Eyes, Lips and Heart (Gone)
“AAAAARRRGGGGHHHHHHHHHHHHH!!!!!”
Teriakan lantang berkumandang
sangat keras. Sekeras apapun aku berteriak, tak akan ada yang peduli maupun
berkomentar. Terpaan angin kencang menerpa helaian rambut hitamku yang
tergerai. Tak ada satupun yang akan peduli karena tak ada satu orangpun disana.
suara deburan ombak yang berguling saling berkejaran untuk menepi, membuat
hatiku merasa tenang. Air mata keluar begitu saja dari pelupuk mataku. Tak ada
suara isakan keluar dari bibirku. Untuk apa meneteskan air mata? Kalau semua
itu tak akan mengubah apapun. Ya apapun! Semua masih saja sama. Sedikit getir
dan rasa putus asa menyelimuti, namun terhalang oleh dinding yang sangat kokoh.
Dinding kokoh inilah yang menjadi tempatku berdiri, jika dinding ini runtuh...
seketika itu juga aku akan runtuh pula.
Aku berjalan lemas tak berdaya
menelusuri tepian pantai. Terasa pasir berbisik tenggelam dalam deburan ombak.
Lemah? Ya aku lemah tak berdaya. Tapi... apa pedulimu?! Ini AKU bukan KAU! Langkahku
terhenti sejenak menikmati deburan ombak menyentuh telapak kakiku. Air mataku
berhenti entah sejak kapan dan sedikit senyum ku berikan pada...
“Kau tahu aku berada disini?”
suara bass terdengar berat, jelas sekali dia seorang pria.
“Sudah tau masih bertanya. Aku
tahuu itu kau” ucapku dengan senyuman paksa.
“Apakah kau sedang menyesali
hidupmu lagi?” tanya dia santai padaku.
Sudah terlalu sering aku
mendengar pertanyaan ini. Terlalu sering dari mulut pria ini. Aku bosan
mendengarnya.
“Huft.. bukan urusanmu!” jawabku
datar tanpa ekspresi, masih menatap hamparan laut yang luas didepan mataku.
“Menangislah... menangis
sepuasnya! Hanya ditempat ini, kau bisa menluapkan isi hatimu. Mungkin, aku tak
bisa membuat kesedihanmu berkurang. Aku tak berharap kau mau bercerita apa yang
kau rasakan. Kau.. kau sudah menganggapku ada, itu sudah lebih dari cukup. Kau
mengerti?” dia berucap seperti ibu peri yang selalu datang menolong. Ibu peri??
Hei, dia pria! Okey! Sikapnya bagaikan ibu peri yang tahu segalanya tentangku.
Itu membuatku terkadang muak. Aku tak suka dikasihani!
Aku masih diam seribu bahasa.
Diam. Leher dan punggungku mulai terasa hangat. Sebuah rangkulan lengan
melingkar dileherku. Aku tahu... dia memelukku dari belakang.
“Kau tidak bosan menangis dan
berteriak terus seperti itu,heh?!” gumamnya terasa jelas di telingaku. Dia
seenak jidat bersandar dibahuku.
“Lepas!” pintaku sinis padanya
tanpa bergerak.
“Tidak”
“Lepas!”
“Tidak!”
“Lepas! Lepas atau tabok ?!” ucapku kesal tapi
terdengar memerintah.
Dia tahu diri. Aku tahu dia
sedang tersenyum mendengarku bicara walaupun tak menanggapi ucapannya.
Punggungku mulai terasa dingin, sangat jelas dia melepas pelukkannya. Tanpa
pikir panjang, diriku berjalan menjauh darinya. Aku harus pergi dari sini.
“HEY!! KAU MAU KEMANA? WOY!!”
teriaknya masih disana.
Aku tak peduli dan terus
menelusuri pasir putih yang berbijak. Aku tahu... malah sangat tahu sekali
bahwa diriku terlalu egois dan angkuh untuk saat ini. Hidup sebagai gadis yang
selalu bergantung pada orang lain, aku sangat egois. Indera ini yang membuatku
tak berdaya, aku seperti orang linglung yang tak dapat membedakan warna. Hanya
hitan dan gelap pekat yang ku lihat. Ya... aku buta. Sejak itulah, aku lebih
menajamkan indera perasa dan pendengaranku. Pria itu? entahlah... sejak kapan
dia ada disekitar hidupku. dia selalu datang tanpa rasa kikuk menghadapi keegoisan
diriku. Apakah dia teman?Teman? Apakah dia tulus menjadi temanku? Aku tak
percaya itu. Mungkin, inilah dinding kokoh yang selalu ku buat sendiri. Ya! aku
yang salah...sangat salah karena hanya gelap dala hidupku, dinding inilah yang
mebuatku tetap bertahan.
“LEA!! TUNGGU AKU!!!”
Terdengar teriakannya semakin mendekat
kearahku. Aku tersenyum mendengarnya berteriak dan terbesit dalam ingatanku seseorang
yang sangat berharga dalam hidupku. Seseorang yang selalu ceria mewarnai
hidupku. Seseorang yang selalu tersenyum disaat dia menahan sakitnya.
“I miss you...Kevin” gumamku
terasa getir dan terus berjalan menelusuri pasir berbisik.
The end
Comments
Post a Comment