Am I Ghost? chap 3
“Pasangan serasi. Andai saja aku... loh? Aku kenapa?” gumamku heran.
Tiba-tiba saja air mataku menetes begitu saja. Ada apa ini? kenapa?
“Air mata? Kenapa aku menangis? Akhh... dadaku..” tanganku menahan rasa
sakit di dada. Sakit sekali rasanya seperti ditusuk belati. Air mataku juga tak
mau berhenti menetes. Sepasang kekasih itu naik kedalam bus yang baru saja
datang sambil bergandengan tangan.
“Akh! Kenapa aku?” gumamku duduk duduk kembali seorang diri. Aku ingin
pulang. Devin.. sekarang yang ada dalam pikiranku hanya dia. Devin dimana kau?
Aku tak punya tenaga lagi untuk muncul dihadapan Devin.
“Hey, kau...” seseorang memanggil diriku. Aku mengenalnya, si hantu
berseragam sebutan untuknya. Dia duduk disebelahku sambil mengantungi tangannya
di saku jas almamater sekolahnya.
“Si seragam hantu. Akh! Dadaku sakit lagi!” aku sedikit menahan sakit.
“Aku rasa... kau mengenal sepasang kekasih tadi. Apa kau tak
mengenalnya?” tanya si hantu seragam. Dia masih dengan posisinya. Cuek. Aku
hanya menggelengkan kepala tak tahu.
“Hantu itu tak bisa merasakan sakit. Perasaan itu sudah hilang setelah
meninggal dunia. Apakah kau tak menyadari keadaanmu?” tanya si hantu seragam
lagi dan menoleh kearahku.
“Maksudmu?” aku heran mendengar dia bertanya begitu. Raut wajahku
menampakkan rasa ingin tahu maksud dari perkataan si hantu seragam. Aku sungguh
tak tahu. Mataku tertuju padanya yang masih menatapku untuk menunggu jawaban.
“Huft.. terpaksa aku memberitahumu. Sebenarnya, aku tak boleh memberitahu
ini sebelum kau menyadarinya sendiri. Aku tahu kau gadis baik, semoga saja
Tuhan tak menghukumku” ucap si hantu berseragam menghela nafas panjang sambil
menatap langit.
“Yakk! Cepat katakan!” sedikit kesal aku melihat tingkah anehnya. Kesal
juga karena dia seperti tahu segalanya sedangkan aku tidak.
“Kau bukan hantu. Kau itu arwah yang terlepas dari tubuhmu...” jelas si
hantu berseragam.
Aku terkejut dibuatnya. Apa maksud dari semua ini? Aku bukan hantu.
Bukankah aku sama dengannya? Berarti..berati aku masih hidup. Tubuhku? Dimana
tubuhku?
“Risa...!” seseorang menepuk bahuku pelan.
“Devin! Kau...” belum sempat ku bertanya lagi, si hantu berseragam telah
menghilang ketika Devin menepuk bahuku.
***
Suasana jalanan malam mulai sepi hanya bus umum yang masih beroperasi.
Sebuah mobil sport marcedes benz warna putih melaju santai. Mata Devin terus
menantap depan di tempat kemudinya. Dia tak sendiri, ada Risa duduk
disebelahnya. Devin membawa pulang Risa ketika tak sengaja melihatnya saat
menuju ke apartemen. Jarak gedung show dan apartemen cukup jauh, sudah setengah
jam mereka diam. Risa duduk menghadap jendela mobil dengan pikirannya sendiri.
Devin merasa jengah juga. Tak biasanya Risa diam seperti itu. Devin mengemudi
sambil sesekali melirik kearah Risa.
“Hey... sedang apa kau tadi disana?” tanya Devin memecah keheningan di
dalam mobil.
“...” Risa tak menjawab. Dia malas untuk bicara saat ini.
“Kau tahu... kalau kau tak bertemu denganku tadi, kau akan tersesat.
Siapa yang akan menolongmu?!
“...”
Risa masih belum juga menjawab. Dia tahu Devin sedang mengajaknya bicara,
tapi dia sedang ada yang mengganjal di hatinya. Dia masih memikirkan apa yang
diucapkan si hantu seragam. Apakah benar dirinya bukan hantu? Secara tidak
langsung berarti dirinya belum meninggal. Kalau memang belum, kenapa Risa
berada di apartemen Devin dan kenapa hanya Devin yang dapat menyentuh dirinya?
