Am I Ghost? chap 4
Tangan dan hati berkata lain. Tanganku menyentuh setiap inci wajah devin.
Alis...’alis yang tebal’. Mata...’bulu mata yang lentik’. Hidung...’hidung yang
mancung’. Bibir...’ bibir merah tanpa ternoda rokok’. Aku sedikit tergoda
ketika menyentuh bibirnya. Entah apa yang membuat diriku berani. Tubuhku
mendekat kearahnya. Wajah kami hanya berjarak lima sentimeter. Sangat dekat!
Mataku tertuju pada bibir merahnya. Ku pejamkan mata sesaat. Dekat... semakin
dekat... dan... bibirku mengarah pada dahinya. Aku mengecup dahinya pelan.
-cup-
“Selamat malam Devin!” gumamku menjauh dari tubuhnya dan tersenyum.
Dalam sejenak senyumku langsung menghilang. Pupil mataku membesar. Otakku
kembali bekerja sekarang.
‘Oh Tuhan! Apa yang aku barusan lakukan?!” batinku menjauhkan tanganku
dan menggelengkan kepala berulang kali. Ini gila! Aku sudah tak waras. Aku menggigit
bibir bawahku takut dan menghilang.
-Wush!-
“Aku bisa merasakannya, Bodoh!” gumam Devin masih menutup matanya dan
kembali tidur.
***
Sudah tiga hari berlalu. Malam menjadi pagi dan pagi menjadi malam. Awan
sudah terlihat hitam pekat diselimuti cahaya lampu kota yang mulai menyala.
Pukul 19.00 wib.
Sebuah gedung menjulang tinggi di sebuah kawasan elit, kawasan gedung
rumah produksi besar menaungi banyak artis yang sedang naik daun. Salah satunya
adalah gedung JS Entertaiment. Terlihat seperti biasa banyak fans sedang
duduk-duduk dipinggir jalan menunggu para idolanya datang. Sebuah ruangan
lantai tiga, terlihat ada sebuah lukisan
ikan paus berukuran besar terpampang di dinding, sebuah meja berbentuk oval
panjang dan deretan kursi mengelilingi meja berbahan kayu itu. Ruangan tak
kosong, terlihat dua orang pria sedang duduk berhadapan yang terhalang oleh
meja. Seorang pria tampan mengenakan kaos polos putih tertutup dengan jaket
kulit, celana jins hitam dengan robek dibagian lututnya dan sepatu kets hitam
ia kenakan. Penampilannya terlihat seperti anak motor dengan tatanan rambut
sedikit klimis tanpa poni. Devin. Devin sedikit berbeda untu hari ini. Dia mencoba penampilan barunya untuk debut
albumnya. Ah.. bukan mencoba, dia ingin menjadi dirinya apa adanya. Seorang
lagi yang sedang menatap tajam Devin yang sedang membaca jadwal kegiatannya.
Simon sang manajer bersandar santai pada punggung kursi sambil melipat kedua
tangannya didada.
“Jadwalmu untuk beberapa bulan kedepan akan padat. Semua sudah tercatat,
tinggal kau atur jadwal istirahatmu agar tak terganggu dengan jadwal kerjamu”
jelas Simon mengenai kegiatan Devin sang penyanyi.
“Okey! Good job!” ucap Devin masih meneliti isi kertas yang ia baca.
“Devin...” panggil Simon.
“Hm?” Devin hanya berdehem tak menghiraukan.
“Aku heran denganmu. Aku tahu kau tak bisa menari, tapi... tapi kenapa
kau dengan mudah menari saat pembuatan video klipmu? Hmm.. dalam satu bulan kau
bisa melakukannya dengan lancar. Apakah itu masuk akal? Aku tanya pelatih
tarimu, katanya kau masih kaku setiap sesi latihan. Sebenarnya, kau belajar
pada siapa?” tanya Simon seperti seorang detektif penasaran sambil mengingat
kejadian yang lalu.
Devin menghentikan kegiatan membacanya. Dia mulai tertarik dengan
pertanyaan Simon.
“Hmm.. benar juga katamu. Kenapa aku bisa melakukannya dalam sebulan?
Entahlah” ucap Devin menatap Simon balik.
