Cerpen: Hujan part end

Gerimis tak membuatku lelah berjalan. Ini semakin menarik bagiku. Payung masih ku pegang dan tak lupa buku kecil berwarna biru masih ku baca. Berjalan terus tanpa menghiraukan orang yang berlalu lalang. Setiap helai kertas ku baca, tak ada yang terlewatkan.
Toko baju milik seorang kakek dan yang tak ku sangka dia seorang desaigner terkenal di jamannya. Sungguh beruntungnya diriku bertemu orang penting di dunia fashion. Aku pun memberi salah satu hasil karyanya. Sebuah blazer berwarna biru tua. Pas.

Kamis, 10 Oktober 2013
Hey Biru,
Oh Tuhan! Aku hampir saja lupa mengunjungi kakek toko baju.
Kecerobohanku membuat diriku lelah berlari. Hehe..
Kakek kim sungguh hebat! Aku sangat bangga mengenalnya.
.....
Aku juga senang, dia selalu tersenyum setiap kali ku membeli baju rancangannya
Terkadang dia selalu memberiku sebuah bonus
.....
Permen lolipop rasa stroberi yang ku dapat
Katanya, aku sama manisnya dengan rasa permen lolipop itu. hehe..
Pipi ku merona merah...
Terima kasih, Kakek! (-^,^-)

JL

Pasar buah. Banyak pedagang buah disini. Aku melihat banyak buah segar. Warna warni seperti pelangi. Ingin sekali ku memakan semuanya.
“Wahhh!!!! Apel...Bi, saya beli satu kilo ya!” mataku berbinar melihat segunung buah apel merah kesukaanku. 

Minggu, 17 November 2013
Hey Biru,
Cuaca hari ini sangat cerah. Hari minggu yang ku tunggu-tunggu
Ibu mengajakku ke pasar buah dekat rumah
Aku sungguh takjub. Mataku tak berhenti melihat sekelilingku
Penuh dengan BUAH-BUAHAN
.....
Ibu mengajakku ke subuah toko buah milik bibi Salma
Katanya, buah disana terkenal manis dan segar
Aku tadinya tak percaya, tapi...
Survei membuktikan! ENAK SEKALI!! (>,<)
Jeruk dan Apel...keduanya ku suka. Suka. Suka. Sukaaaaaa sekali...

JL


Aku mengunjungi setiap tempat yang tertulis di buku biru. Aku juga berkunjung ke toko Sepatu, Toko ikan hias dan sebuah Taman kota.
“Ah sudah sore!” pekikku melihat jam bertengger di lengan tangan.
Waktu cepat berlalu. Awan sudah mulai menguning dan menjelang malam. Hujan masih saja membasahi bumi. Aku berlari menuju halte bus dekat sebuah gedung sekolah.
“Halte inikan tempat dimana aku menemukan buku biru ini?!” gumamku mengingat dan melihat buku biru di tanganku.
Belum selesai ku membacanya. Halaman terakhir membuat hatiku penasaran. Ku buka lembar terakhir yang terisi goresan tinta hitam.

Senin, 16 Desember 2013
Hey Biru,
Ah..hari ini hujan
Hujan yang tak kunjung berhenti
Ini membuat diriku harus menunggu lebih lama sebuah bus
Dan yang membuatku kesal, aku tak membawa payung!
Aku hanya bisa berteduh di halte sampai bus datang. Huft....
......
“Ah..Dia tak meneruskan tulisannya. Siapa dirimu?” aku tutup dan menaruh buku biru dipangkuanku.
Aku duduk menunggu bus datang. Hawa dingin semakin lama menusuk tulang. Ku tutupi tubuh dengan kedua tanganku. Sepi. Banyak coretan dinding halte tempatku menunggu. Untuk menghilangkan jenuh, ku baca setiap coretan disana. Hanya senyum tipis mengembang di sudut bibirku. Mataku tak berkedip tertuju pada coretan besar di sebuah kertas putih yang tertempel disana. Karena menarik perhatianku, ku dekatkan wajah untuk melihat lebih jelas.

PERHATIAN!!!
BAGI SIAPA SAJA..
APABILA ADA YANG MENEMUKAN
BUKU KECIL BERSAMPUL WARNA BIRU
DI HALTE INI
KU MOHON KEMBALIKAN PADAKU
ITU BERHARGA UNTUKKKU
KU MOHON...TERIMA KASIH