Oh Tuhan.. ini sungguh rumit!
“YAKK!! Kenapa kau diam?! Dari tadi aku bicara, apa kau tak dengar?!
Dasar hantu!!!” teriak Devin kesal.
“YAAKKK!! AKU DENGAR! BISA TIDAK KAU DIAM!! DAN AKU BUKAN HANTU!! BUKAN
HANTU!!” teriak Risa tiba-tiba membuat Devin kaget melihat kearahnya.
Devin terkejut dibuatnya. Risa berteriak tak jelas melampiaskan semua
amarahnya pada Devin. Saking terkejutnya dan tak kalah kesal Devin menepikan
mobil yang ia kendarai.
“KENAPA?!! JANGAN BERTERIAK PADAKU!!!” teriak Devin menatap Risa kesal.
“Huuuaaaaa hhuuuuhuu....Huaa!!” Risa menangis kencang sekali. Untungnya
jalanan sudah sepi.
Devin diam ketika melihat Risa menangis. Ada apa dengannya? Apa dia salah
bicara? Apa karena dia membentaknya? Aishh.. kalau sudah begini, Devin tak bisa
apa-apa melihat seorang gadis menangis. Dia melajukan kembali mobilnya ke
apartemen. Tanpa saling bicara. Risa masih terisak dengan tangisannya dan Devin
mengemudi tak berniat menanyakan apa yang terjadi pada Risa.
***
Devin pov.
Aku tidur terlentang diatas ranjang. Sudah dini hari, aku belum juga
tidur. mata ini masih belum ingin terpejam. Huft... deru nafasku naik turun menghela
nafas panjang. Dalam pikiranku sekarang adalah tingkah Risa yang berbeda dari
biasanya. Hari ini dia sedikit aneh.
Menangis tak jelas. Teriak-teriak padaku. Heran? kenal hantu seperti dia.
Aishhh... entahlah! aku tak mau ambil
pusing dan mataku pun terlelap.
Sejak kejadian itu, aku tak peduli masalah Risa. Aku sudah pusing dengan
permasalahanku. Oh Tuhan!!! Bagaimana ini??? Sudah dua hari ini, aku berlatih
menari tetap saja tak bisa. Masih kaku. Setiap gerakan dan nada selalu saja
lupa.
“Hah..ah...ah..aishh!!”
Aku sudah kehabisan nafas. Aku melihat diriku dari pantulan dinding
cermin di sebuah ruangan cukup luas
untuk menari. Mataku tak lepas dari cermin. Tubuhku basah penuh keringat yang
mengucur deras. Sejam lalu latihan tari sudah selesai, tapi aku tak beranjak
dari tempatku. Malas untuk pulang. Ku lihat jam dinding menunjuk angka sebelas,
suasana gedung juga sudah sepi, langit menunjukkan bahwa malam menjelang dini
hari. Anehnya, aku tak peduli dengan seramnya malam yang mencekam di sebuah
ruangan sendirian.
“Bagaimana ini? Bagaimana?” gumamku sambil memeluk kedua lututku
bersandar di dinding.
“Devin!”
“Astaga!” aku terlonjak kaget seseorang memanggil namaku secara
tiba-tiba. Aku mengenal dia. Risa
“Kau sedang apa?” tanya Risa duduk disebelahku.
“Yakk!! Kau suka sekali muncul tiba-tiba” teriakku menggema menyelimuti
ruangan kedap suara ini.
“Ya maaf.. aku bosan di apartemen. Si hantu seragam dan kakek juga tak
datang berkunjung” jelas Risa mempoutkan bibirnya bosan.
Aku melihatnya sekilas. Tak cantik tapi manis. Tanpa polesan, mungkin
kalau sedikit berhias pasti terlihat cantik. Tumggu dulu!!! Otakku mulai
bekerja lagi. Bukankah aku bisa menyentuh Risa? Terus, dalam video musik aku
harus menari berpasangan. Setiap kali berlatih dengan partner, aku selalu
gagal. Lupa langkah lah, lupa gerakan selanjutnya dan bla..bla..bla..
