My Choice (Sequel: Your Choice) part End
Ekel pov.
Kedai kopi
langganan kak Anna setiap kali menjemputku pulang sekolah. Kali ini kak Anna
sedikit terlambat datang, tak apalah aku menemani kak Dion minum kopi dan makan
cake. Kedai ini tak terlalu besar namun tempat paling nyaman untuk menikmati
secangkir kopi dan chesse cake. Pohon rindang dipinggir trotoan membuat pemandangan
depan kedai terasa teduh.
Dua cangkir
cappucino latte dan sebuah chesse cake telah tersaji di meja kayu bundar siap
disantap. Aku dan kak Dion duduk saling berhadapan. Aku menikmati kue ku dan
kak Dion menyeruput kopinya.
“Sudah
seminggu ini aku terapi rutin. Sebenarnya, aku seharusnya bisa berjalan lagi
sudah sejak lama, hanya saja aku terlalu egois dan putus asa untuk sembuh” Dion
membuka percakapan dengan menjelaskan keadaannya sekarang.
“Kak Dion
punya alasan sendiri untuk sembuh atau tidak. Aku tak berhak untuk ikut campur,
tapi... aku sangat senang melihat kak Dion sekarang” aku tak bisa bicara banyak
hanya senyum tulus yang bisa ku berikan untuknya.
“Terima kasih”
ucap Dion membalas senyumku.
-Trililit...triliiiliit-
Terdengar
suara nada dering handphone dan itu terdengar dari smartphone milikku yang
tergeletak di meja. Tertera nama yang selalu menghiasi hari-hariku.
“Hallo...” aku
menjawab teleponku.
=Kau dimana?
Aku mencarimu di depan gerbang tak ada= terdengar suara manis dari line
seberang.
“Ah maaf kak!
Aku ada di kedai kopi langganan kakak” balas Ekel.
=Ohhh... aku
akan kesana, tapi tunggu ya disana! Kakak ada perlu sebentar, tadi teman kakak
telepon minta bantuan. Jangan kemana-mana!= perintah sang kakak. Aku tersenyum
mendengar suaranya yang terdengar khawatir.
“He-em... aku
akan menunggumu disini!” patuhku pada sang kakak.
=Bye!=
“Bye!” gumamku
memutus sambungan telepon.
Ku letakkan
kembali smartphone ku di meja.
“Maaf, kakakku
mencariku” ucapku karena tak mempedulikan kak Dion beberapa saat yang lalu.
“Tak apa. Kau
punya kakak?” tanya Dion sambil menyilangkan salah satu kakinya.
“Iya. Dia
memintaku untuk menunggunya disini sebentar” aku masih menyantap kue
kesukaanku.
“Aku lihat kau
sangat senang ketika kakakmu menelepon” senyum mengembang disudut bibir Dion.
“Kakakku...
aku sangat menyayanginya melebihi dari siapapun. Seorang perempuan kuat dan
selalu tersenyum dihadapanku. Mungkin.. aku sedikit egois dengannya. Egois
membuatnya terlalu khawatir. Egois membuatnya selalu ada disampingku.
Selalu...ah! aku terlalu banyak bicara” entah kenapa aku mebuka bibir ini
terlalu banyak bicara. Padahal Dion adalah orang yang baru saja aku kenal tapi
terasa sudah lama mengenalnya.
“Kau
mencintainya bukan menyayanginya, benarkah begitu?” ucap Dion datar melihat
kearahku.
Aku tersontak
kaget dengan kalimatnya. Mencintainya? Hei, kak Anna adalah kakakku dan itu tak
lebih cintaku pada sang kakak. Terkadang apa yang orang lain lihat tak sama
dengan padangan kita. Aku menatap kak Dion lekat dan tersenyum padanya.
“Ya aku
mencintai kakakku. Mencintai layaknya cinta seorang adik pada kakaknya, karena
dia satu-satunya keluargaku saat ini” jelasku dengan santai sambil
menyeruput satu cup cappucino
kesukaanku.
Terlihat jelas
kak Dion diam sejenak mendengar pernyataanku barusan. Aku harap dia mengerti
apa yang kukatakan dan ku maksud.
“Jawaban yang
bagus, Kel. Ah! Sepertinya aku harus pergi sekarang. Tak apa aku tinggal kau
disini sendirian?” tanya Dion sambil melihat jam tangan warna hitam
dilengannya.
“Tak apa,kak!”
senyumku tahu akan keadaan.
“Kalau begitu,
saya pergi dulu. Senang bertemu denganmu,Kel! Bye!” ucap Dion meninggalkanku.