JL

“JL? Tulisan ini?!” aku langsung membuka buku biru yang ku pegang sedari tadi. Tulisan tangan yang sama. JL? Penulis buku ini!
“Huft...” helaan nafas panjang menguap dari mulutku. Perasaan tak karuan di hati. Apa ini? Rasa senang atau apalah. Ingin sekali aku bertemu dengan pemilik buku biru ini.
Flash back.
Hari demi hari berlalu. JL masih terus berusaha mencari buku harian miliknya. Setiap hari sepulang sekolah, dia menunggu lama menanti sebuah harapan. Dia berharap ada seseorang yang menemukan bukunya. Hujan juga selalu menemani JL dikala duduk terdiam di halte.
“JL!” panggil Alif dari kejauhan. Alif berlari menghampiri JL berada.
“...” JL tak bergeming. Sepertinya, dia melamun.
“JL? JL!!!!” teriak Alif membuyarkan lamunan JL.
“Alif..” JL menoleh pelan dan kembali ke posisi semula dengan tatapan kosong. Raut wajahnya terlihat sedih.
“Sudahlah. Ayo kita pulang!” ajak Alif ikut sedih melihat sahabatnya bersedih.
“Tapi...”
“Sudahlah! Kau sudah berusaha keras beberapa hari ini. Kau kan sudah membuat pengumuman yang kau tempel di dinding halte. Siapa tahu ada seseorang yang baik hati mengembalikannya untukmu?! Hujan semakin deras. Besok kita cari lagi! Ayo!” pinta Alif sebelum JL melanjutkan ucapannya. Alif menarik tubuh JL dalam rangkulannya. Hujan semakin deras. Hanya satu payung yang Alif bawa. Mereka berlari pulang meninggalkan halte.
Flash Back End.
***
Cuaca hari Sabtu ini cukup mendukung. Ah tidak! Sangat mendukung. Awan berwarna kelabu. Sebentar lagi hujan.
-Tik.Tik..Tiktiktikkk....-
Benar dugaanku. Rintik gerimis mengundang di siang hari. Aku sedang tak bersemangat. Tak peduli air hujan membasahi tubuhku, dengan gontai ku berjalan menuju halte. Ingin sekali rasanya cepat sampai ke rumah tercinta. Walaupun, masih ada rasa sedih kehilangan sesuatu berharga.
“Huft..” menghela nafas  panjang sambil duduk terdiam di bangku halte. “AH!” aku teringat sesuatu. Mataku langsung tertuju pada selembar kertas yang pernah ku tempel di dinding halte. Oh Tuhan! Apa ini?!

Hey JL..
Tunggu aku besok sore di halte ini!
Aku menemukan buku biru milikmu...
J

Sebuah tulisan kecil tetera di sudut bawah kertas pengumunan milikku. Sebuah senyuman langsung tersungging lebar. Rasa bahagia yang kurasakan saat ini.
“Besok? Sore ini!!” aku terus senyum-senyum tak jelas. Aku tak peduli. Aku diam sendiri duduk di halte sampai nanti sore tiba. Sudah tiga kali bus berhenti di hadapanku, tapi ku tak beranjak dari tempatku duduk. Gerimis juga tak kunjung berhenti. Sekalian menunggu dan berteduh.
‘Terima kasih Tuhan! Masih ada orang baik di dunia ini. Siapakah orang baik itu ya?’ batinku sambil menggigit bagian bawah bibir. Harap-harap cemas yang dirasakan. Kakiku tak henti-hentinya ku gerakkan. Rasa gelisah dan penasaran menghantui.
“Kenapa lama sekali jam ini berputar?!” gerutuku agak sebal melihat jam yang bertengger di tanganku.
Pkl 17.00 wib. Tiga jam telah berlalu. Masih gerimis juga. Aku pun masih menunggu orang itu. Oh lama sekali! Hampir putus asa aku menunggunya. Ingin sekali aku menangis.
“Alif...hiks.hiks” gumamku pelan menyebut nama sahabatku. Dia satu-satunya orang yang begitu perhatian padaku sejak kecil. Air mulai menetes keluar dari pelupuk mataku.
“JL?” terdengar sayup-sayup suara berat seorang lelaki menyapaku. Ku mendongakkan kepala. Tepat dihadapanku berdiri seorang lelaki berkaca mata dan terlihat lebih tua dariku. Tampan.
“Ah iya! Siapa kau?” tanyaku penasaran. Aku hampir lupa dengan air mata yang menetes dan masih membasahi pipi.
“Kau menangis?” tanya lelaki itu melihat wajahku kusut.
“Tidak! Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau?” tanyaku lagi tanpa beranjak dari tempatku duduk.
“Ini!” dia menyodorkan sebuah buku kecil bersampul biru padaku.
“Kau?!” aku tersontak kaget melihat dan mengambil bukuku darinya. Diakah orangnya?
“Ini aku kembalikan padamu! Maaf..aku baru tahu kemarin. Aku menemukan bukumu sore itu saat aku menunggu bus disini” dia menjelaskan semuanya. Aku sangat bahagia buku berhargaku telah kembali.
“Terima kasih banyak!” ucapku padanya.
“Terima kasih juga untukmu” sahutnya sambil tersenyum padaku.
“Apa?”
“Ah tidak” jawabnya singkat.
“Arthur” dia menyodorkan tangannya padaku. Ah iya...
“JL” balasku menyapa tangannya. Kami saling tersenyum. Tangan kami cukup lama bertautan.
“JL..” panggil seseorang yang aku kenal suaranya sejak dulu.

“Alif” ku menoleh kearahnya. Arthur pun ikut menoleh melihat kearah Alif. Mata kami bertiga saling bertemu pandang. Sepi. Tak ada yang bergeming. Hanya rintik hujan yang terdengar di telingaku. Apakah ini sebuah awal atau akhir dari sebuah kisah???

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE