CERMIN
Aku seorang gadis bernama Tri
Setyowati. Panggil saja Tri. Umur line 90. Bisa ditebak sekarang umurku hampir
seperempat abad. Aku seperti manusia lainnya yang memiliki pekerjaan. Aku akan
bercerita tentang pertemanan. Orang bilang mungkin sebuah persahabatan, tapi
aku tak beranggapan persahabatan. Itu terlalu mewah terdengar di telingaku.
Bukan merendah hanya saja terlalu berlebihan. Lebih baik sederhana tapi mengena
dihati. Haha..
Kenapa cermin? Cermin... cermin
sebuah wadah untuk kita melihat pantulan diri, apakah sudah sesuai atau tidak?
Cantik atau tidak? Tampan atau tidak? Ada dua sisi disana. sebagai pantulan dan
si objek/ aslinya. Keduanya memiliki dua sisi yang berbeda tetapi berbeda.
Seperti pertemanan. Aku mempunyai seorang teman bernama Titi Meiliyati.
Panggilannya Titi. Dia seumur denganku. Tak jauh beda. Orang melihat sebuah
pertemanan pasti karena memiliki hobi yang sama, sifat yang sama, apa-apa
bersama. Kembar kali kemana mana bersama?! aku berteman dengan dia sudah cukup
lama, tapi masih bisa dihitung dengan jari. Hmmm...hampir 9 tahun. Wow!
Sejak SMA aku berteman dengannya.
Saat kelas tujuh aku satu kelas dengannya dan hanya teman sekelas. Setelah kami
masuk kelas sepuluh kelas kami terpisah. Sejak itu malahan pertemanan kami
semakin dekat. Entah apa yang membuat kami dekat. Mungkin karena hobi kita sama
yaitu wisata kuliner dan suka pergi hangout. Kata dia, kami memiliki nasib yang
sama jadi kami akrab. Masa?? Aku malah beda pendapat. Sampai kami kuliah tetap
berteman walaupun beda kelas dan beda teman. Saat kami mulai dunia baru yaitu
dunia orang dewasa. Dimana kami menjadi ‘orang’. Mencari pekerjaan hingga
menjadi pegawai.
Pertemanan kami masih tetap
berlangsung. Terkadang aku berpikir, banyak perbedaan diantara kami. Aku? Aku hanya
gadis biasa. Memang tak ada kata biasanya dalam hidup ini. semua manusia
terlahir istimewa, mungkin hanya manusia itu sendiri yang beranggapan memiliki
kekurangan. Rasa ciut yang merugikan setiap manusia.
Aku merasa memiliki sifat
berbanding terbalik dengan temanku satu ini. Terkadang aku seperti sedang bercermin
ketika melihatnya. Sifat yang tak ada padaku, ada pada dia. Sifat yang tak ada
pada dia, ada padaku. Semua memiliki kisah yang berbeda. Aku katakan ini unik.
Orang lain beranggapan aku terlalu CUEK. Kata cuek inilah yang membuatku tak terlalu
banyak mempunyai teman. aku mempunyai teman bisa dihitung dengan jari.
Sedangkan dia, aku bilang dia sangat mudah membaur dengan yang lain. Aku
mendapatkan beberapa teman baru juga karena dia. Titi sosok seorang teman ya
cukup riang dan sedikit gila. Gila dalam artian yang berbeda dan agak keras
kepala. Ya disisi lain memiliki rasa optimis tinggi juga. Aku dan dia memiliki
cita-cita tinggi. Sebisa mungkin kami bisa meraihnya. Memiliki cita-cita dan
tujuan berbeda, tapi aku dan dia saling menyemangati di kala suka dan sedih.
Semoga saja pertemanan ini akan
berlangsung hingga kami berambut uban dan memiliki suami, anak dan cucu. Saling
melengkapi itulah namanya teman. Terima kasih menjadi teman dalam hidupku. Bagaikan cermin terpantul indah dalam
bingkaian ukiran kayu mewah dan
tergantung anggun di dinding.
Terima kasih.
Comments
Post a Comment