“Hey... apakah kau bisa menari?” tanyaku tanpa berpikir panjang masih
menatap Risa menunggu jawaban.
“Hm? Menari? Entahlah” jawab Risa seadanya. dia tak tahu bisa menari atau
tidak.
“Ikut aku!” perintahku menarik lengan Risa berdiri. Kita berdiri saling
berhadapan di tengah ruangan.
“Kau mau apa?” tanya Risa sedikit menjauhkan tubuhnya ketika ku
menatapnya lama.
“Jadilah partner menariku!” ucapku padanya.
“Apa? Cih.. apa aku tak salah dengar?” decak Risa tak percaya apa yang di
dengarnya.
“Ya.. ya.. Ya.. sekarang aku sedang memohon padamu. aishh.. harga diriku
telah hancur di depan hantu menyebalkan ini” gumamku kesal. Sudah ku beranikan
menurunkan derajatku sebagai penyanyi papan atas.
“Apa kau bilang?!” Risa seperti mendengar diriku mengumat.
“Hehe.. tidak..tidak.. sebulan lagi aku harus bisa menari dan aku...
phobia menari. Jangan tanyakan alasannya!” cepat-cepat diriku melangkah menuju
laptop yang sudah berisi lagu ciptaanku untuk video musik.
“Phobia menari?? Aku tahu gengsimu terlalu tinggi meminta bantuan pada
orang lain” gumam Risa mendekat kearahku.
“Aku tidak gengsi. Lagian, aku minta bantuan dari hantu bukan orang”
elakku ketus tak mau kalah.
“YAKK!! Aku bukan hantu!” teriak Risa marah.
“Okey! Okey! Dirimu bukan hantu! Sekarang kita tunda dulu adu mulut.
Tolong dengarkan musiknya dan lihat penari di layar ini!” pintaku. Kali ini aku
harus sedikit mengalah, kalau tidak Risa tak mau membantuku.
Kami berdua melihat layar laptop dengan seksama. Melihat setiap gerak
gerik yang harus sama dengan tempo musik.
“Beat tapi ada sedikit mellow klasik” ucap Risa mendengar setiap ketukan
nada laguku.
“Hm iya, aku membuat lagu ini tentang emosional menjadi satu. Marah, bahagia
dan kesepian. Tiga perasaan menjadi satu rasa. Aku ingin penggemaku menikmati
musik yang ku ciptakan dengan anggukan kepala mereka, mengikuti setiap irama
yang mereka dengar lewat headset dan menandakan ini lagu. Lagu milik Devin
Mark. Hahaha...” ujarku sedikit membanggakan diri.
“Ciks..kelakarmu sungguh membuatku jijik” ucap Risa malas menjauh dari
meja laptop.
“Harusnya kau bangga bisa kenal dengan seorang penyanyi terkenal, belum
tentu yang lain bisa dekat denganku” ucapku mengikuti langkahnya.
Risa menatapku malas. Dia aneh. Suka merubah ekspresi wajah. Kadang
terlihat manis. Kadang terlihat judes. Mungkin sedang pra menstruasi???
“Yak! A..pa yang kau lakukan?” aku tersontak kaget tiba-tiba Risa menarik
lenganku. Tubuh kami semakin dekat saja. Jarak antara kami hanya sebatas lima
sentimeter. Aku dapat merasakan sentuhan tangannya di lenganku. Terlihat jelas
warna coklat di bola matanya.
“Ayo kita lakukan!” ucap Risa tegas.
***
Irama lagu dimulai. Hentakan kaki siap berkolaborasi. Sepasang tangan
telah terpaut. Tatapan saling pandang. Langkah maju kedepan. Mundur dua
langkah. Tarikan pinggang dan tahan nafas mengikuti alunan lagu. Mengangkat
tubuh Risa tinggi. Risa dan Devin saling melengkapi. Tanpa keduanya sadari ada
rasa menggelitik didada. Tunggu? Devin menari dengan indahnya. Apa tak salah
lihat? Devin menari mengikuti alunan irama musik. Tak ada yang salah di setiap
langkahnya. Ah... tatapan matanya selalu tertuju pada mata Risa. Devin tak
lepas menatap Risa yang selalu mengintruksi setiap gerakan selanjutnya.
