Jam Berbunyi TIK...TOK..
London. Pukul
17.00 waktu setempat. Aku terus berlari penuh semangat. Uap dingin terus keluar
dari mulutku yang terengah-engah dengan nafas tak karuan. Kenalkan, aku Anggi
dan seorang mahasiswa. Umurku 23 tahun. Terkadang aku juga harus kerja part
times untuk tambahan uang jajan. Ah, aku harus cepat! Seseorang menungguku.
Raut wajahku sedang bahagia sekali seperti sedang dilanda asmara. Aku tak
berkomentar dengan baju yang ku kenakan. Sangat berat baju hangat yang ku
kenakan. Musim dingin segera berlalu, aku tak ingin terlambat. Langkahku
terhenti tepat di bawah menara jam London. Jam raksasa yang akan berdenting
setiap jam 6 sore menjelang malam.
“Ah.Ah.Ah...”
nafasku tak karuan. Aku melihat seorang pria berbaju tebal menatapku sambil
melambaikan tangannya.
“Anggi” ucap
dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menghampiri dirinya.
“Arthur, lama
kah kau menunggu?” tanyaku menatap matanya lekat.
“Tidak. Aku
ingin mengatakan suatu hal padamu” ucap Arthur serius menatapku lekat. Aku yang
dipandangi merasa malu.
“Bisakah kita
bicarakan nanti? Ayo kita pergi dari tempat ini!” ucapku membalikkan badan dan
menarik tangan Arthur.
“Anggi
tunggu!” ucap Arthur menghentikan langkahku. Aku terdiam membisu dan
membalikkan tubuhku.
“Maafkan aku,
Nggi. Kita tak bisa seperti ini terus” Arthur melepas cengkeraman tanganku dari
lengannya.
“Apa
maksudmu?” tanyaku heran dengan sikap Arthur yang berubah drastis.
“Kita akhiri
hubungan kita sampai disini. Maafkan aku, Nggi!” ucap Arthur dengan tatapan
mata datar. Apa maksud dari semua ini?
“Apa salahku
padamu?! Kenapa kau ingin mengakhiri semua?” tanyaku syok mendengarnya. Dia ingin
putus denganku? Padahal hubungan kita baik-baik saja selama tiga tahun ini.
“Maaf..” hanya
kata maaf yang terucap dari bibir Arthur. Tak sedikitpun dia memberikan jawaban
kenapa kita harus berakhir. Arthur menjauh dariku. Dia tak ingin hatinya
berubah lagi setelah memutuskan hal ini.
“Kenapa...KENAPA?!
KENAPA KAU LAKUKAN INI?!?” teriakku. Air mata tak bisa ku bendung lagi. Pipiku
mulai basah penuh air mata menetes. Aku marah. Hatiku sakit.
Arthur sempat
menghentikan langkahnya sejenak. Tapi, ia urungkan niat melihat diriku yang
menangis tersedu-sedu dan benar-benar meninggalkan diriku disana. Tepat jam
enam sore. Awan mulai berwarna abu-abu ditemani awan orange yang muali menipis.
-TENG-TENG-TENG-TENG-
Suara lonceng
jam berbunyi keras. Terdengar sangat jelas di telingaku. Begitu juga jam yang
bertengger di lenganku terus berbunyi.
-tiktoktiktoktiktok-
***
Satu tahun
telah berlalu. Musim pun sudah berganti sampai empat kali. Jam makan siang.
Banyak orang berlalu lalang berjalan tanpa menghiraukan satu sama lain. Anggi
berdiri tepat di depan menara jam London. Pakaian yang ia kenakan tak setebal
dulu. Ya sekarang musim semi banyak bunga mulai bermekaran di pinggir jalan.
Dia pandangi menara jam itu.
‘Heh! Tak
habis pikir kau meninggalkanku waktu itu. Apakah kau masih mengingatku, Thur?’
batin Anggi tersenyum sinis mendongakkan kepalanya ke atas.
Anggi
melangkahkan kakinya pasti. Dia meninggalkan menara jam secepat mungkin. Waktu
terus berputar. Tik tok tik tok. Hatinya telah tertutup rapat untuk pria lain.
Banyak pria yang mendekatinya, tapi ia sama sekali tak menganggap mereka lebih
dari seorang teman. Anggi sudah merasa hancur karena kehilangan orang yang ia
cintai. Namun, dia juga terus menunggu datangnya cinta untuknya. Anggi berharap
ada seseorang datang dan cepat mengambil hatinya. Ia habiskan selama setahun
menyibukkan diri dengan kuliah dan bekerja. Bagaimana ini? Bagaimana? Dia belum
bisa melupakan Arthur.
