Ketika Hati itu Sama, Cinta itu Beda
# Cerita ini hanya fiktif belaka yang sebagian cerita diambil dari kisah nyata dan tidak sama sekali untuk menyinggung AGAMA maaupun RAS! disini saya hanya menyampaikan bahwa ini pernah terjadi dikehidupan nyata. Mohon maaf sebelumnya bila ada yang tersinggung. Terima kasih. Take a bow.
>>>>>>>>
Pagi hari dihiru
pikuk kota besar ini. Sebuah kota pusat dari berbagai macam hal dan banyak suku
maupun ras ada disini, Jakarta. Pagi yang indah tertutup oleh macetnya
kendaraan berburu waktu kerja. Disana ada aku diantara mereka.
“Masih ada waktu” gumamku sambil
berjalan cepat menelusuri lorong ruangan sebuah gedung yang terlihat hanya
orang hilir mudik memegang beberapa dokumen kerjaan.
Jam tanganku menunjuk pukul
07.45 wib. Seperti biasa, aku mengenakan pakaian kerja cukup simple menurutku.
Hem berwarna merah marun tertempel indah di tubuhku, tak lupa rok hitam polos
panjang selutut, sepatu berhak 5 cm berwarna hitam menempel di telapak kakiku,
dan sebuah tas jinjing cukup besar memuat semua dokumen kantor yang ku bawa
dari rumah. Aku berhenti tepat di depan ruangan bertuliskan Acounting Room dan
tanpa pikir panjang aku menerobos masuk kesana.
“SELAMAT PAGI!!” teriakku
semangat menyapa teman-teman sekantorku. Senyum terpatri indah dibibir merah
merona terbalut lipstik.
Aku jadi peran utama di
ceritaku. Peran utama?? Bisa jadi. Kenalkan, aku Senja. Aku hanya seorang
perempuan yang hidup merantau di ibu kota tercinta Jakarta. Aku bekerja sebagai
staf akunting di sebuah perusahaan besar, sebut saja PT Gloden Tbk. Mayoritas tim kerjaku di perusahaan
orang-orang berkulit putih dan bermata sipit. Hampir semua, tapi tak mengalangiku
untuk menjadi tim kerja baik dengan mereka. Kita disini ataupun diluar tak
memandang perbedaan suku maupun ras karena disini Jakarta, tempat dimana semua
orang berkumpul dari berbagai bangsa.
Hari-hariku dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja hingga larut malam.
“Pagi...Senja” sapa seorang pria
berperawakan tinggi, berkulit putih, dan bermata sipit. Tak lupa sebuah
kacamata terbingkai indah pada hidung mancungnya. Awan namanya. Dia teman
sekantorku sekaligus sang kekasih hati. Sudah dua tahun aku menjalin hubungan
dengan Awan. Dia seorang pria baik hati yang selalu mengerti keadaanku di ibu
kota ini. Rasa sayang perlahan tubuh dan membuatku tak bisa berpaling dari
dirinya. Kata orang, cinta itu buta dan
terkadang aku terhipnotis oleh kalimat pepatah itu. Terhanyut kedalamnya dan
apakah bisa tersadar kembali? Inilah ceritaku...
***
Senja dan Awan selalu bersama.
kemanapun Senja pergi, pasti Awan akan mengantar dan menjemput dirinya. Sungguh
lelaki idaman perempuan. Mungkin jika didunia dongeng, pangeran berkuda putih,
sedangkan di metropolitan seorang pembisnis berkendara mobil. Senja tak melihat
dari sisi itu, tapi inilah nilai plus yang dimiliki kekasih hatinya.
Hari minggu. Cuaca pagi juga
sangat mendukung untuk pergi jalan-jalan. Senja dan Awan ada rencana pergi
hangout bersama. Mereka selalu melakukan hal tersebut setelah Awan melakukan
ibadahnya. Senja menunggu Awan dengan senyum mengembang dibawah pohon rindang
dekat tempat ibadah Awan bersembahyang.
Inilah perbedaan Senja dan Awan. Awan beragama Kristen. Setiap hari
minggu dia berkunjung ke Gereja tempat dia biasa sembahyang dan selalu ada
Senja menunggu di bawah pohon rindang dekat gereja. Awan menyadari hubungannya
dengan Senja sedikit berbeda. Kata orang, perbedaan itu indah. Awan tahu itu. Dia
meninggalkan deretan bangku kayu yang terhias indah didalam gereja. Wajahnya
sumringah melihat Senja sedang duduk dibawah pohon sambil membaca novel kesukaannya.
“Senja!” teriak Awan memanggil nama sang kekasih hati. Dia menghampiri
Senja yang tersenyum padanya.
“Hai! Sudah selesai?” tanya Senja beranjak dari sana.
“Sudah. Terima kasih sudah menungguku disini. Yuk, kita pergi!” ajak Awan
sambil menggandeng tangan Senja.
“Yuk!” jawab Senja.
Mereka berdua menikmati akhir pekan dengan menyenangkan. Jalan-jalan
layaknya orang lain berkencan pada umumnya. Nonton bioskop, karaokean, atau
sekedar minum coffe di cafe. Waktu terus berjalan hingga...
Allahu Akbar...Allahu Akbar
Terdengar suara adzan
berkumandang.
***
Senja pov.
Allahu Akbar...Allahu Akbar
Terdengar suara adzan
berkumandang. Terik matahari semakin
menyengat.
“Beb, adzan dzuhur. Sholat dulu
sana!” ucap Awan mendengar adzan. Aku tersenyum mendengarnya. Ya.. aku harus
menjalankan ibadah 5 waktuku.
“Iya.. aku cari mesjid terdekat
ya” ucapku meminta ijin untuk keluar sebentar dari area mall yang kita
kunjungi.
“Aku temani ya! Tadi aku lihat
ada mesjid disamping mall ini” Awan menawarkan diri untuk menemani.
Ini sudah jadi kebiasaan kita untuk saling bertenggang rasa satu sama
lain, walaupun kita berbeda agama. Ya.. aku seorang muslim. Sholat dzuhur yang
aku lakukan sekarang adalah salah satu sholat 5 waktu dalam sehari. Aku muslim,
tapi tak berhijab seperi muslimah lainnya. Entah kenapa dengan nama hijab,
hatiku belum memantapkan diri mengenakannya. Aku tahu bahwa itu wajib bagi
seorang muslimah.
Aku berdoa dalam setiap sholatku pada sang Maha Kuasa dan Segalanya.
Hanya Dia yang dapat mendengarkan suka cita diriku.
‘Ya Allah... hamba bersyukur atas segala rahmat dan rejeki yang kau
berikan pada hambamu ini dan berikanlah jalan kemudahan pada hubungan kami yang
selama ini kami bina, Ya Allah...Apabila dia jodohku dekatkanlah, tapi jika dia
bukan jodohku janganlah Kau buat kami saling merasakan rasa ini... hanya padaMu
aku berserah diri. Semoga Kau mendengarkan setiap doaku. Amin...’ batinku dalam
setiap doa yang ku panjatkan disetiap sholatku.
Sejenak diriku merenungkan diri setelah sholat. Apakah ini benar? Apa
yang harus aku lakukan? Hati ini gundah gulanda menghadapi perasaannya. Disatu
sisi, nanti ada yang tersakiti atau justru bahagia.
“Huft....” hanya hembusan nafas panjang sebelum aku beranjak dari mesjid.
Terlihat Awan sedang duduk ditangga depan pintu mesjid. Dia sedang
melihat entah kemana. Terkadang aku bertanya, apakah kita salah menjalani
hubungan ini? Ada sedikit keraguan disana, namun aku tepis rasa pesimisku itu.
Aku meyakini akan ada jalan untu hubungan kita.
Mata kami saling beradu dan tersenyum satu sama lain.
***
Sebuah kesibukan atau beberapa kesibukan membuat Senja melupakan waktu
yang ia jalani cepat berlalu. Bulan penuh hikmah bagi kaum muslim di dunia.
Bulan Ramadhan. Senja menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan dengan
menahan hawa dan nafsu selama satu bulan lamanya. Tidak makan dan minum dari
matahari terbit hingga terbenam. Dia wajib melakukannya sebagai seorang muslim
tiap tahun sekali di bulan suci Ramadhan. Awan sebagai kekasih hati sangat
menghargai puasa yang dijalani Senja disaat bulan Ramadhan, bahkan dia mencoba
untuk melakukan puasa seperti Senja.
“Bagaimana puasamu?” tanya Senja sambil tersenyum.
“Huft...” Awan menghela nafas panjang sambil bersandar pada kursi di meja
kerjanya.
Senja hanta tersenyum melihat tingkah Awan yang menjadi jawabannya.
“Terlalu beratkah? Kalau kau tidak kuat, jangan dipaksakan untuk
berpuasa!” ucap Senja tersenyum sambil
menyerahkan berkas kerja.
“Bukan begitu, hanya saja terasa haus karena cuaca sangat panas diluar.
Kenapa kau bisa kuat menahan makan selama setengah hari selama sebulan? Aku mulai
tak kuat” tanya Awan memegang tenggorokannya yang terasa kering.
“Ini sudah kewajibanku sebagai seorang muslim. Aku menjalankan perintah
Tuhan yang sudah ada dalam agamaku. Awalnya memang tak kuat menahan dahaga,
tapi karena terbiasa semua jadi terasa ringan. Apakah kau ingin melanjutkannya?
Aku tidak memaksamu untuk berpuasa. Aku khawatir kau akan jatuh sakit kalau
melanjutkan puasamu” jelas Senja seadanya karena dia bukanlah seorang ustadzah
yang tau segalanya.
“Maafkan aku, Senja. Aku sudah tak bisa menahan rasa hausku” ucap Awan
menyesali keinginannya. Raut wajahnya terlihat lucu ketika cemberut.
“Tak apa, itu hakmu untuk berpuasa atau tidak” senyum Senja menyejukkan
hati sang kekasih hati.
Senja berlalu pergi untuk melakukan pekerjaannya kembali.
“Senja!” panggil Awan sebelum Senja membuka pintu ruangan kerjanya.
“Apa?” tanya Senja berbalik melihat kearah Awan tanpa meninggalkan
tempatnya.
“Apakah kau ada waktu luang minggu depan?” tanya Awan menggaruk tengkuk
kepalanya yang tak gatal. Sedikit malu.
“Tak ada. Ada apa?” tanya Senja heran.
“Aku ingin mengajakmu ke rumahku, bisa?” harap Awan menanti jawab Senja.
“Tentu!”
“Aku senang mendengarnya dan tak sabar menunggu” Awan sumringah mendengar
jawaban Senja.
“Bye!” Senja berlalu pergi.
Senja... sadarkah kau? Cerita ini akan terus berlanjut...
***
Senja pov.
Aku tak habis pikir dengan mengiyakan undangan Awan ke rumahnya. Oh
Tuhan! Ini membuatku sangat gugup. Terlihat sebuah rumah sederhana nan asri
dengan taman kecil di depannya. Banyak bunga-bunga mengelilingi pagar rumah.
Tepat sekali! Aku sudah berada di depan rumah Awan. Awan berada tepat
disebelahku dan menggandeng tanganku.
“Kau terlihat cantik hari ini. Apakah kau gugup?” Awan tersenyum
menenangkan isi hatiku.
“Huft... sudah tau, jangan bertanya lagi!” jawabku menggembungkan pipi
dan ini membuat Awan tertawa kecil melihatku. “ Kenapa tertawa?” tanyaku
sedikit kesal.
“Tidak. Hihi... sudahlah! Ayo masuk!” Awan mengajakku untuk masuk.
Pintu utama terbuka. Ruangan sederhana, simple namun elegant serta cat berwarna
putih mendominasi setiap ruangan.
“Selamat malam” suara seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunanku.
Cantik diusianya.
“Mama, Papa... perkenalkan, dia Senja, teman spesialku” ucap Awan menyapa
ibunya dengan pelukkan hangat.
“Selamat malam, Tante, Om” sapaku sopan sambil menyalami keduanya. Rasa
gugup terasa mengalir entah kemana. Kedua orang tua Awan menerimaku dengan
senang hati dirumah mereka.
Makan malam yang telah dinanti sejak tadi. Sebuah meja makan bundar sudah
tersaji beberapa lauk pauk untuk disantap malam ini. Aku duduk bersebelahan
dengan Awan dan kami melingkari meja makan.
“Sebelum makan, kita berdoa terlebih dulu” pinta Ayah Awan sopan. “Berdoa
mulai!”
Kami berdoa. Berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Aku menelungkupkan
kedua telapak tanganku berdoa sambil memejamkan mata sejenak, sedangkan Awan
dan keluarga menyatukan kedua telapak tangan mereka. Aku tahu itu, tapi...
“Selesai, Ayo dimakan!” selesai berdoa, kami menyantap makanan bersama.
Obrolan demi obrolan membuat kita saling nyaman untuk berbincang dan
sebuah pertanyaan sedikit sensitif terlontar.
“Maaf.. nak Senja, Tante boleh bertanya?” tanya Ibu Awan padaku saat kami
berada di ruang tamu.
“Tentu, Tante. Ada apa?” tanyaku sedikit heran.
“Tadi...sewaktu sebelum makan. Nak Senja, beragama Islam ya?” tanya Ibu
Awan sopan tidak bermaksud menyinggung soal agama.
“Iya, Tante. Saya muslim” jawabku jujur. Aku harus siap menerima
pertanyaan ini. Aku tak mau membohongi diriku. Inilah aku dan aku harap semua
orang menghargainya.
“Oh.. Tante hanya ingin tahu saja” ucap ibu Awan tersenyum.
“Sudah berapa lama kalian berhubungan?” tanya Ayah Awan pada sang anak.
“Sudah dua tahun, Pah” jawab Awan mantap.
Waktu tak terasa telah berlalu. Malam pun semakin larut. Suasana
kekeluarga sangat terasa di kediaman Awan. Perasaan bahagia menyelimuti diriku
ketika beranjak pulang dari rumah kedua orang tua Awan.
***
Bintang berkelap kelip memenuhi langit malam ini. Sebuah taman bermain,
duduk sepasang kekasih di ayunan berwarna biru. Bermain sejenak menikmati
bintang.
“Kau senang?” tanya Awan menengok kearah Senja yang sedang bermain
ayunan.
“Senang. Apakah kau juga?” tanya balik Senja menengok kearah Awan
disebelahnya.
“Iya. Tadinya, aku juga merasa gugup seperti dirimu. Baru kali ini, aku
mengenalkan dirimu pada orang tuaku. Padahal.. kita sudah berhubungan selama
dua tahun lebih. Maaf...” ucap Awan tersenyum tipis memperlihatkan lesung
pipinya. Sungguh manis.
“Untuk apa kau minta maaf?! Aku merasa bahagia sekarang. Kau dengan
berani memperkenalkan hubungan kita pada mereka. Terima kasih, Awan...
“ucap Senja tersenyum menatap wajah
Awan.
“Kau tau, Senja?” tatap Awan mendalam.
“Apa?”
“Kau cantik”
“Gombal! Haha... “ tawa Senja mencairkan suasana malam indah ini.
“Aku tak menggombal!! Aku serius...kau cantik!” ucap Awan menatap Senja
tersenyum dan saling mengenggam tangan.
“Cantik? Terima kasih pujiannya. Aku tak ingin cantik hanya fisikku saja,
tapi aku sedang berusaha menjadi cantiknya hatiku dimata Tuhan dan suamiku
kelak” ucap Senja bagaikan petikan puisi.
“Aku yang akan menjadi suamimu kelak” ucap Awan mantap dan yakin sekali.
“Insya Allah.. semoga kau adalah jodohku” Senja balas tersenyum.
Semoga...
***
Senja pov.
Dalam benakku selalu aku berpikir dan berpikir. Ya aku tahu aku salah.
aku tak mau munafik pada diriku sendiri. Aku tahu dalam Islam tak ada yang namanya
‘pacaran’ dan dan saling bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Aku berdosa
dalam hal ini. Maafkan aku Tuhan. Aku tahu, seorang muslimah berkewajiban untuk
berhijab. Berhijab? Sudah sejak lama aku ingin mengenakan hijab, tapi hati ini
belum memantapkan hati.
“Awan...” gumamku terbesit dalam ingatannku.
Aku tahu hubungan kami sudah berjalan lama dan tak tahu akhirnya. Aku
hanya bisa menunggu dan menunggu. Menunggu sampai kapan? Kapan? Perbedaan
inilah yang membuat aku dan dia merasa terganjal. Kami berusaha saling menerima
satu sama lain. Aku selalu bersujud sembahyang dan berdoa padaNya. Hanya hukum
Tuhan yang berlaku dan aku sedang berusaha menjalankanya sedikit demi sedikit.
Pada saat aku bercermin melihat bayanganku sendiri.
“Aku...” gumamku pelan tak terdengar.
Hari demi hari telah berlalu begitu pula dengan hatiku yang selalu
bergejolak untuk memilih. Memilih sebuah kenyaman hati. Aku dan Awan berjalan
menelusuri tepian pasir putih. Pasir putih yang terus berbisik dan deburan
ombak yang menyapa jari-jari kakiku. Aku memandang pantai yang terbentang entah
sampai mana ujungnya.
Awan berdiri disampingku sama halnya menikmati deburan ombak. Hubungan
kami baik-baik saja. Ya baik-baik saja. Sampai...
“Kau sangat cantik hari ini!” ucap Awan melihatku yang berbeda.
Berbeda? Ya... Biasanya, rambutku yang tergerai terkena angin pantai,
tapi sekarang... ujung kain hijabku yang melambai indah di kepalaku. Aku telah
memutuskan untuk belajar. Belajar mengenakan hijabku sebagai seorang muslim.
Aku tahu, aku belumlah sempurna, tapi aku sedang mencoba karena inilah yang
harus aku jalani. Begitu pula dengan...
“Maafkan aku, Awan. Mungkin... ini sangat egois bagimu. Inilah keputusan
yang sudah ku ambil” ucapku melihat kearahnya.
“Kau memang egois! Tapi.. aku ikut berpikir dengan apa yang kau pikirkan.
Tadinya.. aku sangat marah dengan keputusanmu. Aku suka denganmu sebelum maupun
setelah kau berhijab. Aku menerimamu apa adanya. Senja... tahukah kau? Aku
sangat mencintaimu” Awan menitihkan air matanya. Baru kali ini aku melihatnya
menangis dalam diam.
“Cinta. Terima kasih atas cinta yang kau berikan padaku. Aku juga
mencintaimu, tapi aku ingin cinta kita tidak berlandaskan nafsu belaka. Aku
tahu..kita sama, sama-sama takut pada Tuhan. Aku takut pada Tuhanku dan kau
juga takut pada Tuhanmu. Aku harap kau mengerti akan hal ini. Maafkan aku jika
membuatmu tersinggung, tapi inilah jalanNya” jelasku tak kuasa menitikan air
mata. Aku juga manusia biasa yang memiliki kekurangan dan hawa nafsu. Ketika
nafsu menyelimutiku, hanya sebuah keegoisan diri yang ada.
“Aku hargai keputusanmu. Aku tak berhak menghalangi jalanmu menuju
Tuhanmu dan akan berdosa bila ku melakukannya. Tapi, apakah kita masih bisa
menjadi teman?” tanya Awan menatapku. Sakit melihatnya, tapi inilah jalanNya.
“Tentu! Aku berharap juga menjadi temanmu. Kita harus tetap menjalin
silahturahmi ini sampai kapanpun dan tak ada kata benci diantara kita” senyum
mengembang indah dibibirku. Hati yang terasa mengganjal entah pergi kemana
sekarang. Rasa lega yang ku rasakan semakin menyamankan batinku.
“Teman” ucap Awan mengulurkan tanganknya meminta berjabat tangan.
“Teman” ucapku tapa kedua tanganku sebatas dada sambil tersenyum padanya.
Bukannya menolak untuk bersalaman, tapi ini aturanNya.
Matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi kuning menyinari
air laut yang biru. Awan tersenyum dan menarik kembali tangannya. Kami
tersenyum. Waktu malam hampir tiba, kamipun beranjak pergi dari sana, memilih
jalan berlawanan menghindari matahari yang mulai meredup. Inilah jalan hidupku
dan hidupmu.
Katanya, perbedaan itu indah, tapi ada kalanya perbedaan itu pengorbanan.
Pengorbanan hati. Bukannya satu yang tersakiti, tapi dua hati yang tersakiti. Tapi,
dibilang korban maupun tersangka juga bukan. Tak ada yang disalahkan disini,
karena kita tak tahu siapa yang salah, hanya Tuhan yang tahu. Tak ada yang tahu
takdir Tuhan karena semua skenario hidup hanya bisa dibuat oleh penulisNya.
Jadi.. kemana cerita ini berujung???
The end
Comments
Post a Comment