Waktu tak cukup panjang bagi keduanya. Ketika alunan lagu telah berhenti
tanda lagu sudah habis. Pose ending sungguh menakjubkan. Mereka saling
berpelukan dan terengah-engah kehabisan nafas setelah menari. Menari sungguh
menguras tenaga dan oksigen. Nafas memburu dan jantung berdegup kencang.
“Ah..ah..ah.. haha..aku..aku bisa menari? Haha..” Devin bersuara. Dia
tertawa tak percaya masih dalam pelukkan Risa. Matanya berbinar dengan apa yang
ia barusan lakukan.
Risa tak bisa menjawab, dia masih mengatur nafasnya terengah. Ada rasa
desiran aneh. Risa tak tahu itu apa. Tersadar sesuatu, dia segera melepas
pelukan Devin dan menjaga jarak.mungkin hanya Risa yang merasa lain, tidak
dengan Devin.
“HAHAHA... Kau lihat! Aku bisa menari! Menari!” Devin merasa antusias
dengan kejadian barusan. Dia mengukir sejarah hidupnya bisa menari lagi. “Tapi,
kenapa tiba-tiba aku bisa menari dengan mudahnya? Hm, sudahlah tak penting.
HAHAHA...” dia kembali tertawa bangga.
Risa masih diam seribu bahasa. Bukannya dia tak ingin bicara, ada apa
dengan dirinya? ‘Akh!’ Risa memegangi dadanya yang terasa sakit. Kenapa begini
lagi? Aneh. Rasa nyerinya tak juga sembuh. Dia menghilang dari sana.
“Risa!” panggil Devin baru menyadari hanya dirinya seorang di ruangan
menari.
***
Malam semakin larut. Di waktu yang sama, namun berbeda tempat dan
ruangan. Sebuah ruangan minimalis berukuran 4x4 meter, berdinding cat warna
putih bersih. Semua disana terlihat putih. Ada sebuah meja dan ranjang saling
berdampingan. Terlihat seorang gadis terbaring tenang diranjang. Seorang gadis
manis berwajah pucat dengan selang infus dan face masker menempel dimulutnya.
Gadis itu tak sendirian. Dia bersama sang Ibu yang sedang mengelap lengannya
dengan kain basah. Risa. Gadis yang sedang koma cukup lama. Sudah sebulan dia
tak bergerak dan tak ada reaksi apapun. Ibunya dengan telaten merawatnya.
Malam di rumah sakit hampir sama
seperti sebelumnya. Ibu dengan senang hati membasuh tubuh Risa. Awalnya tak
terjadi apa-apa, tapi...
-ti..titi..ti..ti..ti.ti.ti.ti...-
Terdengar suara reaksi monitor EKG (Elektrokardiogram) alat perekam detak
jantung semakin cepat. Ibu dengan sigap memencet tombol diatas ranjang Risa
minta bantuan perawat.
“Risa! Risa, kau kenapa?” ibu mulai panik melihat layar EKG. Dia ingin
menangis takut terjadi hal buruk pada anak kesayangannya. Dia menggenggam
tangan Risa dengan erat sebelum dokter dan perawat datang.
“Aku mohon Tuhan... selamatkan anakku!” gumam Ibu melihat Risa resah.
Tak berapa lama. Dokter Rian dan seorang suster datang untuk memeriksa
keadaan pasien.
“Apa yang terjadi?” tanya Rian sambil memeriksa Risa dengan stetoskop.
Sang suster segera melihat data dari layar monitor EKG.
“Bagaimana, dok?” tanya Ibu melihat raut wajah Rian setelah memeriksa
keadaan Risa.
“Risa baik-baik saja. Detak jantungnya kembali normal. Ini respon yang
sangat baik, Bi. Setelah kecelakaan baru ada respon kali ini” jelas Rian sambil
tersenyum.
“Suster, bagaimana?” tanya Rian pada suster yang melihat layar EKG.
“Semua baik, Dok. Semua data sudah saya catat” lapor suster.
“Bagus. Tetap pasang face masker
dan infusnya! Cek dan laporkan perkembangan kesehatannya!” ucap Rian menghela
nafas lega.
“Baik, Dok!” jawab suster.
Ibu masih menggenggam tangan Risa erat.
“Jaga kesehatanmu juga, Bi! Kau juga harus tidur. Baiklah, aku permisi
dulu!” ucap Rian menepuk bahu Ibu pelan dan berlalu pergi
“Ya...” angguk Ibu sambil menutup Risa dengan selimut sebatas bahu.
***
Risa pov.
‘AKH!’
Rasa nyeri didada semakin sakit. Aku tak bisa berlama disini. Tanpa
pamit, aku menghilang dari hadapan Devin. Sejak tadi aku berpikir untuk pulang
dan aku sekarang berada di apartemen. Aku sudah tak kuat menopang tubuhku. Mata
mulai berkunang-kunang. Penglihatanku juga makin lama semakin...
-HAP!-
Seseorang menangkap diriku yang hampir terjatuh ke lantai. Dia membawaku
untuk bersandar di sofa.
“Kau baik-baik saja?” suara ini aku mengenalnya.
Penglihatanku mulai membaik. Dia si hantu berseragam sekolah. aku lihat
dia sedang mengkhawatirkan diriku.
“Aku tidak baik sekarang. Dadaku semakin lama semakin sesak dan
nyeri" jawabku jujur. Ini keadaanku sekarang.
“ Kau akan kembali...” ucap si hantu tenang.
Aku menatapnya heran. kata-kata itu lagi. dia selalu mengucapkan kalimat
yang tak ku mengerti. Dadaku sudah tak sakit lagi dan aku bersandar pada
punggung sofa.
“Kau belum menyelesaikan kalimatmu yang lalu. Apa maksudmu?” tanyaku lagi
mengenai dirinya yang mulai sering nyeri didada.
Si hantu berseragam menatapku datar. Dia masih diam seperti mencari
kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.
“Kau masih hidup” satu kalimat singkat, tapi sangat dalam maknanya.
“....”
Pupil mataku membesar, aku tak bisa menjawab. Ada hawa panas sekitar
mataku. Tak terasa air mata menetes keluar.
“Kaupun masih bisa menangis. Manusia yang sudah meninggal tak akan pernah
merasakan hal itu. Sedangkan kau... merasakan itu semua. Kau masih hidup, hanya
saja kau tak menyadari keberadaan ragamu” si hantu seragam menjelaskan
semuanya.
“Bagaimana caranya aku kembali?” tanyaku masih sedikit linglung. Jika aku
masih hidup, aku ingin kembali ke tubuhku. Mungkin ada seseorang yang sedang
menungguku.
“Pengorbanan” ucap si hantu berseragam.
“Pengorbanan?”
“Ya... melakukan sesuatu tanpa pamrih demi melindungi sesuatu yang
berharga. Hanya kau yang tahu pengorbanan itu” si hantu seragam menatapku
sebelum menghilang dari hadapanku.
-wush!-
***
Tiga minggu telah berlalu. Waktu begitu cepat tak terasa. Dalam waktu
itu, Risa membantu Devin belajar menari sebagai pasangan tariannya. Dimata
Risa, Devin adalah sesosok pria tampan. sebagai gadis biasa, dia juga mulai
terpesona dengan ketampanan Devin, tapi tidak dengan sifatnya. Devin seorang
penyanyi hebat. Bisa mengarasemen dan menciptakan lagu. Lagu-lagu miliknya
sungguh indah didengar dan lirik yang menyentuh hati. Kehidupan Devin sungguh
membuat semua iri melihatnya, tapi tidak buat Devin. Risa baru menyadari
setelah ia memasuki kehidupan seorang penyanyi bernama Devin. Semua keglamoran
milik Devin tak sebanding dengan isi hati pemiliknya. Risa tahu bahwa Devin
ingin jadi dirinya sendiri karena sekarang yang ia tunjukkan hanya kepalsuan.
Senyuman palsu yang indah dan gaya bicaranya yang elegan. Semua sirna seketika
saat Devin berada didekat Risa. Suka berteriak dan suka seenaknya sendiri. ada
satu yang Devin tak tunjukkan pada orang lain, saat tertawa lepas bersama Risa.
Ada sedikit kebahagiaan disana.
Devin disibukkan dengan pembuatan video clip lagu miliknya. Dalam waktu
seharian semua staff bekerja keras untuk mendapatan hasil yang memuaskan. Semua
harus sempurna.Devin tidak sendirian saat memperagakan tariannya. Devin berdiri
bak seorang pangeran tampan dari negeri dongeng. Setelan jas bergaya kalsik
Eropa dan tatanan rambut poni rapi membuat dirinya lebih tampan. Risa duduk
diatas tangga dekat tempat pembuatan video agar Devin dapat melihatnya.
“Ready...ACTIONS!” teriak sutradara memberi komando dimulai.
Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana. Mungkin kalau tidak ada Risa
disana, Devin tak bisa bergerak dan berkeringat lagi.
“HEBAT!! Kau telah berusaha keras. Selamat!” Simon sang manajer merasa
senang melihat Devin melakukan adegan setelah semua selesai.
“Aku tahu, aku ini hebat!” ucap Devin bangga.
“Hmmm.. mulai lagi dia bertingkah” celetuk Risa mendengar percakapan
Devin dan Simon.
Devin mendengar Risa bergumam dan memberikan tatapan mematikan pada hantu
manis dibelakang Simon.
“Hmmm.. ya..ya..ya aku tahu kau sang penyanyi hebat. Jangan lagi kau
mulai bertingkah! Aku mau pergi sebentar mengurus yang lain. Dah!” ucap Simon
dengan raut wajah malasnya melihat Devin bertingkah menyebalkan dan berlalu
pergi tanpa menunggu jawaban.
“HAHAHA... tak aku sangka ternyata manajermu sungguh mengagumkan. Aku
penggemar pertamanya! Haha..” sindir Risa tertawa lepas melihat Devin kesal
karena ucapan Simon.
Devin kesal melihat tawa Risa.
Berani sekali dia menertawakan dirinya. Devin sedikit bersabar agar tak
terlihat gila dihadapan para staff. Tak mungkin dia bicara dengan Risa atau
kalau dia ingin dibilang ‘gila’. Senyum licik tersungging dibibir Devin. Entah
apa yang ada dipikirannya?
“Ah.. badanku terasa pegal. Aku ingin segera pulang dan tidur pulas.
Hoammmm....” gumam Devin sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
Devin berjalan seperti tak melihat ada Risa disana, dengan sengaja Devin
menabrakkan lengan sebelah kirinya melewati Risa begitu saja. Risa yang tak
tahu akal busuk Devin terkena hasilnya. Lengan Devin yang besar tepat mengenai
dahinya dan terhembas kebelakang dan hampir saja Risa terjatuh.
“Yak!! Devin sialan!” teriak Risa marah sambil mengelus dahinya.
Devin bersiul senang tanpa melihat kebelakang dan menuju mobil laborgini
merah miliknya. Ada senyum puas diwajahnya.
***
Risa pov.
Sudah malam. Langit terlihat bercahaya karena terang bulan dan bintang.
Malam indah tanpa gerimis untuk hari ini. Sebelum Devin pulang, aku sudah
menyiapkan banyak makanan untuk merayakan keluarnya lagu single terbaru Devin.
Meja sudah tertata rapi dengan kue tart bertabur stroberi, buah-buahn yang
sudah dipotong, minuman bersoda dan hiasan lainnya. Bagaimana aku bisa
melakukannya? Bodoh! Itu hanya khayalku saja.
“Apa ini?” aku seperti dejavu. Ruang tengah apartemen sedikit berbeda.
Meja penuh dengan makanan yang aku bayangkan barusan.
“Kau sudah datang? Kemana saja kau?” tanya Devin yang sedang menghias kue
dengan lilin.
“Aku tadi keluar sebentar. Yak! Kenapa kau khawatir padaku. Aku ini hantu
yang bisa kemana saja” jawabku heran, tak biasa dia bertanya tentangku.
Devin melirikku sejenak dan kembali melihat kearah kue yang ia beri
lilin.
“Ciks, baru kali ini aku dengar kau mengakui dirimu... hantu. Hari ini
aku sedang tak ingin berdebat denganmu” ucap Devin datar sambil bersandar pada
kaki sofa.
“Baiklah. Siapa yang berulang tahun?” tanyaku melihat makanan enak
disana.
“Bukan. Tak ada yang ulang tahun. Aku hanya sedang tak ingin merayakan
keluarnya lagu baruku diluar. Selalu sama. Aku teringat kau, jadi kita rayakan
saja di apartemen” ucap Devin sambil menyeduh jus jeruk dan memotong kuenya.
“Ohhh... kau masih ingat aku? Oh sungguh terharunya diriku!” aku tak
percaya ini. Aku senang dengan ucapannya barusan.
“Jangan salahpaham! Aku merayakan ini untuk diriku sendiri” ralat Devin
sebelum aku mengembangkan senyum senang.
“Aishh! Aku tahu kau ingin merayakan ini bersamaku, hanya saja kau tak
berani mengakuinya. Benarkan?” ledekku padanya. Senang sekali menggoda dirinya
sampai kesal.
“Aku hanya membalas kebaikanmu tempo dulu. Kau sudah mau menjadi partner
berlatih menari untuk video clipku.
Sekalian saja kita rayakan semua ini” jelas Devin kembali bersandar pada
kaki sofa.
“Hmm..” aku hanya menganggukkan kepala berulang kali tanda mengerti.
“Pokoknya kita merayakan
keberhasilan single terbaruku malam ini!” ucap Devin semangat sambil memotong
kue untuk kita berdua.
“Devin..” aku melirik Devin sebentar.
“Hm?”
“Kau bodoh atau lupa ingatan? Bagaimana aku bisa makan semua ini?!”
tanyaku sedikit menyindir halus padanya.
“Yakk! Aku tahu kau tak bisa makan! Anggap saja kau bisa makan, cukup
temani aku makan semua ini!” hampir saja aku mengundang kemarahannya. Dia sudah
siap melayangkan sendok kearahku, tapi diurungkan niatnya untuk itu.
“Hehe..baiklah. Maaf” aku mngeluarkan cenngiran terdasyatku.
Devin menatapku heran dengan cengiranku yang ku perlihatkan untuknya.
“Jelek”
Senyumku sirna seketika. Kurang ajar!
Kalau saja dia bukan penolongku saat ini, sudah aku gulung-gulung dia
dan tendang jauh sampai keluar angkasa.
Benar-benar waktu untuk bersenang-senang. Kami merayakan dengan menonton
televisi, bernyanyi bersama dan meniup terompet. Aku dibuat terkejut oleh
Devin, melihat isi meja yang sudah berantakan dan habis tak bersisa. Dia maniak
makan! Dia menghabiskan semua makanan seorang diri. Aku hanya bisa geleng
kepala melihatnya.
“Huft...” aku menghela nafas melihat semua.
Malam menjelang pagi. Jam menunjuk pukul 01.00 dini pagi. Devin sudah
tertidur dengan pulasnya. Mungkin kelelahan dan kekenyangan makan. Sungguh tak
tega membangunkan dirinya yang tertidur di sofa.
“Nyam...nyam... terima kasih Risa” Devin mengigau dalam tidurnya.
“Heh, gengsimu terlalu tinggi untuk mengucapkan kata terima kasih
langsung padaku” ucapku tersenyum melihat Devin sudah kembali tenang.
Aku mendekatinya duduk dipinggir sofa. Melihatnya dari dekat dan sedang
tidur, sungguh damai hidupnya. Ketika melihat dirinya, ingin sekali menyentuh
wajah tampannya. Ada sedikit rasa ragu dibenakku.
‘Bolehkah?’ batinku.
Tangan dan hati berkata lain. Tanganku menyentuh
setiap inci wajah devin. Alis...’alis yang tebal’. Mata...’bulu mata yang
lentik’. Hidung...’hidung yang mancung’. Bibir...’ bibir merah tanpa ternoda
rokok’. Aku sedikit tergoda ketika menyentuh bibirnya. Entah apa yang membuat
diriku berani. Tubuhku mendekat kearahnya. Wajah kami hanya berjarak lima
sentimeter. Sangat dekat!-tbc-
Comments
Post a Comment