-TikTokTikTok...-
“Ya!!! Aku
terlambat!” ucap Anggi melihat jam tangannya. Dia berlari secepat dia bisa. dia
berlari membawa kertas-kertas tugas yang harus ia serahkan pada dosen hari ini.
dia harus melewati menara jam setiap kali dia pergi ke kampus.
“Oh Tuhan!
Anggi cepat! Cepat!” gumam Anggi tergesa-gesa.
-BRRAKK!!!-
“HEY!!” teriak
Anggi memanggil anak muda yang menabraknya. Tapi, apa daya. Orang itu telah
pergi tanpa membantu Anggi mengambil kertas-kertas yang berserakan di jalan.
Dia dengan sigap mengambil setiap helai kertas dipinggir jalan. Terlihat
seorang pria ikut bantu memunguti kertas miliknya.
“Terima kasih
banyak!” ucap Anggi menerima sisa kertas yang diambil pria itu. Pria
berkacamata, berambut blonde dan membawa buku ditangannya.
“Sama-sama”
senyum ramah mengembang di kedua sudut bibirnya.
-TENG..TENG..TENG..-
“Hah?!?
Loncengnya berbunyi?” gumam Anggi heran mendengar bunyi lonceng menara jam
berdenting.
“Tak biasanya
locengnya berbunyi disiang hari” ucap sang pria mendongakkan kepalanya melihat
menara jam kota London.
“Ah benar.
Sekali lagi, terima kasih!” ucap Anggi sambil berlalu meninggalkan menara jam.
***
Jam terus berputar
membentuk lingkaran. Tuhan punya kehendak lain yang tak Anggi ketahui. Pria
yang menolongnya tadi siang adalah asisten dosen tempat dia kuliah. Anggi
dibuat terkejut melihat pria itu ketika datang kedalam ruang belajar. Jam
kuliah pun telah selesai sore itu, para mahasiswa berhamburan keluar.
“Tunggu, pak!”
ucap Anggi menghampiri asdos yang akan beranjak pergi.
“Ya?” asdos
menengok kearah suara Anggi.
“Ah kau! Ada
yang bisa saya bantu?” tanya asdos tersebut sambil tersenyum.
“Tidak! Terima
kasih atas bantuan bapak tadi di menara jam. Maaf mengganggu. Permisi!” Anggi segera
pergi karena merasa canggung berbicara dengan asdos yang tak beda jauh dengan
umurnya.
“Tunggu!” ucap
asdos itu menghampiri Anggi.
“Jeje” sang
asdos menyodorkan tangannya tanda perkenalan. Cukup lama tangannya menggantung.
“Apa kau ingin
membuat tanganku lelah?” tanya Jeje bercanda membunyarkan lamunan Anggi.
“Ah maaf. Aku
Anggi” Anggi membalas jabat tangan Jeje.
Mereka
tersenyum satu sama lain.
***
Perkenalan
singkat yang menjadi sebuah takdir. Waktu terus berputar. Anggi dan Jeje selalu
menjalani hari bersama sebagai teman yang selalu membantu. Berdiskusi kuliah
bersama. Hangout bersama. Hari demi hari
perasaan Anggi mulai terbuka. Rasa sakit yang dulu ada mulai memudar dari
benaknya. Harinya berwarna, Jeje membuat hidupnya lebih berarti. Hari dimana
saat itu telah tiba..
Di bawah
langit penuh bintang dan menara jam raksasa yang berdiri kokoh disana. Anggi
dan Jeje berdiri saling menghadap di pagar menara jam.
“Ulurkan
tanganmu!” ucap Jeje pada Anggi.
“Untuk apa?”
tanya Anggi heran menatap Jeje. jeje merogoh saku jaketnya mengambil suatu
benda.
“Ini untukmu!”
Jeje meletakkan sebuah kalung tegantung jam mini bulat seperti kompas ke tangan
Anggi.
“Jam?”
ucap Anggi melihat kalung ditangannya.
“Ku
berikan jam ini untukmu. Jam ini tak akan pernah berhenti berdetik. Bunyi tik
tok akan slalu mengiringinya. Tunggu aku sampai saat itu tiba” jelas Jeje tanpa
memberitahu apa maksud dari ucapannya. Anggi tak bergeming sedikitpun. Apakah
waktu telah habis untuk cintanya?
“Apakah
kau mengerti maksudku, Nggi?” tanya Jeje meminta sebuah jawaban dari Anggi. Air
mata keluar dari pelupuk mata Anggi. Dengan erat ia menggenggam kalung jam
pemberian Jeje.