“Aishh.. Aku yakin kau belajar dengan orang lain, hanya saja aku tak tahu
siapa dia. Aku jadi penasaran siapa orang itu?!” Simon tak puas dengan jawaban
Devin. Malah balik bertanya.
“Ya, memang ada orang baik hati mau melatihku. Ah tidak! Dia tak
melatihku, bisa dibilang dia mau jadi partnerku saat menari. Sudahlah, aku
ingin keluar!” ucap Devin beranjak pergi menuju pintu. “Oh iya, kau tak perlu
mencarinya! Hanya aku yang bisa melihatnya. Bye!” ucap Devin sebelum menutup
pintu dan pergi.
-Blam-
“Hanya dia yang bisa melihat?? Hm? Aneh, bukannya semua orang terlihat
dan hanya hantu yang tak terlihat! Makin lama makin aneh tingkah Devin. Jangan
sampai aku ketularan tak waras! Hii..” gumam Simon bergidik sambil membereskan
berkas dan berlalu pergi.
***
Risa pov.
Di malam yang sama, namun tempat berbeda. Pemandangan indah kelap-kelip
lampu kota bagaikan bintang bertaburan terlihat indah dari atas bukit. Aku
duduk diatas batu besar dengan tatapan kosong. Entah pikiranku kemana, tapi
kenapa yang terlintas justru semua tentang Devin?!
“Tidak! Tidak! Tidak!” gumamku sambil menggelengkan kepala berulang kali.
Gila aku! Perasaan apa ini? Aku..
aku jatuh cinta? Jangan bercanda! Aku tahu, aku bukan manusia seutuhnya. Tapi,
aku juga tak mau mengakui perasaan ini. Karena... aku hantu.
“Hantu? Yakk! Aku bukan hantu!” teriakku kesal berargumen sendiri.
Tak akan ada yang mendengar teriakkanku walaupun banyak pasang mata yang
sedang menikmati malam diatas bukit. Seperti cukup aku menenangkan hatiku yang
mulai kacau. Aku ingin pulang.
-Wush!-
***
Risa kembali ke apartemen dengan langkah gontainya. Sebenarnya sangat
malas pulang, tapi hanya apartemen ini yang bisa ia tuju sekarang.
“Kau sudah pulang. kemana saja kau?” tanya Devin dari atas tangga melihat
Risa di ruang tengah.
“Devin... aku hanya pergi cari udara segar” bohong Risa menutupi
perasaannya yang sedang dilanda asmara.
“Hantu bisa mencari udara segar? Aku baru tahu. Kau terlihat aneh, apa
terjadi sesuatu padamu?” tanya Devin khawatir, turun dari tangga dan duduk
disamping Risa.
“Tidak! Aku baik-baik saja” jawab Risa cepat seperti ada yang
disembunyikan.
“Hmm.. aku tahu” ucap Devin sambil memicingkan matanya.
Devin bersandar santai dan menyalakan televisi. Hari ini dia tak ada
jadwal sibuk karena dia akan sibuk mulai bulan depan. Mereka hanya diam.
Ruangan jadi hening walaupun terdengar suara dari acara televisi. Mereka duduk
satu sofa , tapi jaga jarak. Risa diujung kanan dan Devin diujung kiri.
“Dev...” panggil Risa.
“Hm?”
“Apa... apa kau sudah menemukan data tentangku?” tanya Risa ragu. Dia
merasa ingin segera tahu dimana tubuhnya berada.
“Aku sudah mencarimu kemana-mana, hanya saja sampai sekarang aku belum
menemukan datamu. Apakah kau bukan dari kota ini?” jelas Devin menoleh
kearahku.
“Aku tak tahu...” gumam Risa kecewa karena dirinya tak bisa mengingat
tentang dirinya kecuali namanya.
“Aku belum mencarimu diluar kota. Maaf...” Devin juga merasa kesal karena
orang suruhannya belum menemukan tubuh Risa dimana. Datanya juga masih belum
jelas dan Devin belum mau memberitahu Risa kalau data belum jelas.
“Tak apa, justru aku terima kasih karena kau sudah banyak membantuku.
Maafkan aku, Dev... aku terlalu banyak merepotkanmu dan sudah mengganggu
kehidupanmu” ucap Risa dan tanpa ia sadari air matanya menetes.