Terlihat dia
melambaikan tangan melihat diriku dari balik jendela kaca kedai. Aku rasa
senyumnya lebih tulus dari sebelumnya.
“Kenapa kau
bertanya, Kak? Kau sudah tahu semuanya. ” gumamku melihat mobil Dion melaju
menjauh dari kedai.” Aku tak sebodoh yang kau pikirkan. Dasar orang kaya”
gumamku lagi dan tak lupa menghabiskan kue yang ku pesan tadi.
***
Deru mesin
saling beradu. Berderetan banyak roti siap kemasan untuk dikemas. Terlihat juga
banyak orang mengenakan seragam warna biru dengan topi ala koki mengerjakan
tugasnya. Sebuah pabrik roti. Jam menunjuk bahwa jam makan siang telah tiba.
Semua karyawan berbondong-bondong berhenti untuk makan siang dan istirahat
sejenak. Seorang gadis membuka kotak bekalnya yang penuh dengan lauk pauk
buatan sang adik. Anna. Taman yang rindang dan teduh adalah tempat paling
nyaman untuk menyantap makan siangnya.
“Uhukk..hukk..UHUUKK!!”
Anna terbatuk sangat nyaring. Bukan karena tersedak, tapi memang dia terbatuk.
Batuk tak wajar. Tangannya menutupi mulut menahan agar sesuatu tak mengotori
bajunya. Beberapa kali dia terbatuk.
Tak beberapa
lama, terlihat sepasang kaki mengenakan sepatu pentofel hitam berdiri tepat
dihadapan Anna. Anna menengadah melihat siapa yang ada dihadapannya. Bola
matanya membesar melihat seorang yang dia tahu sebelumnya. Dion Wicaksono.
“Kau...huk-uhuk”
Anna masih terbatuk pelan melihat kearah Dion. Anna menyembunyikan telapak
tangannya terkepal.
“Sampai kapan
kau akan menyembunyikannya?” ucap Dion masih berdiri melihat datar kearah Anna.
“Ah iya! Aku
melupakan fakta bahwa kau orang kaya. Orang kaya yang tahu segalanya” Anna tak
ingin mengucapkan kalimat barusan, tapi dia tak suka orang lain sok tahu
mengenai dirinya.
“Aku sebut itu
pujian untukku. Aku tak butuh waktu lama untuk mengetahui segala hal. Malah
terlintas dibenakku untuk memecatmu dari sini” keluar sudah sifat sombong sang
Dion. Entah kenapa kedua orang ini selalu saja suka beradu mulut. Antara si
Kaya dan si Miskin.
“Huft...” Anna
menghela nafas dan melanjutkan makannya yang tertunda. Tak peduli jika Dion
masih disana.
“Kau
mengacuhkanku? Aish!! Si Egois ini...” gerutu Dion kesal melihat tingkah Anna
yang masih asik makan.
“Kau
mengataiku egois, padahal kau lebih egois dari siapapun. Aku masih punya
telinga!” ucap Anna setelah menghabiskan makan siangnya. Dia berdiri berhadapan
menatap mata Dion yang tak berkedip dibuatnya.
“Kau...Kau
ingin memecatku? Terserah kau mau apa?! Jika kau masih punya akal pikiran,
pikirkan baik-baik setiap yang kau ucapkan pada orang lain, Tuan Dion
Wicaksono” Anna tak terlihat seperti orang yang takut akan kekuasaan. Dia tak
takut akan kekuasaan yang mungkin akan menindasnya atau melambungkannya tinggi
kelak, karena dia lebih takut dengan keputusan yang Tuhan berikan padanya.
Sebuah keputusan yang menentukan takdirnya.
Anna berlalu
pergi meninggalkan Dion yang masih diam ditempatnya.
“Apakah ini
jalan yang kau pilih? Benarkah begitu?” tanya Dion melihat Anna terdiam sejenak
sebelum benar-benar pergi dari sana.
Anna meninggalkan Dion disana tanpa menjawab.
Apak perlu dijawab? Dion tak habis pikir dengan pemikiran gadis ini.
“HUFT! Ekel...
kakakmu sungguh keras kepala” gumam Dion menghela nafas. Sungguh ekstra
menghadapi Anna.
***
Waktu terus
saja berlalu. Jarum jam terus mengitari angka yang telah ditentukan. Semua
berjalan seiring angin musim dingin terlalu menusuk tulang. semua orang sibuk
dengan kehidupannya masing-masing. Semua orang terlihat jelas mengenakan mantel
tebal demi menghangatkan tubuh mereka. Anna salah satu dari mereka yang sedang
berjalan melamun dengan pikirannya sendiri. Selembar kertas ia genggam erat
agar tak terjatuh. Jalannya sedikit gontai melihat kertas dalam genggamannya.
Tak ada orang yang tahu atau peduli kecuali dirinya sendiri. Apa yang harus dia
pilih untuk menghadapi hal tak terduga ini. Dia melihat kembali kertas dalam
genggamannya. Terlihat sebuah hasil pemeriksaan kesehatan atas nama Anna. Anna
tak kuat memapah kakinya untuk berjalan kembali. Dia duduk di pagar pinggir
trotoar sekedar untuk bersandar sejenak.
Sesuatu
seperti embun tapi berwarna lebih putih pekat jatuh beriringan. Semua orang
yang melintas termasuk Anna menengadah
melihat keatas.
”Hujan salju
pertama” gumam Anna tersenyum tipis menikmati turunnya salju menjelang sore.
Tiba-tiba saja hatinya merasa sangat rindu pada seseorang.
Di waktu yang
sama dan tempat berbeda. Ekel duduk manis dengan kursi rodanya menatap keluar
jendela dari dalam rumahnya. Senyum dan lesung pipinya terpatri manis di bibirnya.
Mata yang selalu menyiratkan semangat hidup.
“Hujan salju
pertama” gumam Ekel sambil mendorong kursi rodanya menjauh dari jendela. Dia
menunggu sang kakak pulang dari kerjanya.
Di waktu yang
sama dan tempat berbeda. Dion duduk sambil bersandar pada kursi kerjanya yang
empuk bak sang raja. Sebuah ruangan 5x5 meter terhias indah dan rapi rak-rak
buku, ruang tamu dan meja kerja berisi berkas-berkas perusahaan dan sebuah
komputer lcd berwarna putih. Jendela yang cukup lebar dapat melihat gedung
–gedung tinggi dan keramaian kota Seoul dari lantai lima belas milik
perusahaannya. Dion menatap datar sejenak sebelum menyelesaikan pekerjaannya.
Bola-bola salju kecil berjatuhan terlihat indah diwarnai dengan kelap-kelip
lampu kota Seoul. Sangat indah.
“Hujan Salju
pertama” gumam Dion sambil menikmati waktu istirahatnya sejenak.
Hujan salju.
Salju sangat indah dengan warna putihnya, tapi tidak dengan dinginnya yang
membuat ngilu. Namun entah mengapa, hujan salju sangat dinanti setiap orang. Sama
halnya menunggu kebahagiaan yang melibatkan rasa kasih sayang sesama.
***
Langit tak
secerah biasanya. Awan mendung dan hujan salju membuat semua terlihat berwarna
putih. Hari ini hujan salju cukup lebat. Sebuah rumah kontrakan kecil yang
dihuni dua anak manusia terlihat terang dari luar. Penghuninya masih betah
didalam rumah. Kakak beradik yang menikmati hujan salju dari dalam rumah dengan
segelas coklat hangat digenggaman.
Keduanya
terdiam masih menikmati coklat hangatnya. Anna menatap Ekel sejenak, matanya
menandakan dirinya gelisah. Ada yang harus dia bicarakan pada adiknya. Bilang
atau tidak? Ada sedikit keraguan dalam pikirannya.
“Ekel... “
panggi Anna.
“Hm” gumam
Ekel menanggapi panggilan sang kakak.
“Kakak dapat
tugas kerja ke Busan” ucap Anna melihat kearah Ekel yang sedang menyeruput
minumannya.
“Busan?”
“Ya... kakak
akan lama disana” jelas Anna melanjutkan niatnya memberitahukan.
“Berapa lama
kakak disana nanti?” tanya Ekel dengan nada menahan sedih. Busan? Busan cukup
jauh dari Seoul. Jika kakaknya bolak-balik dari Seoul ke Busan, kakaknya butuh
tenaga dan waktu ekstra. Itu tak mungkin.
“Tiga bulan.
Kakak akan bekerja disana selama tiga bulan. Tapi...” jelas Anna sebelum
menyelesaikan semua.
“Jangan
khawatirkan Ekel! Aku bisa jaga diri. Mana mungkin kakak membawaku kesana. Aku
juga harus sekolahkan. Aku akan baik-baik saja disini. Aku juga tahu, kakak
bekerja keras juga demi adikmu yang tampan ini. Hehehe...” potong Ekel diakhiri
dengan candaan.
“Tiga bulan
tak lama, aku juga tak akan meninggalkanmu sendirian disini. Kakak sudah
menelepon bibi Han pemilik kontrakan ini untuk membantu kamu selama kakak tak
ada disini. Kakak sudah minta tolong padanya. Jadi, kau tak akan sendirian”
ucap Anna memberitahu bahwa Ekel akan ada yang membantunya selama Anna tak ada.
Tiga bulan bukan waktu yang sebentar untuk Anna kembali ke Seoul.
“Baiklah”
senyum Ekel melegakan batin Anna yang tak tega meninggalkan adiknya sendirian
di Seoul.
“Tiga bulan itu
sebentar, kakak harap kau tidak membuat kakak khawatir. Selama kakak disana
baik-baiklah” pesan Anna seperti akan pergi jauh. Jauh sekali.
“Kak Anna!!
Jangan bicara seperti itu! Kau bicara seakan kita tak akan bertemu lagi” Ekel
melihat Anna sedikit berbeda dari biasanya. Ada apa dengan kak Anna?
“Hehe... iya
maaf, kakak sedikit melankolis hari ini. Kau tahulah masalah perempuan. Sedikit
mellow drama bolehlah” cengiran Anna membuat Ekel sedikit lega. Anna menggaruk
kepalanya yang tak gatal.
“Dasar!!”
gerutu Ekel melihat tingkah Anna yang terlihat seperti anak kecil. Sebenarnya
yang kakak siapa dan yang adik siapa.
“Maaf” senyum
Anna mengembang disudut bibirnya.
Pandangan Anna
teralihkan kembali keluar jendela. Semua terlihat putih bersih tanpa noda.
Butiran-butiran es berjatuhan semakin lebat. Sebuah pilihan yang tepat.
Berbohong untuk kebaikan bukankah tak apa? Anna telah membuat pilihannya
sendiri. Tak ada yang tahu hasil dari pilihannya, baik dirinya maupun orang
lain, kecuali Dia. Semua akan baik-baik saja.
***
Flash back...
Anna pov.
Dua hari yang
lalu. Di sebuah taman dengan pohon rindang dan bangku-bangku taman yang terbuat
dari kayu tertata rapi. Hilir mudik orang berlalu atau sekedar duduk-duduk
untuk menikmati cuaca sore. Hari itu tak turun hujan salju namun dingin masih
menusuk tulang. Aku mengeratkan jaket tebalku karena hawa dingin. Pandangan
mataku kosong tapi tidak dengan otakku yang bekerja. Aku duduk sendirian
memikirkan sesuatu. Apa yang harus aku lakukan? Tak terasa air mataku jatuh
dari pelupuk mataku. Aku menangis. Apa yang ku tangisi? Kenapa aku harus sedih?
Oh Tuhan, ada Ekel yang harus aku jaga.
“Bagaimana
ini?” gumamku resah. Air mataku tak kunjung berhenti.
Tanpa aku
sadari, sudah ada seorang pria berdiri tak jauh dari tempatku berada. Seorang
pria yang tahu segalanya. Sang pria terlihat sangat tampan dengan coat hitam
tebalnya menutupi jas mahal milikinya. Sang pria mendekat kearahku sambil
menyimpan tangannya dalam saku coat. Terlihat jelas hembusan nafasnya
menimbulkan efek uap disekitar mulutnya.
“Kau bertanya
sendiri tapi tak tahu jawabannya. Kau bergumam dan menangis seperti orang
bodoh” celetuk suara pria yang aku kenal jelas siapa pemiliknya. Dion
Wicaksono.
Aku
mendongakkan kepala melihat kearahnya yang sedang menadapatku sinis. Itu yang
terlihat dalam penglihatannku. Seenak jidat dia bicara tanpa tahu apa yang aku
rasakan. Sedang apa dia disini? Kurang kerjaan saja!
“Kau! Kau
mengikutiku?! Dasar Penguntit!” aku sedang kesal dan dia membuatku semakin
marah. Aku beranjak dan pergi dari sana. Apa pedulinya? Buang-buang waktu saja!
“HEY!! Kau mau
kemana?!” seperti biasa dia berteriak kepadaku.
“BUKAN
URUSANMU!” teriakku tak kalah saing dengannya. Sebelum aku pergi terlalu jauh,
dia menarik lenganku hingga berbalik berhadapan dengannya. Terlihat jelas rupa
wajahnya dengan jarak sedekat ini.
“Kau bukan
urusanku? Cepat ikut aku!” gertak dia menarik lenganku kuat. Entah dia akan
membawaku kemana. Aku tak mau! Genggamannya sangat erat membuat pergelangan
tanganku sakit.
“Lep... lepas!
LEPASKAN! Apa pedulimu?! Kau bukan siapa-siapa!” tepisku kuat membuat tanganku
terlepas dari genggamannya. Dia terhenti melihat kearahku. Aku tahu dia
terkejut dengan perlawananku. Matanya menyorotkan keterkejutannya.
“Kau benar...
kenapa aku peduli padamu? Kenapa aku disini dengan kau yang seenak jidat
memakiku?” dia bertanya tanpa aku tahu jawabannya. Dia melihat dengan tatapan
kesalnya.
“Pergi...
Pergi!” gumamku menatap matanya yang berkilat. Antara kita tak ada yang
spesial, kenapa dia peduli?
Dia mendekat
kearahku dan mencengkeram kedua bahu erat.
“Dengar
baik-baik! Kau harus pilih yang terbaik untuk hidupmu. Jangan beranggapan kau
hidup untuk dirimu sendiri! Kau harus sembuh!” ucapnya bagaikan perintah
kepadaku.
Aku tak bisa
berpikir jernih sekarang. Mataku buram tertutup air mata yang menggenang tak
kunjung jatuh. Ada rasa yang ingin aku hindari saat ini.
“Aku...
hiks..hiks...aku takut..huhu” aku tak bisa bicara lagi, hanya sesengukan
tangisan yang terdengar. Semua meluap begitu saja. Aku tak peduli lagi jika
orang melihatku menangis meraung-raung dihadapan seorang pria yang aku kenal.
Rasa takutku yang membuat menghambat pilihanku.
-puk..puk..puk-
Beberapa kali
tepukan kecil menyentuh punggungku. Aku menangis dalam rengkuhannya. Tak ada
kata yang bisa ku ucapkan, hanya air mata yang berjatuhan.
“Kau tak
sendiri...jangan menangis...sudahlah, semua akan baik-baik saja..sudah”
ucapannya terdengar lembut di telingaku. Satu kalimat yang dapat menenangkanku
saat ini.
Menangis
bukanlah hal yang memalukan untuk dilakukan. Semua orang berhak untuk menangis.
Entah itu tangis bahagia atau kesedihan. Menangis dapat melegakan batin
walaupun sesaat, tapi itu sangat cukup bagi yang merasakan.
Flash back
end...
***
Semua berjalan
maju tak ada yang melangkah mundur. Langit, awan, siang, malam dan waktu semua
berputar sesuai porosnya. Tanggal pun berganti angka. Seorang lelaki tampan
berbalut sweater tebal berwarna merah dan jaket coat tebal warna coklatnya
sedang duduk manis diatas kursi rodanya memandang langit penuh warna. Bunyi
cetaran berkumandang diatas langit gelap gulita yang menjadi terang karena
cahayanya. Kembang api. Selamat Tahun Baru!!! Ekel menikmati malam tahun
barunya di balkon rumah yang sangat megah. Balkon? Rumah megah? Ya Ekel tak
sendirian disana, dia ditemani seorang pria seumuran dengan Anna. Seorang pria
berbalut sweater hitam dan coat rajutan tebal berwarna abu-abu, Dion.
Sejak Anna
tinggal di Busan sebulan telah berlalu. Dion tahu bahwa Ekel sendirian di
rumahnya. Anna mengambil keputusannya saat itu. Dion dan Ekel sudah menjalin
pertemanan yang semakin akrab. Dion tahu segalanya. Sudah dua minggu Ekel
tinggal di rumah mewah Dion yang memaksanya untuk menginap disana. Dengan Ekel ada
pada jangkauan mata Dion, semua akan baik-baik saja. Dion menikmati secangkir
kopi panas sambil mendekat ke pagar besi balkon. Mereka menikmati malam tahun
baru bersama. Senyum mengembang pada kedua lelaki ini.
“Aku rindu kakakku”
gumam Ekel dengan raut wajahnya sedih. Ya sudah sebulan ini Anna tak
menghubunginya. Mungkin sibuk?
“Mungkin
kakakmu sedang sibuk, jadi tak sempat menghubungimu. Jangan terlalu khawatir!”
ucap Dion meredakan rasa khawatir Ekel yang berlebih. Wajar saja Ekel sangat
khawatir karena tak ada kabar. Anna baru kali ini tak menanyakan kabarnya.
Hanya tiga bulan, Ekel ingin cepat bertemu sang kakak.
“Oh ya,
bagaimana kakimu? Apakah sudah ada kemajuan?” tanya Dion ingin tahu kondisi
terapi kaki Ekel.
“Dokter Rian
menyuruhku untuk sering latihan sendiri tak harus di rumah sakit. Aku sudah
buat jadwal sendiri setiap pagi untuk latihan berjalan. Ya... walaupun masih
terasa nyeri” jawab Ekel.
“Tetaplah pada
usahamu! Aku dulu juga begitu, memang terasa nyeri untuk awal-awal berjalan
karena otot masih kaku. Setelah terbiasa, kau akan mampu berjalan lagi” Dion
tersenyum memberi semangat pada Ekel. Berpikir positif dan punya niat untuk
sembuh, pasti akan sembuh. Tergantung usaha si pelaku.
“Jika takdirku
bukan dengan kakiku, setidaknya aku ingin selalu melihat senyumnya. Aku ingin
sembuh!” janji Ekel pada dirinya sendiri. Ada orang lain yang ingin dia
bahagiakan di dunia ini.
-DUARRR....DDARRR..CETARRRR..TARRR..DUUAARR-
Gemuruh suara
kembang api meluncur ke udara. Terdengar sangat jelas dengan warna warni berbentuk
bunga raksasa diatas langit malam.
“Selamat Tahun
Baru, kak Dion!”
“Selamat Tahun
Baru, Ekel”
Tahun baru.
Hari baru. Kisah baru. Masa depan baru. Semua akan berjalan sesuai waktu yang
berputar. Malam semakin larut semakin dingin pula.
***
Anna pov.
Terhirup bau
tanah dari lembabnya udara dingin, sangat segar untuk dihirup. Terlihat
berbagai macam orang siliih berganti duduk di taman itu. Sebuah taman terlihat
jelas dari balik jendela kamarku. Aku hanya bisa tersenyum tipis melihat dari
balik kamar berukuran 4x4 meter sambil duduk manis diatas ranjang. Apa ada yang
aneh?? Semua ruangan serba putih dan pakaian yang ku kenakan seperti piyama
untuk tidur. Rambutku yang ikal tergerai pun semakin panjang saja. Selama dua
bulan terakhir, hanya ini yang aku lakukan setiap hari. Ya setiap hari. Sebuah
ruang isolasi yang hanya aku seorang diri. Kalian tahu aku berada dimana? Kyung
Hee University Hospital. Busan?? Itu semua omong kosong! Aku berbohong pada
Ekel untuk kebaikan semua. Maafkan aku, Kel. Selama tiga bulan ini aku harus
disini.
-Srekkk-
Terdengar
suara pintu bergeser. Seorang pria yang ku kenal dua bulan terakhir ini.
Seorang pria yang sama keras kepalanya seperti diriku. Dia menatapku dengan
pakaian serba hijau dan sebuah masker menutupi mulut dan hidungnya. Terlihat
dari matanya, dia tersenyum padaku. Dion.
“Bagaimana
keadaanmu?” tanya Dion mendekat kearah ranjang.
“Tak biasanya
kau datang lebih awal. Ada apa?” tanyaku balik sebelum menjawab pertanyaannya.
Ada apa dia kesini?
Selama dua
bulan, Dion yang sering menjengukku ke rumah sakit. Dia tahu tentang semuanya.
Tentang aku dan penyakitku. Ya penyakit. Semua bermula dari hasil pemeriksaan
kesehatanku pada awal musim dingin. Aku tak menyadarinya karena terlalu sibuk
untuk bekerja. Sungguh bodohnya aku!! Aku tak mempedulikan kesehatanku. Aku
mulai jengah dengan batuk-batuk yang berlebihan. Baru aku sadari, paru-paruku
terinfeksi parah. Rasa sesak dan keluar keringat berlebihan tak aku risaukan.
Mungkin, hanya terlalu lelah bekerja. Dokter berkata lain, aku mengidap
Turbekulosis atau biasa disingkat TBC. Penyakit ini mempunyai gejala
demam,berkeringat dan batuk disertai nanah. TBC adalah penyakit menular,
sehingga aku sekarang dirawat di ruang isolasi rumah sakit. Aku tak seburuk yang kalian tau, penyakitku
baru saja stadium dua dan masih bisa disembuhkan sepenuhnya.
Ini pilihan
yang aku buat. Pilihan? Waktu itu, aku dengan percaya diri mengatakan tentang
pilihan pada pria dihadapanku ini. Sekarang aku tahu, membuat pilihan tak
semudah membalikkan telapak tangan. Semua ada alasannya dan sekarang aku
mengalaminya sendiri.
“Dokter
memberikan laporan tentang kesehatanmu hari ini. Sudah dua bulan terakhir aku
melihat perkembangan kesehatanmu” jelas Dion beralih bersandar pada tembok
dekat ranjang. Aku tersenyum padanya.
“Jangan
tersenyum! Kau terlihat mengerikan dengan wajah pucatmu” dusta Dion. Walaupun
dia berkata ketus dan kasar, dia sebenarnya orang baik.
Aku tak marah
padanya, memang ini fakta adanya. Wajahku terlihat pucat dan sedikit tirus
karena penyakitku membuat nafsu makanku berkurang.
“Kau...kemari!”
aku menyipitkan mata dan menyuruhnya mendekat kearahku. Untungnya, dia menurut
begitu saja.
“Apa?”
tanyanya datar sambil menyilakan kedua lengannya didada.
Kami saling
pandang dan terdiam cukup lama. Mata yang berbicara. Ahh... sebuah adegan
romantis.
“Kau..KAU MAU
MATI HAH???!!!” teriakku sambil memukulnya berkali-kali denga bantal kearahnya.
Kepalanya menjadi sasaran empuk untuk target pukulanku. Brengsek kau!!
“Yakkk!!!
Yakk.. yakkk, apa yang kau lakukan?!” teriak Dion menghindar dari seranganku.
Romantis??
Jangan harap!!! Dari awal dia terlalu jujur mengatakan hal-hal yang membuat
orang lain tersinggung. Walaupun aku sakit, aku masih punya tenaga memberikan
pelajaran untuknya. Selalu begini setiap bertemu.
“Hahh..ahh..hah...huft”
nafasku seperti habis lari maraton saja. Nafasku tersengal-sengal tak
beraturan. Dadaku berdegup kencang.
“Bodoh!
Kau...”
Kalimat Dion
terhenti dan melihat kearah pintu kamarku. Aku bingung dengan arah tatapannya.
Aku mengikuti arah pandangnya berhenti. Oh Tuhan!! Ingatkan aku bahwa aku masih
bisa berumur panjang. Pupil mataku membesar melihat sesuatu yang tak bisa ku
percaya. Jantungku berdegup kencang dan tanganku lemas membuat bantal yang ku
pegang terjatuh begitu saja. Apa ini? Air mataku turun begitu saja.
“Ekel...”
gumamku memanggil namanya. Aku melihat Ekel duduk dikursi rodanya di depan
pintu kamar yang terbuka. Mata kami saling beradu pandang. Tersirat rasa yang
begitu lama tak tertuangkan.
“Kak Anna,
bagaimana kabarmu?” sapa Ekel tersenyum manis tanpa air mata. Semua terlihat
tak terjadi apa-apa.
“Ekel...bagaimana...”
ucapku sedikit bergetar menahan tangisku. Mataku tak terlepas melihat Ekel
mendekat kearahku.
“Jangan
menangis...” ucap Ekel menyentuh pipiku yang basah.
Air mataku
masih saja mengalir dalam diam.
“Kakak marah
padaku?” tanya Ekel menghapus airmataku.
Aku hanya
menggelengkan kepala.
“Maaf...hiks..maafkan
aku hiks hiks...maaf...huuuaaa...” hanya kata itu yang terucap dari bibirku
yang bergetar. Semua tumpah begitu saja, air mataku semakin deras tak tertahan.
Aku menangis meraung-raung bak anak kecil. Apa yang bisa aku perbuat lagi? Aku
berbohong pada adikku dan sekarang...sekarang...dia melihat keadaanku begini.
“Tidak
kak...sudah..tak apa..sudah.. kakak akan sembuh” Ekel menggenggam tanganku erat
dan menarik tubuhku dalam dekapannya. Aku sesengukan dalam pelukannya.
Tak ada yang
tahu hidup ini akan berakhir atau berlanjut ke cerita berikutnya. Aku tak tahu
Ekel menjatuhkan air matanya saat kami berpelukan. Cukup lama kami berpelukkan
dan tanpa ku sadari seorang Dion juga menitikan air matanya.
***
Tetesan embun
terjatuh dari ujung daun berwarna hijau muda. Burung-burung berkicau dengan
indahnya berjejer diatas atap rumah. Gemuruh air berlomba-lomba untuk mendekat.
Angin berhembus sangat kencangnya membuat helaian rambut panjang seorang gadis
melambai indah. Hari semakin siang, udara pun tak lagi dingin seperti sebelumnya.
Daun-daun dan bunga mulai bermekaran menandakan musim semi telah tiba. Seorang
gadis duduk manis di sebuah bangku menikmati deburan ombak dan angin nyiur melambai. Pantai. Pantai yang asri dan
hanya segelintir orang datang kesana. Sangat tenang.
“Kau lupa
memakai syalmu” suara bass seorang pria terdengar jelas. Dia tepat berdiri
dibelakang sang gadis sambil menyelimuti leher sang gadis dengan syal rajut
berwarna merah.
“Terima kasih.
Kau datang kemari?” sang gadis tersenyum dan berbalik melihat sang pria yang
sedang menatap garis lurus pantai.
“Apakah aku
tak boleh datang kemari?” Pria itu justru balik bertanya dengan wajah datarnya.
“Ternyata aku
salah bicara” ucap ketus sang gadis kembali duduk sambil mengeratkan
sweaternya.
Sang pria
beralih duduk bersebelahan denga sang gadis. Dia duduk sambil bersandar santai
tak lupa menyilangkan kaki sebelahnya.
Dia seperti berpikir sejenak.
“Aku heran
denganmu, kenapa kau selalu ketus padaku? Seharusnya kau suka padaku. Bukankah
aku tampan dan kaya? Aku seorang direktur perusahaan besar dan masih melajang
sampai sekarang. Kenapa?” berbagai pertanyaan keluar dari mulut sang pria
berceloteh tak jelas.
“Aishhh...DION!”
teriak sang gadis pada sang pria. Dion Wicaksono. Dion memiliki rasa percaya
diri akut dan membuat dirinya tak memiliki banyak teman. Malah tak punya satu
pun.
“Okey fine!
Lihat ekspresi wajahmu! Kau harusnya senang memiliki teman sepertiku” ucap Dion
menunjuk hidung sang gadis terlalu dekat. Terlalu dekat.
Semilir angin
semakin membuat suasana semakin romantis. Romantis?
“KAK ANNA!!!
KAK DION!!” seorang laki-laki muda nan tampan tersenyum sambil berlari kecil
kearah mereka. Keduanya beralih melihat kearahnya sambil melambaikan tangan.
Sesosok lelaki penuh semangat yang begitu disayang Anna dan Dion. Seorang
lelaki yang dapat membuka mata hati Anna dan Dion dalam menentukan pilihan.
“EKEL!!!”
balas Dion berteriak.
Ekel Sudrajat.
Sudah berlalu sejak pertemuan Ekel dan Anna di rumah sakit. Ekel tak lagi
dengan kursi rodanya. Dia dengan ria berlari kecil mendekat kepada kedua orang
yang ia sayangi. Dia berusaha gigih bahwa dia bisa sembuh. Keinginan dan
kerutinannya terapi membuahkan hasil, dia dapat berjalan lagi layaknya manusia
normal lainnya. Rasa syukur selalu dipanjatkannya.
“Kak Anna, ayo
masuk ke dalam! Kau sudah lama diluar rumah. Yuk!” Anna mengiyakan dengan anggukan.
Anna tersenyum
melihat adiknya berjongkok membelakangi dirinya. Anna memeluk leher Ekel erat
dan bersandar pada punggungnya. Ya Ekel menggendong Anna dipunggungnya.
=Hap!=
“Ayo pulang!”
ajak Ekel bersamaan beranjak dari bangku di tepi pantai dekat rumah penginapan
mereka. Tak ketinggalan Dion berjalan menyamakan langkahnya dengan Ekel.
Anna menepati
janjinya pada sang adik saat ini. Sebuah pantai disuguhkan sangat apik bila
terlihat dari rumah penginapan mereka tinggali sekarang. Tanpa bantuan Dion,
semua tak akan terwujud.
“Terima kasih
kak Dion” ucap Ekel tersenyum pada Dion. Dion mengacak rambut Ekel sambil
tersenyum.
Kegigihan dan
senyum Ekel membuat Anna dan Dion belajar bahwa pilihan itu ada untuk semua
orang tanpa kecuali. Mau orang itu kaya atau miskin, semua memiliki kesempatan
untuk memilih. Memilih hal yang lebih baik, sekalipun hal buruk akan menimpa
juga. Janganlah berputus asa! Semua sudah diatur akan berjalan sesuai dengan
apa yang kita lakukan sebelumnya.
The End .
Comments
Post a Comment