“Berjanjilah
padaku! Datanglah sebelum jam ini berhenti berdetik! Aku akan menunggu untukmu”
ucap Anggi memperlihatkan kalung jam tergelantung di sela-sela jarinya yang
lentik.
“Baiklah”
Jeje mengusap air mata Anggi. Tak ada kata penyesalan dari mulut keduanya
karena mereka memiliki janji yang harus ditepati. Menara jam menjadi saksi bisu
sebuah janji.
***
Sejak
kepergian Jeje, tak ada kabar darinya. Aku selalu menunggunya di bawah menara
jam. Aku terus menunggunya. Selalu ku bawa kalung jam pemberiannya sebagai
tanda dia akan datang menemuiku lagi. Selalu dan selalu. Waktu berputar. Satu
bulan berlalu. Tiga bulan berlalu. Enam bulan berlalu. Musim terus berganti.
Bulan November. Bulan penuh dengan salju menumpuk. Aku masih terus menunggu dan
menharapkannya. Butiran-butiran salju terus membasahi rambutku.
Jam
17.00 waktu setempat. Ku pandangi kalung pemberian Jeje.
“Aku
selalu berharap kau akan datang menjemputku. Aku akan bersabar” gumamku
tersenyum tipis. Awan mulai gelap. Hawa semakin dingin. Ku kantongi kedua
tanganku ke dalam saku jaket hangatku. Namun, berulang kali ku terus melihat
kalung jamku masih berdetikkah?
-tiktoktiktoktiktok.....tik..tok....tik...tok...-----
Jamnya
berhenti berdetik. Oh tidak! Orang yang ditunggu tak kunjung datang. Harapanku
telah berakhir.
“Kau
tak datang,Je..” gumamku menatap menara jam. Tanpa sadar air mata menetes dari
pelupuk mataku. Tak ada yang ditunggu lagi. Jam ini telah mati. Sudah tak ada
harapan lagi. Aku berjalan meninggalkan menara jam.
“Anggi!”
seoranng pria mengenakan jaket tebal warna hitam dari arah belakang
memanggilku.
Ku
hentikan langkahku sejanak. Siapa? ku mencari mencari orang yang memanggil
diriku. Betapa terkejutnya diriku. Bibirku membeku.
“Aku
datang, Nggi” Jeje datang. Dia menghampiri Anggi sejarak 30cm. Jeje tersenyum
padaku. Sudah tak tahan lagi ku keluarkan semua air mata. Rasa rindu yang sudah
lama ingin ku luapkan selama ini. aku meraung-raung menangis dalam pelukkannya.
“Huuhuuuhuu...bodoh!
bodoh!” gumamku tersedu-sedu dan memberi pukullan kecil di dada Jeje.
“Maafkan
aku telah membuatmu menunggu selama ini” ucap Jeje mengelus kepalaku lembut.
Belum juga dia melepas pelukkannya.
“Jamnya
berhenti berdetik. Aku hampir kehilangan dirimu!” ucapku melepas pelukkannya.
“Terima
kasih mau menungguku. Aku tahu, mungkin aku sangat egois tak memberimu kabar
sampai sekarang. Anggi..apakah kau mau menikah denganku?” ucap Jeje menggenggam
tanganku erat. Raut wajahnya serius. Apakah dia sedang melamarku?
“Ya!”
hanya satu jawaban yang ku berikan untuknya.
-TENG-TENG-TENG-TENG-
Tepat
jam enam sore. Lonceng menara jam berdenting. Kami berdua menyatukan dahi dan
tersenyum bahagia. Bunyi lonceng yang akan slalu ku ingat sepanjang hidupku.
Bolehlah kalung jam pemberiannya berhenti berdetik. Tapi, menara jam ini tak
akan pernah berhenti berputar.
“Terima
kasih sudah menungguku, Nggi. Hmm..aku penasaran, boleh aku bertanya padamu?”
tanya Jeje masih menatap menara jam.
“Tentu
saja” ucapku yang juga memandangi menara jam.
“Kenapa
kau masih menungguku?” tanya Jeje memandangi wajahku.
“Karena
aku berharap kau cepat datang dan mengambil hatiku” jawabku menatap Jeje yang
sedari tadi memandangi diriku.
Bukan
sebuah jawaban yang ku tunggu. Tapi, sebuah kepastian yang aku harapkan dari
dirimu. Dan itu kau buktikan dengan kau datang menemuiku saat ini.
-TENG.TENG.TENG-
The
End
Comments
Post a Comment