Cerpen : Hujan Part 1
Tik. Tik. Tik.
Tikkk....BRESSZZZZ!!!
Air langit
jatuh membasahi bumi. Wangi tanah mulai terhirup oleh hidung. Debu dan asap
kendaraan mulai tak terlihat karena hujan. Awan juga mendung. Aku menunggu bus
di halte dekat sekolah. Terduduk diam menikmati rintik hujan. Aku hanya seorang
gadis biasa. Bukan! Tak ada gadis biasa di dunia ini. Aku bukan gadis biasa.
Percaya diriku mulai kambuh. Aku percaya semua manusia diciptakan memiliki
sesuatu yang luar biasa. Dalam diri manusia itu sendiri. Entah apa itu? aku pun
tak tahu. Sebuah rahasia yang tak akan diketahui oleh manusia. Tuhanlah yang
tahu. Tak ada komentar.
Aku seorang
gadis manis yang mendambakan cinta pertama. JL namaku. Aku bersekolah tak jauh
dari halte bus ini. Hujan. Ya hari ini hujan lumayan deras. Aku suka hujan,
tapi ku tak suka petir. Menyebalkan! Butuh waktu lama aku menunggu bus jurusan
menuju rumah datang. Seperti biasa, aku selalu membawa buku kecil bersampul
warna biru. Ku tulis semua indah dan sedih hidupku. Semua ekspresi ku tuangan
dalam buku ini. Aku asyik sendiri dengan imajinasiku. Penuh angan yang ingin ku
capai. Tak sadar waktu cepat berlalu. Hujan pun mulai reda.
“Sudah reda?!
Ah bus ku!” gumamku menengadahkan kedua tanganku dan melihat awan mulai terang.
Aku langsung masuk tergesa-gesa ke dalam bus tanpa menghiraukan air hujan
membasahi diriku. Masih gerimis.
“Terima kasih,
Pak!” ucapku pada pak sopir tersenyum manis. Sudah kebiasaan.
***
Genangan air
masih membekas. Belum juga surut, hujan deras lagi. Seorang pemuda berlari menuju
halte bus menhindari rintik hujan. Cukup tampan. Putih bersih. Tinggi. Berkaca
mata. Ah berkaca mata bukan berarti kutu buku kan?
“Sial! Hujan
lagi!” gerutu sang pria. Ia menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya karena
hawa dingin.
“Sebaiknya aku
tunggu sebentar!” batinnya duduk di halte.
“Apa ini?”
gumamnya merasa ada sesuatu yang ia duduki. Tangannya meraba sebuah benda
kecil.
“Buku? Milik
siapa ini?” gumamnya melihat sekeliling tak ada seorangpun kecuali dirinya.
Halte sudah sepi. Ia melihat buku kecil bersampul warna biru. Tak ada yang
spesial untuknya, tapi ia sedikit penasaran denga isinya. Namun, ia urungkan
niatnya membuka buku itu.
“ARTHUR! ayo
ikut aku!” teriak seorang pemuda dari seberang jalan dengan motornya. Arthur
namanya.
“Ah bang Jeje!
Hey!” teriak Arthur melambaikan tangan. Dia menyeberang jalan menghampiri Jeje
kakaknya. “ Untung bertemu abang disini” ucap Arthur tersenyum.
“Ayo pulang!”
ajak Jeje. Mereka pergi meninggalkan halte. Arthur masih menggenggam buku itu.
***
Wahhhh!!! Pagi
semua. Cuaca cukup bersahabat hari ini. JL berangkat sekolah seperti biasa. dia
belum sadar juga buku kecil miliknya berada. Dia senang saja seperti tak
terjadi sesuatu. Langkah kakinya mengiringi jalan setapak pinggir jalan.
“Pagi JL!”
sapa seorang pemuda berseragam sama seperti JL. Senyum selalu mengembang di
bibirnya.
“Alif! kapan
kau berubah jadi alim?” ucap JL melihat Alif sahabatnya yang selalu lompat sana
sini. Kelinci kali. Haha..
“Terserah aku!
Wekkk!” sahut Alif menjulurkan lidahnya tanda tak peduli. Dia berlari dengan
semangatnya. Pelari tangguh kali ya?
