Cinta Pertamaku
Namaku Risa. Sekarang mataku terpana pada
sesosok lelaki tampan yang sedang duduk bersandar pada batang pohon rindang.
Sepertinya dia sedang membaca buku. Entahlah buku apa. Setiap hari aku selalu
melihatnya lewat jendela ruang belajar kuliahku. Ah iya, aku seorang mahasiswa
semester pertama di sebuah Universitas swasta. Lelaki tanpa ini selalu
menghiasi ingatanku saat ini. Aku kenal? Tidak. Aku hanya menatapnya dalam
diam. Namanya saja aku tak tahu. Perawakannya tinggi tegap, berkulit putih dan
mengenakan kacamata bertengger dihidungnya. Ada satu lagi yang membuatku suka,
senyum manisnya. Hati ini terasa berbunga-bunga. Rasa jatuh cintakah? Aku rasa
iya.
Hari
demi hari berlalu. Aku melakukan aktivitas sehari-hariku dengan belajar di
kampus. kegiatan rutinku melihat lelaki itu dari jauh pun masih aku lakukan.
“Huft...”
aku menghela nafas panjang. Aku sedikit kecewa. Dia tak ada disana sekarang.
Kemana dia? Aku menundukkan kepala.
“Risa!
Kenapa kau murung?” terdengar suara bass mengkhawatirkan raut wajahku.
Dito.
Dia teman sekampusku. Apabila ada tugas kelompok kami selalu mengerjakan
bersama. Dia lelaki baik dan ramah terhadap semua termasuk diriku. Dito tahu
kalau aku sering melamun memandang luar jendela setiap ada kelas. Dia juga tahu
siapa yang aku lihat setiap hari.
“Huft...tak
ada” gumamku kecewa.
“Ohh..
lelaki itu” ucap Dito melirik luar jendela.
“Eh? Bagaimana
kau tahu?!” tanyaku terkejut.
“Aku tahu karena
kau sering memandang luar jendela. Cukup tampan” Dito memperbaiki posisi
duduknya disebelahku.
“Jangan kau
bilang siapa-siapa ya! please....” mohonku memelas dengan mata genitku.
Dito hanya
melirik dan sepertinya menahan tawa.
“hmmm...Bwahahahah...
cukup! Kau terlalu aneh mengedipkan matamu seperti itu. haha...” tawa Dito
sungguh menusuk hatiku bertubi-tubi.
“Sialan!” umatku
kesal.
“Hahaha...” Dito
masih saja tertawa tak jelas.
Semoga saja dia
besok ada disana. Tekadku sudah bulat untuk berkenalan dengan lelaki itu.
Harus!!!
***
Para mahasiswa
berhamburan kemana-mana. Jam waktu kuliah Risa telah usai. Semua keluar ruangan
dengan aktifitasnya masing-masing. Risa berlari kecil sambil menjinjing
beberapa buku ditangan.
“Risa, kau mau
kemana?” teriak Dito yang masih berdiri di depan pintu ruangan.
“Aku ada perlu
sebentar!! Doakan aku berhasil ya!!!” teriak Risa berlari kembali. Senyum
mengembang manis dibibirnya.
Langkahnya terus
tertuju pada sebuah taman kecil dengan sebuah pohon besar bertengger disana. Sebuah
taman yang teduh karena tertutup ranting dan daun pohon tersebut. Langkahnya
terhenti sekitar tiga meter dari pohon itu. Jantung Risa berdegup kencang.
Bunyinya dag..dig...dug..
‘Bagaimana ini?’
batin Risa gelisah. Dia hanya mengigit bibir bawahnya resah. Tapi, rasa itu
harus dia buang jauh-jauh. Hari ini adalah hari dimana dia harus mengenal lelaki
yang menggoyahkan hatinya.
Risa mendekati
sosok lelaki itu disana. Sosoknya terlihat jelas dimata Risa. Terlihat lebih
tampan dari dekat. Lelaki itu sedang menunduk membaca buku, jadi tak menyadari
kedatangan Risa.
“Permisi...”
sapa Risa sedikit terbata.
Sang lelaki
mendongakkan kepala dan terlihat heran melihat seorang gadis menyapa dirinya.
Sempat terjadi kesunyian sesaat.
“Ya...” jawab
sang lelaki masih duduk bersandar.
“Boleh saya
duduk disini?” tanya Risa sambil mengeluarkan senyum terbaiknya.
“Tentu saja,
inikan tempat umum” senyum sang lelaki ramah.
Risa sungguh
beruntung hari ini. Ternyata lelaki yang selama ini dia kagumi sangat ramah.
Risa duduk bersila diatas rumput yang bergoyang. Angin sepoi menerpa rambut
panjang Risa yang tergerai indah. Sejenak Risa menikmati hembusan angin. Dia
melihat kearah buku yang sedang dibaca sang lelaki.
“Dunia
fotografi... kau suka foto?” tanya Risa memulai pembicaraan.
“Eh?? Oh iya,
aku baru membaca ini beberapa hari yang lalu. Cukup menarik artikelnya” jawab
lelaki itu memperlihatkan judul buku yang ia baca.
“Ohh.. hmm,
sebenarnya aku kesini ingin berkenalan denganmu. Apakah aku mengganggumu?” ucap
Risa sedikit ragu.
Lelaki itu hanya
menatap Risa. Mungkin dia beranggapan bahwa Risa adalah gadis genit seperti lainnya.
Ah terserah atas pemikiran dia. Risa hanya ingin tahu namanya.
***
Risa pov.
“Rafa” dia mengulurkan tangannya padaku.
Aku sempat diam
harus bagaimana. Padahal aku sendiri yang minta berkenalan. Dia tersenyum
melihatku.
“Risa” aku
menjabat tangannya tanda perkenalan.
Perkenalan kami
dimulai dengan mulus. Semulus wajahnya yang putih bersih. Tak aku sangka, Rafa
adalah seniornya di kampus. Dia kuliah jurusan Akuntansi semester akhir. Kami
larut dalam obrolan seru. Tak ku sangka, dia sangat ramah dan ramai diajak
mengobrol. Rafa selalu mengumbar senyumnya kepada siapapun.
Hari berganti
hari. Bulan berganti bulan. Setiap kali aku bertemu dengan Rafa, Dito selalu
mendengarkan isi hatiku. Dia sungguh sahabat yang baik. Ketika senang dan sedih
dia selalu mendengarkan aku.
“Kau jatuh
cinta” ucap Dito yang selalu malas mendengar celotehanku. Mungkin bosan.
“Aku rasa
begitu” aku tersenyum memikirkan Rafa.
“Kau masih
sering bertemu dengan Rafa?” tanya Dito yang sibuk main Psnya.
“Akhir-akhir ini
dia jarang terlihat dikampus dan sampai sekarang belum tahu kabar dari dia”
“Coba telepon dia!” suruh Dito masih asik bermain.
“Aku sudah
beberapa kali hubungi dia, tapi tak aktif” gumamku lirih.
Aku hanya
mempoutkan bibir tanda kesal. Dito berhenti bermain PS dan duduk disebelahku.
“Aku rasa... dia
sudah punya kekasih” ucap Dito mantap dan beranjak pergi entah kemana.
Aku masih
memproses kalimat Dito barusan. Otakku sedang mencerna dahulu.
“DITTTOOOOO!!!!”
teriakku kesal. Super kesal. Baru saja tadi dia menyanjungku sekarang malah
menjatuhkan impiku. Awas kau!!!
***
Sudah satu bulan
tak ada kabar dari Rafa. Risa gelisah dibuatnya. Risa duduk melamun sendirian
di taman tempat mereka menghabiskan waktu luang sekedar untuk mengobrol. Taman
penuh kenangan penuh dengan Rafa.
“RISA!!” teriak
seseorang memanggil dirinya. Suara yang akrab di telinganya.
“Ada apa kau
berlari kesini?” tanya Risa melihat kearah Dito yang terengah-engah menghampiri
dirinya.
“Biar aku atur
nafas dulu. Huft..” Dito duduk bersila sambil menarik nafas dan hembuskan.
“Ini untukmu!”
Dito menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda padanya.
Risa penasaran
akan isinya. Dia membuka amplop itu dengan hati berdegup kencang. Surat
cintakah?? Pupil mata Risa membesar ketika membaca isinya. Dito merebut isi
surat itu tanpa permisi. Risa mematung sesaat dan tersenyum manis melihat
kearah Dito. Dito yang melihat Risa tersenyum manis, tahu apa yang dirasakan
sahabatnya dan dia cukup membalas dengan senyuman pula.
***
Risa pov.
Suasana serba
hijau dan putih. Sebuah kebun di atas bukit terlihat penuh dengan tatanan kursi
meja dan beberapa rangkaian bunga. Beberapa pelayan juga sibuk menaruh atau
mengantar makanan pada para tamu. Suasana cukup ramai untuk acara bahagia ini.
Gaun yang ku kenakan sangat cocok untuk tema acara ini. Sebuah gaun pendek
selutut terjatuh indah, sepatu high heels, dan tas kecil menempel indah
ditanganku. Ah.. tatanan rambut dan rias wajahku juga sedikit berbeda. Aku ingin
tampilan baru saat ini di acara resmi yang tak akan pernah ku lupakan.
Senyumku
terpatri indah ketika melihat sepasang kekasih yang telah meresmikan hubungan
mereka lebih jauh. Mereka tersenyum bahagia pada setiap tamu yang datang. Rafa
dan sang istri. Ya, aku datang memenuhi undangan pernikahannya. Pupus sudah
rasa cintaku padanya. Cinta yang ku tunggu lama. Rafa menikah setelah ia lulus
kuliah. Aku baru tahu ketika Dito memberiku sebuah amplop di bawah pohon
rindang, sebuah pohon yang menjadi kenangan.
“Jangan
melamun!” suara lirih Dito menepuk bahuku.
Aku datang
bersama sahabatku, Dito. Dia cukup terlihat tampan mengenakan batik bercorak
merah. Aku masih tersenyum melihat pasangan diatas pelaminan itu.
“Dan... jangan
senyum-senyum sendiri! nanti dikira gila karena cinta! Hehehe..” cengir Dito
polos tanpa dosa.
“Eh!!” Hampir
saja bola mataku keluar mendengarnya. Sungguh merusak suasana hatiku saja.
-Plukk!!-
Sebuah tas kecil
mendarat tepat mengenai kepala Dito.
“Aw!” rintihnya
pelan.
“Enak?! Hah?!”
gumamku kesal melihat tingkahnya.
“Sudah! Aku tak
mau dapatkan KDRT lagi. Ayo cari makanan! Percuma sudah jauh-jauh kesini tak
makan banyak. Kondangan gudangnya makanan” bisik Dito sambil menarikku menjauh
dari tempat pelaminan. Sudahlah, ikuti saja maunya.
Good bye cinta
pertamaku. Oh sungguh cintaku tak berbalas, tapi kasihku akan selalu ada
untukmu Rafa. Cinta pertamaku, seniorku, dan teman baikku. Rafa. Seulas senyum dan
canda tawa akan selalu ada menemani hari-hariku yang kelak akan menemui cinta
terakhirku. Amin...
THE END
Comments
Post a Comment