You are My Destiny
Anggi Pov.
Perkenalkan, namaku Anggi. Aku
seorang desaigner pakaian. Ya bilang saja, aku terlahir dari keluarga
konglomerat dan memiliki wajah cantik bak boneka barbie. Aku sangat terkenal
dibidangku. Apabila aku berjalan, semua mata tertuju pada gaya berbusana dan
kecantikan diriku.
“Tak ada yang bisa mengalahkan
pesonaku!” gumamku sombong.
Aku berjalan layaknya seorang
model kelas atas dengan gaya elegan nan anggun.
‘Apa?! Dia tak
sedikitpun melirikku?! Cih..’ batinku syok melihat sosok pria tinggi tegap
bersetelan jas dan tampan rupawan.
Dia tak
menoleh padaku. Aku heran dengan diriku yang mengaguminya. Ah tidak! Ku rasa
salah. Lebih tepatnya, aku menyukainya melebihi siapapun. Baru kali ini, aku
menemui pria seperti dia.
“FIRLY!!”
teriakku pada sang pria yang ternyata adalah Firly. Dia seorang asisten andalan
direktur TriS Corp. Aku sudah mengenalnya sejak kejadian memalukan yang kita
alami tempo dulu.
Firly sempat
membalikkan tubuhnya dan tersenyum malas, namun dia kembali berpaling
meneruskan langkah kakinya.
“Yak!!! Kau mengabaikanku?!” teriakku lantang.
Aku hampir saja melupakan harga diriku sebagai seorang desaiger. Oh! Sungguh
malunya. Semua mata menatap tajam diriku.
“Kau selalu
membuatku seperti ini” gumamku berlari kecil menyusul Firly.
***
Firly Pov.
Gila
saja! Aku harus meladeni sikap Anggi yang sedikit kekanakan. Ah..tidak sedikit,
tapi banyak. Sejak kejadian itu dan dia mengajakku bertemu di cafe, kami jadi
sering bertemu. Lebih tepatnya, Anggi selalu tanpa permisi datang menemuiku ke
kantor. Tak pernah sekalipun mengetuk pintu ke ruangan kerjaku, langsung
menyelonong begitu saja. Dia kira ini tempat bermain apa?! Aish...
“Kenapa
kau malah meninggalkanku begitu saja?!” tanya Anggi mensejajarkan langkah
kakinya denganku.
“Kenapa
kau selalu kesini? Tak ada hal lain yang kau kerjaan apa?!” aku balik bertanya
tanpa menjawab pertanyaan Anggi. Aku sedikit kesal karena dia mengganggu jam
kerjaku.
“Karena
aku tertarik padamu!” jawab Anggi tanpa ragu. Dia menatapku lekat penuh percaya
diri. Aku membalas tatapan matanya. Aku tak bisa berkata lagi. Oh Tuhan! Kenapa
aku bisa menyukai wanita seperti dia? kenapa?
Aku
melanjutkan langkah kakiku menuju ruang kerjaku dan meninggalkan Anggi disana.
Aku heran dengan perasaanku sendiri. Aneh.
-Drrrttt-
suara getar smartphone milikku.
“Siapa
lagi ini?!” gumamku kesal menyentuh layar smartphonenya. Ada pesan. Tak ada
nama, hanya nomor tak dikenal tertera disana. Ku membuka pesan yang ia terima.
~~~
Temui aku di sebuah rumah jalan cendrawasih No.9! ada sebuah pohon besar
bertengger tepat disebelahnya. Jam 4 sore. Kau harus datang!!! Anggi~~~~
“Bagaimana
dia tahu nomor teleponku?” ucapku membalikkan tubuhku mencari sosok Anggi.
“Bye!
Aku akan menunggumu disana!” teriak Anggi melambaikan tangannya meninggalkan
gedung kantorku.
“HEY!!
Kau..kau..! huft..” ucapku menghela nafas panjang. Ingin sekali aku tak datang,
tapi entah kenapa dia selalu membuatku penasaran. Apa lagi yang akan dia
lakukan?!
***
Firly
menghidupkan motor sportnya. Dia tak mengendarai mobilnya saat itu. Mungkin
terlihat simple menggunakan motor daripada mobil. Tepat jam 4 sore, firly baru
keluar dari ruangan kerjanya. Dia menepati janji menemui Anggi sesuai alamat
yang diminta. Sore itu cukup cerah untuk bermain atau sekedar duduk-duduk
menikmati cuaca sore hari.
Firly
menhentikan motornya tepat di sebuah rumah sederhana dan disekilingnya penuh
dengan taman bunga. Banyak anak kecil berlarian kesana kemari di pekarangan
rumah. Dia melihat papan nama disana.
“Panti Asuhan
Sinar Kasih” gumam Firly membaca papan nama itu. Dia melihat sekitar, tapi
belum menemukan sosok Anggi yang ia cari. Firly sedikit berbeda dengan
penampilannya. Dia sudah berganti pakaian sebelum datang ke Panti asuhan.
Blazer warna coklat tua menutupi kaos putih polos yang ia kenakan. Dia juga
mengenakan aksesoris kalung dan sepatu kets andalannya bila diluar kerjaan.
Dia
berkeliling mencari Anggi. Langkahnya terhenti melihat sosok yang ia cari.
Anggi terlihat bahagia sedang bermain bersama anak-anak panti. Tertawa bersama
layaknya seorang kakak dengan para adiknya. Firly hanya tersenyum melihat
tingkah Anggi.
“Hhe..dia
selalu membuatku terkejut” gumam Firly masih berdiri disana.
“Kakak?
Kakak, apakah ingin bermain?” celetuk seorang anak kecil menarik celanaku.
“Ah,
peri manis! Baiklah, kakak temani kalian bermain” ucap Firly berjongkok sambil
mengelus kepala anak balita itu. Lucu sekali.
Sang
anak menarik tangan Firly menghampiri kerumunan anak-anak. Anggi yang sedari
tadi tak melihat kedatangan Firly merasa terkejut.
“Kau
datang juga! Oh Tuhan! Kau terlihat tampan sekali” ucap Anggi senang melihat
penampilan Firly yang berbeda. Wajah Anggi belepotan penuh dengan cat warna.
Anggi dan anak-anak lain sedang melukis pohon dan kupu di tembok rumah panti.
Mereka sangat senang.
“Kenapa
kau tak bilang, kalau kita akan berkunjung kesini?” tanya Firly ikut
mengayunkan kuas ke tembok.
“Jika ku
beritahu, kau akan menganggapku tukang pamer. Aku tak suka itu! aku ingin kita
bersenanng-senang disini!” jawab Anggi. Tahu wajahnya belepotan masih saja dia
mengusap wajahnya dengan tangannya yang kotor.
“Lihat
wajahmu!” ucap Firly mengusap wajah Anggi dengan tangannya. Anggi cukup
terkejut dengan perilaku Firly padanya.
“Ah, terima
kasih” ucap Anggi tersenyum kikuk setelah Firly menjauhkan tangannya dari pipi
Anggi.
Firly tak
menyangka sesosok Anggi mengajaknya kesini, bukannya pergi ke tempat seperti
mall ataupun restoran mewah. Dia baru tahu bahwa Anggi sangat berjiwa sosial,
walaupun terkadang Anggi sedikit egois dan kekanakan.
“Hhe..aku
bahagia bila melihat mereka senang seperti sekarang. Ayo peri cantik, cap
tangan mungil kalian disini!” ucap Anggi lagi. Dia menggendong salah satu
balita, membantu anak itu menempelkan tangannya yang penuh warna cat ke arah
tembok.
