Pasir Waktu



Sinar kilau matahari dan udara segar menghiasi pagi. Tepat diatas bumi ini ku berpijak, aku tepat berdiri di belakang pintu gerbang yang kokoh dan tinggi. Terlepas dari seragam militer yang ku kenakan selama dua tahun terakhir. Ya sudah dua tahun sejak diriku melakukan wajib militer. Hari ini aku terbebas dari tugas wajib militer. Kaos putih, hem berwarna coklat, celana jins dan sepatu kets yang ku kenakan terasa nyaman sekali. Tak lupa ku panggul tas ransel berisi baju ganti. Aku pejamkan mata sejenak. Ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menghela nafas panjang. Mata pun terbuka dan senyum hangat tersungging di bibirku.
                Sebuah senyum yang memang harus aku lakukan setiap saat. Aku tak ingin mengecewakan keluargaku yang masih hidup. Hidup? Sejenak ku hentikan langkah kakiku mengingat suatu hal yang tak bisa lepas dari benakku. Hidup? Ayah, Kakek dan Nenek.
                “Ayah, apakah kau melihatku sekarang?” gumamku menengadah menatap langit biru dan ditemani segumpal awan putih bersih seperti kapas.
                Aku Rafa, seorang pria yang sudah tak muda lagi. Aku pria berumur 29 tahun. Aku seorang arsitek. Hari ini aku akan pergi ke rumah Ibu menemui ibu dan kakak. Sudah lama tak jumpa dengan mereka dan ingin sekali memeluk ibu. Sejak orang tua ku bercerai, ayah dan ibu tinggal terpisah. Ibu tinggal bersama kakak perempuanku, sedangkan ayah tinggal bersama kakek dan nenek.
Niatku kembali langkahkan kaki menelusuri jalan menuju pemberhentian bus terdekat. Terlihat sebuah tempat dengan bangku panjang tempat berteduh untuk menunggu bus datang. Sepi. Ah tidak? Ada seorang pria berpostur tubuh tinggi semampai, berkulit putih, potongan rambut cepak hitam dan tampan. Gaya berpakaian rock n roll. Semua serba hitam. Jaket kulit dan celana jeans robek melekat pada tubuhnya. Bad boy. Terlihat dia sedang duduk santai dengan pandangan kosong seperti melamun. Aku duduk di ujung bangku. Aku tak peduli, tapi rasa penasaran mulai menghinggapi diriku. Terkadang aku melirik dan melihat kearah sang pria tanpa sepengtahuannya. Diam tanpa kata. Hening.
“ARRGHHH! Sial! Kenapa hari ini tak ada yang bisa ku kerjakan?! Arggghhh!!” tiba-tiba saja sang pria berteriak kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Apakah dia tak melihat banyak orang di sekelilingnya?
‘Oh Tuhan! Dia membuatku kaget saja!’ batinku tersontak kaget melihat tingkahnya. Mataku tak berkedip melihat tingkah aneh itu. Tidak tahu malu!
“Dasar nenek lampir! Kau coba menghukumku, HAH?! Kau tahu sendiri kalau aku tak bisa diam! Aishh!!” sang pria mengumat dan mengutuk tak jelas menunjuk arah langit. Dia sepertinya sedang kesal pada seseorang. Dia menghentakkan kaki berulang kali. Terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek minta mainan.
“Hey kau!” aku beranikan diri untuk menyapanya.
Dia tak mendengar dan menjawab.
“HEY KAU!” sapaku kesal karena tak ada jawaban darinya.
“Kau bisa melihatku?” sang pria menatapku aneh. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk sambil menatapku heran.
***
Rafa tak habis pikir dengan pertanyaan macam itu. Tentu saja dia bisa melihat pria dihadapannya. Justru tatapan aneh yang dia peroleh.
“Benarkah kau bisa melihatku?” tanya sang pria masih tak percaya. Dia mendekati dan melambaikan tangan berulang kali kearah muka Rafa.
“Apa yang kau lakukan?! Tentu saja aku melihatmu!” teriak Rafa kesal dan menepis tangan pria itu. Terlihat muka sang pria sebaya dengan dirinya.
“Oh Tuhan! Kau juga bisa menyentuhku! Oh, aku tak percaya ini!” Sang pria seperti terkejut dengan apa yang Rafa katakan. Dia menatap tak percaya dan tersenyum senang.
“Hey!” sahut Rafa yang tak mengerti apa-apa.
“Sungguh ajaib! Manusia bisa melihatku!” gumam sang pria. Dia menatap Rafa heran sambil tersenyum tak jelas.
“Apa?” tanya Rafa heran melihat sosok dihadapannya tersenyum evil.
“Tak apa! Hanya senang saja” jawabnya masih menatap Rafa heran.
Bus yang sedari ditunggu pun telah datang. Rafa tak mau berurusan dengan orang tak jelas yang baru saja dia temui. Rafa beranjak dari duduknya tanpa menoleh ke belakang.