“Kau... kau menangis?” Devin terkejut
melihat Risa menangis. Hantu bisa menangis? Devin mendekati Risa duduk
saling berhadapan. Devin terhanyut dalam tatapan Risa dan menghapus air mata
Risa.
“Jika aku seorang manusia, apakah kau masih mau bertemu denganku?” tanya
Risa masih menatap Devin.
‘AKH!’ dada Risa sakit lagi, tapi ia bertahan agar Devin tak mengtahui
rasa sakitnya.
“Tentu..” Devin tersenyum sedikit iba melihat Risa.
“Jika aku bertemu denganmu kembali, apakah aku boleh mencintaimu?” tanya
Risa lagi, kini air matanya tak menetes lagi.
“Ten... a... pa?!?” Devin terkejut mendengar pernyataan Risa. Apa dia
salah dengar? Devin diam seribu bahasa. Lidahnya keluh untuk menjawab.
Tangannya sedari tadi memegang pipi Risa terasa beku.
“Aku mencintaimu...” seutas senyum Risa berikan pada Devin sebelum ia
menghilang dari pandangan Devin.
-Wush!-
Devin tersadar dari lamunannya. Tangannya kosong tak melihat sosok Risa
disana.
“Huft...” Devin menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya dengan
telapak tangannya. Apa yang harus dia lakukan?
***
Devin pov.
Sudah dua hari Risa tak kembali ke apartemen. Kegiatanku juga sedikit
demi sedikit mulai padat. Aku sibuk kesana kemari dengan kegiatanku. Sejak Risa
menyatakan perasaannya, aku tak tahu harus berkata apa, bila nanti bertemu
dengannya. Aku duduk termenung di ruang
meeting seorang diri mengambil waktu istirahatnya yang sebentar.
“Huft...” hanya helaan nafas yang terdengar.
Kepalaku pusing. Bukan pusing karena sakit kepala, tapi dengan hati dan
otak yang bekerja. aku bingung. belum sempat aku menjawab pernyataan Risa. Hati
dan logikaku berkata lain. Hati ini... aku merasakan desiran aneh ketika
bersamanya. Aku merasa menjadi sosokku sendiri saat bersamanya. Risa tak pernah
sekalipun marah dengan sikapku yang terkadang egois dan dia sering membantuku
juga. Sedangkan... Logika? Logikaku berpikir ini tak mungkin terjadi. Aku tak
mungkin menyukai Risa. Dia bukan seorang manusia. Okey! Risa mungkin masih
hidup, hanya rohnya yang terlepas dari raganya. Tak mungkin aku menjalin
hubungan dengan... hantu?
“Oh Tuhan!!!!” teriakku frustasi mengacak-acak rambut.
Aku terus berpikir sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jariku. Kebiasaanku
jika sedang gelisah.
-ceklek-
Suara pintu terbuka.
“Devin, ayo kita ke lokasi show berikutnya!” perintah Simon melongok
ruangan dan menyuruhku segera beranjak dari sana.
“Iya!” ucapku menghentikan sejenak kegalauan hati ini.
Malam semakin larut. Tempat show terakhir untuk hari ini. aku berjalan
menelusuri lorong gedung JS Entertaiment. Ketika ku buka pintu utama gedung JS,
segerombolan para fans langsung menyerbu diriku. Tubuhku terhuyung hampir
terjatuh karena dorongan dan cubitan dari mereka.
“WoW! Sabar! Sabar, gadis-gadis!” teriak Simon melindungi Devin dari
serangan para fans fanatikku.
“Devin, ayo foto bersama kami!” teriak histeris salah satu fans.
“Devin! I LOVE YOU!” teriak yang lain.
“Kak Devin, bolehkah minta tanda tangan?” pinta seorang fans tersenyum
malu padaku.
Aku sangat menyayangi fansku. Tanpa mereka, aku ini bukan apa-apa.
Terkadang aku berpikir fans itu seperti malaikat sekaligus devil. Seperti
malaikat karena mereka selalu membantu dan memantau perkembangan sang idola.
Seperti devil karena mereka bisa mennjatuhkan sang idola seketika itu juga.
Kekecewaan fans terkadang menjadi bumerang bagiku.
“Tentu saja! Sini! Teruntuk siapa?” tanyaku saat mengambil kertas dan
pulpen dari fansku.
“Untuk Zika, kak!” jawab gadis belia berumur 17 tahun merasa sangat
senang disapa diriku.
“Ini” aku menyerahkan kertas tadi dan melayani permintaan tanda tangan
cuma-cuma pada fans setiaku.
Senyum selalu terpatri indah di bibirku. Mataku melihat sekeliling
mencari jalan keluar karena dikejar waktu untuk show. Mata ku terpaku mengarah
pada seberang jalan. Pupil mataku membesar. Aku tak salah lihat! Ada Risa
disana. Kami saling bertemu pandang. Aku ingin sekali memanggilnya , tapi
lidahku keluh untuk berteriak. Mata kami seperti saling bicara. Risa tersenyum
padaku.
‘Risa...’
***
Malam semakin larut dan bertebaran bintang bercahaya. Risa menatap senduh
melihat Devin dari seberang jalan. Dia termenung. Dia senang dapat melihat
Devin kembali. Dia sangat merindukannya. Saat Devin keluar gedung, ingin
rasanya dia memeluknya. Tapi, hati ini berkata lain.
Flash
back.
Suasan
malam sangat mendukung kala itu. Risa duduk manis di tengah taman kota. terlihat
jelas bundaran air mancur menghiasi taman. Risa menatap lurus dengan tatapan
kosong. Entah pikirannya ada dimana. Air mata menetes dari pelupuk matanya.
“Kau
menangis...” celetuk suara yang dia kenal. Si hantu berseragam sekolah.
“...”
Risa masih diam.
“Sekarang
kau tahu, apa arti dari pengorbananmu?” tanya si hantu lelaki tampan yang
bersandar santai melihat kearah air mancur.
“Sekarang...
aku hanya sebuah roh bukan seorang manusia. Andai saja, pertemuan diriku dan
dia tak seperti ini. Andai saja, aku tahu tubuhku berada sekarang. Andai
saja... semua hanya berandai. Apakah takdir buruk ini akan berakhir?” gumam
Risa mencurahkan isi hatinya.
“Aku
hanya hantu. Hantu tak bernyawa dan tak bisa berandai lagi, sedangkan kau? Kau
hanya roh yang jauh dari tubuhmu. Jangan kau berputus asa!” ucap si hantu
berseragam menjelaskan yang sebenarnya.
“Hiks...
sampai kapan?! Hiks.. hiks.. hiks..” gumam Risa sesengukkan menahan tangisnya
yang ingin meledak. Dia menahan rasa sakit di dada. Rasa sakit hatinya.
“AKH!”
Risa memekik kesakitan sambil memegangi dadanya.
“Kau
baik-baik saja? Bersabarlah... kau masih bisa merasakan sakit, mungkin sebentar
lagi kau dapat kembali ke tubuhmu. Kau masih hidup” ucap hantu lelaki
berseragam itu cemas melihat Risa kesakitan sambil menepuk bahu Risa pelan.
“Semoga...”
gumam Risa bersandar pada bangku taman.
Flash
back end.
Risa menyadari tatapan mata Devin mengarah padanya, karena Devin bisa
melihat rohnya. Mata kami saling bertemu pandang. Tubuh Devin terhuyung ke tepi
jalan terkena dorongan dari para fans. Devin tak menghiraukan sekitar, dia
terjatuh terdorong ke tengah jalan. Kebetulan jalan itu terlihat sepi.
“Akh!” Devin mengaduh kesakitan. Terlihat sikutnya sedikit lecet. Dia
berdiri membersihkan pakaiannya dari kotoran debu.
"DEVIN AWASSSSS!!!!” Risa berteriak lantang.
“Risa!” gumam Devin menoleh kearah samping, sorotan lampu cahaya
mendekatinya. Devin terbelalak kaget sebelum bersuara. Cahaya lampu menyelumuti
dirinya.
-Tin..tinnntinnnnnnnnnnnnnnnn-
Suara klakson sebuah truk lepas kendali. Seorang sopir truk mengantuk dan dikagetkan dengan seseorang
berdiri di tengah jalan.
“ARRRRGGGGHHHHHH!!!!” teriak Devin belum sempat dia menghindar.
-Ciiiiiitttttt...-
-BRAKKKK!!-
-tbc-
Comments
Post a Comment