“Hey, tunggu!”
JL menyusul Alif yang sudah jauh darinya. Alif terus saja berlari tak
menghiraukan JL. Dasar anak abg!
Koridor
sekolah mulai sepi. Para siswa sudah rapi duduk di meja kursi masing-masing
untuk menerima pelajaran jam awal. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing
termasuk JL.
“Apa yang kau
cari? Dari tadi sibuk sendiri tak karuan” tanya Alif penasaran melihat JL sibuk
mengacak-acak isi tasnya.
“Buku, lif.
Buku biruku!” jawab JL masih sibuk
mencari.
“Buku?” Alif
hanya mengernyitkan kedua alisnya.
“Iya buku!
Buku yang sering kemana-mana aku bawa. Aku tak pernah lupa membawanya. Dimana
ya?!” umat JL sedikit kesal barang yang ia cari tak ketemu.
“Kau taruh di
kamarmu kali?! Kau kan pelupa!” ucap Alif asal.
“Tidak, Lif! Aku
tak pernah sekalipun membukanya setelah...Oh My God!” sebelum JL menyelesaikan
ucapannya, ia menepuk jidatnya mengingat sesuatu.
“Ada apa? Kau
ingat sesuatu?” tanya Alif beruntun. Ia cukup penasaran juga. Lelaki rempong.
Haha.. bercanda.
“Halte!
Sepertinya tertinggal disana. Bagaimana ini?!” gusar JL. Itu buku hariannya.
“Ah kau ini!
sungguh ceroboh sekali! Ciks..” decak Alif menggelengkan kepala, dia tak heran
dengan sifat ceroboh JL.
“Bagaimana
ini? bagaimana?” hampir saja JL mau menangis.
“Tenanglah! Pasti
ada orang yang menemukannya. Semoga saja orang itu mengembalikannya untukmu”
ucap Alif lembut menenangkan JL.
“Semoga..”
gumam JL pelan.
“Hujan” Alif
melihat luar kelas, rintik hujan jatuh membasahi halaman sekolah.
Pelajaran
telah dimulai. Hujan pun menemani. JL masih saja kepikiran dengan bukunya.
***
Hari yang
sama. Cuaca yang sama. Hujan. Di sebuah rumah sederhana terlihat berantakan.
Tak tertata rapi. Banyak kardus bertumpuk berisi perabotan rumah. Terlihat dua
pemuda membuka kardus-kardus keluar dari tempatnya.
“Arthur, kau
bawa barang-barangmu ke kamar! Aku mau beres-beres di dapur sebentar. Besok
harus sudah rapi semua!” jelas Jeje sambil membawa kardus yang lain kearah
dapur.
Ah pindahan.
Ya mereka penghuni baru rumah itu. Mau tak mau mereka harus tinggal. Jeje kakak
Arthur harus bekerja di Purwokerto. Sedangkan, Arthur harus ikut Jeje pindah
dan kuliah di kota ini. Jeje tak mau adiknya sendirian disana karena orang tua
mereka berada di luar negeri. Arthur cukup kuat membawa kardus ukuran besar
menaiki tangga.
-Klik-
Suara pintu
kamar terbuka. Terlihat berantakan. Ya maklum belum dibersihkan.
“Huft!
Tambahan ekstra tenaga. Semangat, Thur!!!” ucap Arthur mengangkat kedua
tangannya yang mengepal. Dalam hitungan detik, dia langsung beres-beres
kamarnya sesuai keinginannya. Tempat tidur, meja belajar, rak buku, dan
lainnya.
“Wow!
Akhirnya...” arthur merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan menghela nafas
panjang. Sungguh menguras tenaga. Dia menengok kearah jendela yang terbuka
melambai-lambai terkena angin.
“Hujannya belum
reda juga. Ah?!” gumam Arthur.
Tiba-tiba saja
dia teringat sesuatu, dengan sigap dia merogoh tas ranselnya dan mengambilnya.
Buku kecil bersampul warna biru. Arthur masih penasaran dengan isinya. Salahkah
dia membukanya? Inikan bukan miliknya? Ah banyak tanya dibenaknya. Dia acuhkan
pemikiran itu. Pelan namun pasti. Dia membuka halaman pertama buku itu.
My
Memory...JL
“Tulisan
tangan yang indah. Ah buku harian” gumam Arthur melihat tinta hitam merajut di
buku itu. Senyum tipis menyungging di kedua sudut bibirnya.
“Arthur, cepat
turun! Bantu aku di bawah!” teriak Jeje dari bawah.
“IYA, Bang!
Sebentar!” teriak Arthur balik. Dia tak melanjutkan membaca buku itu. Ia memasukkan
kembali buku itu kedalam tas dan bergegas turun ke lantai satu membantu sang
kakak.
Arthur tak
menyadari seseorang sedang gelisah mencari buku yang barusan ia baca.
***
Beberapa hari
telah berlalu. Arthur masih saja bermalas-malasan di kamar. Hawa dingin hujan
di pagi hari membuatnya menutup kembali seluruh tubuh dengan selimut tebal. Dia
tak peduli karena hari ini libur kuliah. Tidur lagi.
“ARTHURRRRR
BANGUNNNN!!!” teriak Jeje sekeras-kerasnya ketika melihat adiknya masih saja
tidur. Orang yang bersangkutan masih mendengkur.
“ARTHURRR!!”
teriak Jeje lagi. Benar-benar tak mempan. Mungkin ini bisa..
-BYUUUURR!!!-
Siraman air
satu ember mempan membuat Arthur terbangun dari tidurnya.
“BANG JEJE!!!”
teriak Arthur kesal tersontak kaget dan kemasukkan air ke hidungnya.
“Akhirnya
bangun juga. Cepat mandi! Keluar rumah sana! Di rumah saja nanti kau kuper”
ucap Jeje penuh kemenangan yang masih mejinjing ember kosong.
“SADIS! Malas
keluar. Masih hujan, nanti aku masuk angin kalau keluar” ucap Arthur mencari
alasan.
“Iya abangmu
memang SADIS! Banyak alasan kau ini! Terserah kau mau kemana. Aku bosan
melihatmu di rumah” ucap Jeje mengakhiri perang mulut dengan adik kesayangan.
Kalau tak dibegitukan Arthur tak mau mandi. Sabar. Sabar.
-Blam-
“Aishh..basah
semua!” gerutu Arthur mengacak-acak rambutnya yang basah kuyup.
Arthur pun
bergegas mandi dan siap-siap keluar sebelum abangnya menyerocos tak jelas.
“Bang Je, aku
keluar!” pamit Arthur keluar rumah.
“Ya! Hati-hati!”
balas Jeje dari arah ruang televisi.
Gerimis masih
menemani awan pagi itu. Beberapa hari pindah rumah, Arthur belum sama sekali
jalan-jalan keliling kota. Tak ada teman yang ia kenal. Dengan sangat terpaksa
dia mengunakan payung untuk sekedar jalan-jalan menikmati rintik hujan.
“Ah dompet?!”
gumam Arthur teringat dompetnya, apakah ia sudah membawanya? Dia merogoh tas
ranselnya untuk memastikan. Ada. Buku?
“Buku harian
ini? Ah, aku belum membacanya. Maaf ya! Ijinkan aku membaca ya? Silahkan!”
Arthur bicara sendiri. Aneh. Dia buka halaman selanjutnya. Sangat hati-hati ia
membukanya.
Sabtu,
3 Agustus 2013
Hei
Biru...
Betapa
senangnya aku hari ini. Hari sabtu dimana sepasang kekasih menikmati kencan
mereka. Tapi, ini tak berlaku untukku. Huft.. Tak apa! Sore ini terang loh.
Sekarang aku sedang duduk santai walaupun sendirian....
“Wah menarik!”
matanya terus tertuju pada buku biru. Langkah kakinya terus berjalan menuruti
setiap kalimat dalam buku biru. Seperti sebuah petualang kecil. Dia melewati
trotoar yang berderet pohon-pohon rindang. Langkah kakinya berhenti tepat di
depan sebuah toko kecil nan sederhana. Malahan, terlihat seperti rumah kecil.
Dipandanginya toko itu.
....
Mungkin terlihat seperti rumah kecil. Tapi, sebenarnya ini adalah sebuah toko
cakes. Tak banyak orang yang tahu. Mungkin, karena tempatnya yang terpencil.
Hanya orang-orang spesial yang datang kesini. Namanya Love Cakes. Banyak cinta
disini...
“Love Cakes?
Ah, benar toko ini” gumam Arthur melihat papan nama di rumah itu. Dia masuk
kedalam toko. Payung yang ia kenakan, ia tanggalkan di pinggir pintu.
-Klinting..ting..-
Bunyi lonceng
kecil ketika orang memasuki ruangan.
“Selamat
siang!” sapa ramah seorang pelayan sambil mempersilahkan Arthur duduk.
“Siang!”
Arthur langsung menuju tempat duduk dekat jendela kaca yang masih kosong. Pemandangan
luar sungguh terlihat jelas.
“Anda ingin
pesan apa?” sang pelayan tersenyum dan menawarkan menu serba kue dan minuman.
“Aku mau pesan
cheese cakes dan hot chocolate. Terima kasih” jawab Arthur langsung memesan
tanpa melihat buku menu.
“Baiklah. Tunggu
sebentar. Terima kasih!” ucap pelayan meninggalkan meja Arthur setelah menerima
orderan.
...
Cheese cake, kue yang paling ku suka. Aku selalu minta ini ke penjual kue.
Cheese cake disini sangat enak. Hot chocolatenya juga enak. Ya bisa menemani
disaat hawa dingin. Rasanya berbeda dengan toko lain. Sungguh istimewa. Aku
duduk sendiri di tepi jendela kaca. Semua terlihat disini. Memang tak terlalu
banyak orang berlalu lalang. Tapi, aku suka tempat ini. Tidak berisik!...
“Ini pesanan
anda, Tuan” pelayan tadi menaruh cheese cake dan hot chocolate di meja. Mata
Arthur tertuju pada secangkir hot chocolate dihadapannya. Hawa dingin hujan
membuatnya ingin sekali meminumnya.
“Terima kasih”
ucap Arthur tersenyum. Tak lupa dia membenarkan kaca mata bertengger di
hidungnya.
Arthur sendirian.
Dia menatap lama keluar jendela kaca. Benar yang dikatakan penulis buku ini, tidak
banyak orang dan tak berisik. Dia sungguh menikmati hal ini dan melanjutkan
membacanya.
...
Bagaimana aku tak bentah kemari?! Ada seorang pettisier tampan disini. Manis
sekali. Kue buatan dia juga enak. Ketampanannya tak mengalahkan keahliannya
membuat kue. Dia juga sangat ramah terhadap pelanggan. Oh Tuhan! Tapi, seribu
sayang aku mendapat kabar burung kalau dia sudah memiliki seorang kekasih. Ah
patah hati. Huft...tak apalah! Aku akan sering kesini sekedar untuk menikmati
cheese cake lagi dan lagi! (^.^)
JL
“Haha..patah
hati dia! Kasihan juga. Orang yang bersemangat” tawa Arthur membacanya. Dia
juga menikmati cheese cake dan menyeruput hot chocolate miliknya.
“Hmm..enak
juga” gumam Arthur setelah mencicipi kue dihadapannya.
“Terima kasih.
Ini pesanan anda!” sahut seorang pria muda berpakaian koki tersenyum manis
memberikan bungkusan kue pada pelanggan.
Arthur
mengamati koki itu sekilas. Tinggi tegap. Berkulit sawo matang. Senyumnya juga
menawan.
“Permisi mba.
Mau tanya, dia itu siapa ya?” tanya Arthur pada seorang pelayan menunjuk koki
yang ia lihat.
“Ah itu. Dia
pak Firly, pettisier sekaligus pemilik toko kue ini” jawab pelayan tersenyum
ramah.
“Oh..terima
kasih” ucap Arthur puas dengan jawaban sang pelayan.
“Ternyata
benar. Menarik. Ciks..tampan darimana?! Masih lebih tampan aku!” decak Arthur
tak rela ada yang lebih tampan dari dirinya. Sirik!
Hujan belum
juga reda. Gerimis. Arthur masih menikmati kue toko Love Cakes.
***
Comments
Post a Comment