“Senang bisa bertemu denganmu! Aku Vino” sapa sang pria bernama Vino. Vino tak beranjak dari duduknya. Dia masih bersandar santai menatap punggung Rafa.
“...” Rafa tak bergeming. Dia berlari kecil masuk ke dalam bus. Masih terlihat jelas Vino tersenyum menatap dirinya.
“BESOK KITA AKAN BERTEMU LAGI! AKAN KU BERIKAN SESUATU UNTUKMU!!!” teriak Vino lantang terlihat dari luar jendela bus.
“Orang gila!” gumam Rafa mengalihkan pandangan ke sekitar. Dia heran tak ada seorang pun melihat kearahnya, seperti tak terjadi apa-apa. Ah tak peduli!
Di sebuah jalanan sempit Rafa berjalan menelusuri jalan setapak. Berderet rumah di sepanjang dia berjalan. Langkah Rafa terhenti di sebuah rumah sederhana berwarna coklat kayu. Sudah lama Rafa tak berkunjung ke rumah ibunya.
“Ibu, Rafa pulang!” teriak Rafa membuka pintu halaman yang tak dikunci. Dia langsung memasuki halaman dan menghambur ke pelukkan sang Ibu yang sedang menjemur pakaian disana.
Ibu tersontak kaget melihat anak lelakinya sudah pulang. Rafa masih memeluk ibunya erat. Sang ibu membalas pelukkan sang anak.
“Rafa! Kau pulang! Kenapa kau tak memberitahu ibu?! Kalau tahu begini, tadi ibu dan kakak pergi menjemputmu!” ucap Ibu melepas pelukkan Rafa. Terlalu banyak pertanyaan dan hanya seutas senyuman yang Rafa perlihatkan.
“Jangan terlalu lebar! Kau terlihat seperti kuda sedang nyengir” celetuk seseorang menghampiri Rafa dan ibu.
“Kak Thea!” Rafa segera memeluk sang kakak perempuannya.
Thea seorang kakak perempuan yang baik hati. Dia sudah menikah tiga tahun yang lalu. Dia sedang berlibur ke rumah dan sang suami masih dinas kerja di luar kota. Senang bisa melihatnya lagi.
“Ayo masuk! Kau harus istirahat! Besok kita harus mengunjungi mereka!” ucap Ibu membuat Rafa terdiam sejenak.
“Baik, bu!” ucap Rafa membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.
Langit mulai menguning dan langit akan berubah menjadi gelap. Mereka masuk ke dalam rumah sederhana, namun penuh dengan kehangatan.
***
Langit tak begitu mendukung. Sedikit warna kelabu menutupi langit yang biru terang. Rafa telah menyiapkan hati untuk menemuinya. Rafa mengenakan kaos berkerah berbentuk V dan celana jeans warna serba hitam. Dia menggenggam sebuket rangkaian bunga lili putih untuk orang terkasih. Dia berjalan menelusuri jalan setapak dan terlihat deretan bangunan kecil tertata rapi dengan sebuah nama dan tanggal terpampang di setiap batu bangunan tersebut. Rafa tak sendirian, ibu dan kak Thea bersamanya.
Rafa menatap sedih batu nisan dihadapannya. Ia berdiri cukup lama melihat dan menggenggam sebuket bunga lili putih. Matanya terbendung air yang tak menetes. Sebuah nama yang ia kenal dan sayangi. Ada dua nisan lainnya yang mengapit nisan tersebut. Tertulis jelas nama kakek, nenek dan.....Ayah.
“Ayah...” gumam Rafa meletakkan bunga diatas nisan bertuliskan Anggoro Wicaksono, nama sang Ayah. Tertera tanggal wafat 27 Desember 2013
Rafa tertunduk lemas di depan makam kakek, nenek dan Ayahnya. Cukup lama ia berdiam disana. Ibu sedari tadi hanya menepuk pundakku pelan menatap Rafa diam sedangkan Kak Thea sempat meneteskan air matanya. Rafa menundukkan kepala sejenak mendoakan sang Ayah di surga sana.
‘Ayah..aku selalu mendoakanmu disini. Semoga kau hidup tenang disana! Amin’ doa Rafa.
Rafa sangat merindukan sosol ayahnya. Sejenak enam bulan yang lalu, sang ayah meninggal dunia. Ayah tak sendirian, begitu juga kakek dan nenek telah pergi. Terkadang terlintas dalam pikiran, andai saja waktu dapat berputar kembali. Ingin rasanya kembali dimana dia bisa melihat sang ayah.
“Ayo pulang, Raf!” ajak Kak Thea yang sudah mendahuluinya beranjak pergi dari makam ayah.
“Ah iya, kak!” Rafa tersadar dari lamunannya dan  beranjak pergi mengekor pada sang kakak.
Rafa berjalan gontai dan tak ada rasa semangat. Jarak antara makam ayah dan pintu keluar gerbang makam cukup jauh, mau tak mau Rafa harus menelusuri jalan setapak. Sepasang tangan ia masukkan kedalam saku celananya. Pandangan Rafa juga kosong. Melamun. Tanpa dia sadari, dia berjalan ketinggalan jauh dengan kak Thea.
