Love Cakes (One Shoot)
-klingting..ting..ting-
Bunyi bel
lonceng kecil tergantung di pintu. Setiap orang masuk pasti akan berbunyi suara
lonceng.
“Selamat
pagi!” sapaku memasuki sebuah toko kue yang menyerupai rumah kecil sederhana
dan unik. Banyak kue terpajang di etalase kaca.
Aku Mary. Seorang
karyawan disini. Sebut saja Love Cakes. Pagi ini sangat cerah dan terdengar
suara burung berkicau disela-sela pohon dipinggir jalan daerah tempatku
bekerja. Tiap hari aku selalu bersemangat menyapa setiap pengunjung di toko
Love Cakes ini. Senyum selalu mengembang di bibirku. Tentu ada yang membuat
diriku lebih bersemangat tiap paginya. Tepat pukul 09.00 wib.
“Selamat pagi,
Tuan! Ini pesanan anda seperti biasa!” ucapku menghampiri pengunjung satu ini
sambil meletakkan cheese cake terbalut krim putih berhias sebuah stoberi. Tak
lupa aku sajikan secangkir teh hangat menemaninya.
“Terima kasih”
ucapnya ramah membalas senyumku.
Ah, sungguh
tampan sekali! Aku hanya seorang pelayan toko, tak bisa meminta lebih. Hari ini
dia terlihat tampan sekali. Ah tidak! Setiap hari ku lihat, dia tetap tampan
seperti biasa. wajahnya yang rupawan membuat mata para gadis tertuju padanya.
Mungkin iri. Dia terlihat lebih cantik dari perempuan. Kulitnya putih bersih.
Blazer dan kaos berwarna kalem membuatnya sedikit manly. Orang-orang biasa
menyebut flower boy. Entah kenapa aku selalu menanti kedatangannya setiap pagi.
Selalu aku pandangi dirinya dari balik etalase kue.
“Oh tampan
sekali!” gumamku tak berkedip memandanginya. Cukup lama ku pandangi dirinya.
“Hey! Kau
melamun lagi ya?!” ucap seorang pemuda tinggi tegap berkulit sawo matang
mengenakan baju ala chef sambil memasukkan kue siap saji kedalam etalase.
“Ah..tidak!
kau mencoba resep baru ya?! Boleh aku mencicipinya?” tanyaku mengalihkan
pembicaraan sambil melongok kedalam etalase kue. Aku ingin sekali mencolek krim
yang terlihat enak dimataku.
“Jangan!”
Firly menepis tanganku dari kue yang ku inginkan. Ya dia Firly. Pemuda tampan
seorang petissier sekaligus pemilik toko Love Cakes. Dia juga tak kalah tampan
dengan pengunjung satu itu. Toko Loves Cakes tak pernah sepi karena mayoritas
pengunjung para gadis yang mengagumi sosok Firly dan menyukai kue buatannya.
“Auw! Pelit!”
aku meringis mengelus telapak tanganku.
“Aku akan
memberimu nanti setelah toko tutup. Ini khusus untuk pembeli!” ucap Firly
berdiri disebelahku memandangi setiap pengunjung toko yang datang.
“Huft..nasib!”
aku menghela nafas panjang. Aku kembali menyangga daguku pada kedua tanganku di
atas etalase. Aku menatap kembali sosok pemuda tampan yang sedang duduk sendiri
menikmati cheese cake dan menatap pemandangan luar dari dalam.
“Suka sekali
kau memandangi dia. Cantik!” ucap Firly ikut memandangi pemuda itu.
“Yakkk! Dia
seorang pria, Fir!” sahutku kaget mendengar komentar Firly. Aku sempat melotot
padanya.
“Hhe..aku tahu
dia seorang pria. Maaf. Sejak kapan slalu memandangi dia diam-diam seperti
ini?” tanya Firly masih melihat pemuda yang sedang tersenyum kecil menatap
keluar.
“Entahlah.
Mungkin sejak dia slalu datang kesini setiap pagi. Aku terpedaya oleh
pesonanya!” ucapku masih terpesona dengan pemuda disana.
“Aku rasa dia
sedang menunggu seseorang. Sudah ah! Aku harus membuat kue lagi di dapur” ucap
Firly beranjak kembali ke dapur. Dia memang selalu serius masalah kue.
“Semoga saja
bukan menunggu seorang gadis” gumamku pelan. Sedikit kecewa mendengar apa yang
Firly katakan barusan.
Tanpa ku
sadari Firly memandangku dari balik tirai dapur. Hanya senyum kecil mengembang
di kedua sudut bibirnya.
-klingting..ting..ting-
Seorang gadis
mungil masuk ke dalam toko. Dia terlihat manis dengan rambut pendek ikal
tergerai.
“Selamat
pagi!” sapa pelayan lain pada gadis itu. Dia tersenyum ramah. Ku perhatikan
setiap gerak gerik gadis itu. Manis. Dia tepat berhenti di depan meja pemuda
tampan yang ku pandangi setiap hari. Sepertinya, mereka sudah mengenal sejak
lama.
“Arthur!” sapa
gadis itu tersenyum pada pemuda yang sedang menikmati kuenya. Ah! Arthur
namanya. Arthur menatapnya lama dan sejenak dia tersenyum pada sang gadis.
“JL?!” ucap
Arthur pada sang gadis. JL namanya. Arthur berdiri menatap JL lama.
“Sudah
menunggu lama?” tanya JL pada Arthur dengan tatapan rindu.
“Ah, ya..”
jawab Arthur singkat. Keduanya saling balas senyum.
Aku merasa senang
bisa tahu namanya. Arthur. Pemuda tampan yang beberapa hari ini memikat hatiku.
Tapi, Tuhan berkehendak lain.
***
Malam semakin
larut, jalanan dekat toko juga mulai sepi. Pengunjung toko mulai berlalu pergi.
“Terima kasih
kunjungannya!” ucap Mary pada pengunjung terakhir malam itu. Mary dengan sigap
membalik papan nama yang tertera di depan pintu. Close.
“Huft..akhirnya!
Cukup melelahkan untuk hari ini” Mary menghela nafas dan mengusap keringat di
keningnya.
Karyawan lain
sudah pulang karena giliran dia untuk piket tutup toko. Dia membereskan meja
terakhir yang kotor. Mary duduk bersandar memandang keluar jendela toko yang
belum ia tutup tiranya. Malam terlihat tenang. Lampu –lampu pinggir jalan
menghiasi jalan setapak.
“Melamun
lagi?” celetuk Firly sudah berganti pakaian. Firly menghampiri Mary dan duduk
saling berhadapan.
“Huft..” Mary
menghela nafas lagi.
“Jangan
terus-terusan menghela nafas! Itu tak baik” ucap Firly memperhatikan sikap
Mary.
“Kenapa?”
tanya Mary datar.
“Terlihat
seperti putus asa. Itu bukan dirimu!” ucap Firly menatap Mary.
“Apa ini?”
tanya Mary melihat sepotong cake manis di meja.
“Kue yang ku
janjikan tadi. Kau tak mau?!” Firly menarik piring kecil berisi kue hasil karya
terbarunya.
“Eitss!!! Kau
kan sudah memberikannya padaku!” ucap Mary menarik kuenya. Mary langsung
melahap kue yang Firly buat. Hmmm....
“Rasanya?”
tanya Firly penasaran menatap Mary yang sedang lahap memakan kue pemberiannya.
“Hmm....ENAK!!!”
teriak Mary senang. Dia terus melahapnya.
“Love cake”
sahut Firly pada Mary sambil meneguk secangkir kopi.
“Hm?”
“Love cake.
Kue yang ku buat khusus untukmu. Hanya untukmu” ucap Firly menatap Mary lekat.
Tersontak Mary
mendengarnya. Apakah dia tak salah dengar? Ah tidak! Sejenak Mary berhenti
mengunyah kuenya.
“Enak sekali!”
ucap Mary melahap kembali kue dihadapannya.
“Bodoh!” Firly
hanya tersenyum melihat senyum Mary.
Mereka
menikmati Love Cakes malam itu. Kue yang hanya bisa dibuat dengan rasa cinta
yang tulus. Maka, rasanya akan melebihi rasa kue termahal di dunia sekalipun.
Bulan dan bintang bersinar terang.
End.
Comments
Post a Comment