“Apakah
kau juga ingin melakukannya?” tanya Firly pada anak yang lain. Mereka
bersemangat melakukan itu. Anggi dan Firly menikmati kebersamaan mereka saat
itu.
Awan
semakin jingga. Waktu sangat cepat berlalu. Sore itu sudah mulai gelap
menjelang malam. Firly dan Anggi duduk bersebelahan di ayunan.
“Kau lelah?”
tanya Anggi pada Firly.
“Ah..” angguk
Firly.
Belum ada kata
terucap kembali dari mulut mereka. Tak seperti biasanya, Anggi diam seribu
bahasa.
“Maaf, Fir!
Aku selalu mengganggu kehidupanmu. Aku tahu kau merasa terganggu dengan
kehadiranku beberapa hari ini. aku hanya ingin kau selalu mengingatku!” ucap
Anggi pelan memandang Firly.
“Ah..” Firly
menatap lurus ke depan.
“Yakk!! Kenapa
kau slalu bilang ah dan ah?? Aku pertegas lagi! Aku menyukaimu. Datanglah
bersamaku besok ke acara Fashion Week Festival! Besok malam!” ucap Anggi. Dia
selalu saja memaksakan kehendak hatinya. Dia pergi meninggalkan Firly yang
masih duduk di ayunan.
“Jika aku tak
datang?” sahut Firly yang sedari tadi tak bergeming. Anggi menghentikan langkahnya
tanpa membalikkan tubuhnya.
“Jika kau tak
datang. Di saat itulah aku menyerah mendapatkan cintamu” ucap Anggi sebelum dia
meninggalkan Firly sendiri.
Anggi pergi
tanpa menghiraukan Firly disana. Dia sudah mantap dengan keputusannya.
“Suka sekali
dia mempermainkan hati orang” gumam Firly menatap kepergian Anggi. Dia
tersenyum melihat Anggi yang tertawa bersama dengan anak-anak panti dari sana.
***
Fashion Week
Festival telah digelar. Banyak desaigner dan artis datang ke acara itu. mereka
berbondong-bondong memamerkan gaya berbusana mereka di atas karpet merah. Sorot
lampu kamera selalu berkelip memotret setiap tamu undangan yang datang.
Sebuah mobil
mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu masuk yang sudah tergelar
karpet merah. Terbukalah pintu mobil itu, muncul sosok seorang pria bertaxedo
hitam turun dari mobil. Dia tak sendirian dia memberikan tangannya kepada
seorang wanita bergaun panjang warna senada dengan sang pria. Wanita itu begitu
anggun. Mereka berjalan berdampingan melewati karpet merah bak seorang pangeran
dan putri. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
“Aku kira kau
tak datang” gumam Anggi sang wanita. Dia melingkarkan tangannya di lengan
Firly. Dia melambaikan tangan ke arah wartawan.
“Apakah kau
berharap aku tak datang?” tanya Firly berbisik. Dia pun tersenyum pada
wartawan.
“Aishh!! Kau
ingin aku cium disini ya?!” ucap Anggi gemas tersenyum pada Firly.
“Kau gila!
Jangan macam-macam!” ucap Firly gelagapan.
“Biar semua
orang tahu bahwa kau kekasihku!” gumam Anggi jail.
“Apa-apaan kau
ini?!”
“Benarkah tak
ingin?” goda Anggi.
“Sssttt!!!”
Firly memberitanda agar Anggi diam. Oh Tuhan! Mereka memasuki gedung untuk
melihat acara yang sedang berlangsung.
Pada akhirnya,
mereka menjalani hubungan ini. Antara seorang karyawan biasa dengan seorang
desaigner terkenal. Mereka harus kuat menjalani hubungan ini, walaupun banyak
orang yang pro dan kontra dengan hubungan mereka karena Anggi seorang publik
figur. Cinta tulus yang dapat mempertahankan kisah mereka. Tanpa ada rasa itu,
semua tak akan sampai disini.
The End
Comments
Post a Comment