“Hey, jangan melamun!” terdengar suara pria, tapi mana batang hidungnya ya?
Rafa celingukkan melihat sekitar dan tak ada orang disana. Dia berjalan lagi.
“Apakah kau ingin bertemu ayahmu lagi?” celetuk suara pria itu lagi.
Rafa tersontak kaget dan berhenti mematung. Seperti ada yang mendengarkan isi hatinya. Suara samar itu semakin jelas tepat berada di belakangnya. Rafa memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Tepat di hadapannya berdiri seorang pria yang ia tahu sebelumnya. Seorang pria berpenampilan layaknya seorang bad boy. Jaket kulit hitam dan kaos putih melekat ditubuhnya.
“Kau?!?” Rafa membelalakkan matanya tak percaya.
“Hello~~ kita jumpa lagi!” sapa sang pria yang tak ingin dilihat Rafa yaitu Vino.
Rafa tak percaya ini. Baru saja bertemu dengannya kemarin dan sekarang dia harus melihatnya lagi. Di pemakaman pula? Ini membuat bulu kuduk Rafa berdiri. Rafa membalikkan tubuhnya spontan dan berjalan cepat sambil mengelus tenguk kepalanya.
“Hey! Kau tak menghiraukanku?! Jangan lari kau!” teriak Vino kesal. Vino juga masih tak percaya dengan kejadian kemarin. Ini kedua kalinya mereka bertemu.
-GREB!-
Tangan Vino mendarat mulus di pundak Rafa. Rafa tersontak mematung dan ingin segera menepis tangan Vino. Tapi, dengan sigap Vino mencengkeram pundak Rafa erat sehingga Rafa tak bisa melarikan diri.
“ORANG GILA! Kau mengikutiku sampai kemari, HAH?!” teriak Rafa berusaha melepas cengkeraman tangan Vino, tapi terlalu kuat.
“Apa kau bilang?! Orang gila?! Kau tak tahu, hah? Aku ini pria paling tampan seantero jagat! Kau mengerti!” Vino masih syok dengan perkataan Rafa barusan. Apakah perlu dihajar anak ini?
“Aku bilang LEPASKAN!” teriak Rafa lantang.
Vino melepas cengkeramannya dan membiarkan Rafa berlalu darinya. Vino hanya tersenyum tipis melihat seorang bocah yang begitu keras kepala. Bocah? Memangnya, berapa umur Vino? Entahlah.
“AKU BISA BUAT KAU BERTEMU AYAHMU!” Vino berteriak lantang membuat Rafa menghentikan langkah kakinya.
“...” Rafa tak bergeming. Diam.
“Aku yakin, kau pasti tertarik dengan ucapanku” ucap Vino masih berdiri di tempatnya.
“Apa maksudmu?” tanya Rafa penasaran.
Terlihat senyum evil Vino melihat kearahnya. Vino menghampiri Rafa dengan otak penuh pertanyaan. Vino merogoh saku jaketnya mengambil sesuatu dan terlihat sebuah tabung kaca berukuran kecil berisikan pasir.
“Kau tahu apa ini?” tanya Vino menunjukkan sebuah benda kecil itu kearah Rafa.
“Pasir Waktu” jawab Rafa singkat menatap Vino lekat.
“Benar sekali! Kau bisa bertemu ayahmu dengan ini” Vino sambil memainkan pasir waktu dihadapan Rafa.
“Heh, kau bergurau ya?! Aku tak percaya padamu” ucap Rafa sinis. Hanya dengan pasir waktu aku bisa bertemu ayah yang sudah meninggal? Tak masuk akal.
“Terserah kau percaya atau tidak! Setelah aku membalikkan pasir waktu ini, kau akan tahu dan lihat sendiri apa yang terjadi” jelas Vino.
“Siapa kau?” tanya Rafa  sedikit lemas.
“Aku Vino. Itu yang perlu kau tahu!” jawab Vino tersenyum seperti biasa.
Pelan namun pasti. Vino membalik pasir waktu dihadapan Rafa. Sekelebatan penglihatan Rafa mulai memudar, buram, hitam dan gelap.
***
Aku merasa seperti diambang kegelapan. Hanya warna hitam pekat menyelimuti pandanganku. Ada secuil titik cahaya disana. Aku melihat cahaya itu semakin mendekat dan dekat sekali. Semua menyilaukan pandanganku seketika. Apa ini? Tubuhku terasa dibebani batu berukuran besar. Engan untuk membuka mata. Sedikit demi sedikit penglihatan mataku semakin jelas.
“Dimana aku?” gumamku masih dengan tubuh terbaring lemas.
Suara gemuruh memekikkan telingaku. Dimana-mana ada orang berlalu-lalang. Suara berisik yang ku dengar membuat diriku langsung berdiri tegap. Aku bingung dengan kondisi ini. Ku lihat sekeliling tak ada orang yang ku kenal disini. Tapi...
“Tempat ini? Bukankah ini...?!”


TO BE CONTINUE... 

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE