Halusination (Heal Me)
Sebuah tempat
yang tak mungkin terpikirkan oleh siapapun. Tak ada yang tahu selain mereka.
Mereka? Dua makhluk kecil tanpa dosa dengan muka polosnya. Dua raut wajah yang
menyinarkan kepolosan dan kebahagiaan masa kecilnya. Tapi... raut wajah itu tak
ada. Beberapa rasa yang ada menjadi satu tanpa terkecuali. Tatapan mata dan
raut wajah ketakutan teramat dalam. Tak ada rona merah di pipi, hanya beberapa
bekas luka dan kotoran debu menempel ditubuhnya. Sakitkah? Jangan tanyakan
rasanya seperti apa?! Rasa yang tak bisa terungkapkan. Ada satu kata yang
membuat ini bisa semakin rumit atau sebaliknya. “Diam”.
Dua anak berumur
lima tahun yang hanya tahu bermain harus merasakan kegelapan tanpa celah. Mereka
pun tak tahu bagaimana cara keluar dari belenggu bernama gelap. Masih ada
harapankah? Dapatkah mereka berdua
menolong diri mereka sendiri tanpa bantuan orang lain? Tanpa sesuatu yang
melindungi mereka. Kegelapan yang pengap
sehingga tak dapat bernafas pun masih ada setitik cahaya disana. Setitik,
walaupun setitik itu adalah sebuah cahaya. Setiap teriakan dari suara dua anak
yang menangis minta tolong terasa memilukan. Mereka butuh pelukkan, kasih
sayang, dan bisikkan. Hanya satu kalimat terdengar nyaman dan merasa dilindungi
pada pendengaran mereka saat ini. Butuhkah uang, berlian, permata, atau mainan?
Tidak. Dua anak ini sangat membutuhkannya saat ini. “Ayah sayang kamu, Nak”
Mereka hanya
berteriak “Huaa..hu..hu..Ayah tolong! Hiks..hiks..” ,“Buka pintunya!! Aku takut...aku
mohon..”, tak ada jawaban atau bisa jadi
sang Ayah tak tahu. Rasa terbelit kesakitan terdalam yang semakin tak bisa
diobati. Terlambat. Rasa itu menggrogoti pikiran dan hatinya.
“Kakak... jangan
tinggalkan aku! Hiks..hiks..” gumam seorang anak gadis sambil melingkarkan
kedua tangannya pada kakinya.
“Aku tak akan
meninggalkanmu! Aku akan selalu menjagamu” ucap seorang anak lelaki seumuran
dengannya.
Kedua anak
berstatus kakak beradik. Sebuah perlindungan seorang kakak pada adiknya. Apakah
kakak takut? Ya , Kakak takut. Tapi rasa takut ini telah terbalut dengan rasa
kesal akan peristiwa ini.
“Janji?” tanya
sang adik minta sebuah kenyamanan berada disisi orang yang ia sayangi.
“Janji” sang
kakak tersenyum mantap sambil saling mengaitkan jari kelingking tanda kesepakatan
benang merah kasat mata. Keduanya tersenyum.
Ada rasa untuk
melindungi tubuh lemah disebelahnya. Ada rasa ingin kabur dari tempat ini.
semua rasa bercampur aduk. Rasa takut dan keberanian bercampur menjadi satu. rasa
manakah yang akan mengendalikan hati dan pikiran kedua anak ini?
=ceklek=
Terdengar suara
pintu terbuka. Terlihat bayangan hitam manusia dewasa mengangkat tangannya
menghapiri mereka. Pupil mata mereka membesar, rasa takut lebih mendominasi
pikiran mereka. keduanya saling berpelukkan sebelum bayangan itu mendekat.
“Jangan...ja..ngan
pukul kami lagi! jan..ngan...” ucap mereka terbata-bata.
Bayangan itu
semakin mendekat. Selangkah lagi tak akan ada yang selamat. Bayangan itu tepat
berhenti di depan mereka. Apakah sudah tak ada lagi setitik cahaya? Apakah
mereka tak layak hidup?
“Hiks..hiks..
ja..ngan...” ucap sang kakak melindungi adiknya dari bayangan itu.
Satu kejutan
yang tak dapat mereka lupakan seumur hidup mereka.
“JANGAAAANNNN!!!”
“AAAARRRGGGHHH!!!”
***
“Akh!” seorang
lelaki remaja menahan rasa sakit di kepalanya. Rasa yang membuat dia ingin
memuntahkan semua tanpa tersisa. Keringat dingin keluar deras menahan rasa
sakit yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Sebuah buku terjatuh dari genggamannya
tanpa ia pedulikan.
“Kau sedang apa
disana, Kak?” tanya seorang gadis tersenyum padanya dari kejauhan.
Lelaki ini menatap
mata teduh sang gadis yang membuat rasa sakit kepalanya hilang seketika. Sebuah
senyum terpatri indah pada sang gadis.
“Kakak
menjatuhkan ini. Buku apa ini?” tanya sang gadis memungut buku yang terjatuh
tadi.
“Kau... itu
hanya buku bacaan biasa. Ayo kita keluar, adikku sayang...” ucap sang kakak
mengambil sebuah buku dari tangan sang adik dan meletakkannya di meja.
‘Sekalipun, kau
bermimpi buruk... kakak, akan selalu menfsirkan mimpi burukmu menjadi sebuah
keberuntungan, karena... kau adikku. Masa itu... masa lalu yang harus kau
lupakan dan aku yang akan menyembuhkanmu dari masa lalu kita.’ batin sang
kakak mengkaitkan telapak tangan mereka sambil berjalan keluar menghirup udara
segar.
“Buku apa tadi?”
tanya sang adik penasaran.
“Novel...novel
misteri berjudul Halusinasi” jawab sang kakak tersenyum.
The end
Comments
Post a Comment