut diriku bahwa hadiah pemberianku oleh Jeje dipakai saat pulang ke Jakarta. Oh senangnya! Rasa sakit jadi hilang seketika. Terima kasih mas Jeje J
***
Langit kembali cerah. Awan putih menyapu langit juga terlihat. Matahari juga mulai menampakkan sinarnya. Sedikit. Aku harus pulang. Pulang ke Purwokerto. Selama tiga hari di Surabaya sangat menyenangkan. Betah. Aku diantar saudara ku Mba Eny ke stasiun Gubeng. Sebuah stasiun lumayan besar. Aku dan Mba Eny sudah berada di depan pintu masuk.
“Hati-hati ya! Salam buat bapak dan Ibu” ucap Mba Eny sambil mencium pipi kanan kiriku.
“Iya mba. Ah aku masih betah disini!” balasku mencium pipinya. Sedikit kecewa.
“Kapan-kapan main lagi?! Eh, tahun depan di Purwokerto ada yang buat acara tidak?” tanya Mba Eny sebelum aku pergi.
“Maksud mba, seperti hajatan begitu?” tanyaku memastikan.
“Iya. Siapa tahu ada yang menikah” jawab Mba Eny tersenyum.
“Aku..mungkin. hehe..sepertinya tak ada mba. Belum ada acara hajatan” ucapku bercanda.
“Amin. Semoga saja ya, Tris!” sahut mba Eny tertawa.
-Kereta akan segera berangkat dalam lima belas menit lagi...-
“Sudah dulu ya mba. Bye...” ucapku melambaikan tangan meninggalkan mba Eny disana. Waktunya pulang. GO HOME SWEET HOME!!!!
Sampai jumpa lagi Surabaya!!!
‘PURWOKERTO...TRIS DATANG!!!’ teriakku dalam hati. Senyum tipis mengembang dibibir manisku.
Sebuah kisah yang mungkin oleh orang lain tak penting. Tapi, bagiku ini adalah sebuah perjalanan yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sebuah kenangan kecil yang sewaktu-waktu harus ditengok kembali. Hanya untuk mengingatkan saja bahwa dulu itu pernah terjadi padaku.

END.

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE