BULAN dan BINTANG

-TAKKK!-
                “ACTIONS!”
                Terdengar suara papan bertuluskan ‘Take #3’. Syuting telah dimulai. Syuting? Semua orang tertuju pada pemeran video musik yang sedang kami buat. Sebuah syuting video musik seorang penyanyi pendatang baru dengan tema film pendek. Aku berdiri terengah-engah sehabis berlari menghampiri para staf. Orang memanggilku, Bulan. Aku seorang author blog. Mungkin buat blogger, mereka mengenal diriku. Aku selalu membuat cerita-cerita menarik maupun artikel. Hari ini adalah hari dimana aku mendapat proyek kerja yang tak jauh dari menulis, menjadi pembuat naskah untuk adegan dalam video musik.
                Mataku terpana melihat salah seorang yang sedang melakukan beberapa adegan di depan kamera. Otakku sedikit terbagi hingga tak terlalu fokus dengan apa yang kulakukan sebelumnya.
                “Cantiknya....” gumamku lirih mengagumi pahatan Tuhan paling indah.
Mataku tak mau berkedip melihatnya. Tersadar seseorang menyikut lenganku pelan.
“Lan, matamu sudah rabun ya? Dia... pria” bisik salah satu staf membenarkan penglihatanku. Sebut saja Nina.
Otakku belum berfungsi benar. Butuh beberapa detik mencerna kalimatnya.
“APA?!?!” teriakku keras. Betapa terkejutnya diriku dengan kenyataan yang ada. Aku melihat kearah Nina, “Pria...?” ucapku memastikannya lebih lanjut dan nani mengangguk pelan.
“Ck, makanya kalau datang jangan terlambat! Lihat!” tunjuk Nina mengarah pada semua staf.
-CUT!!- teriak sang sutradara.
Akibat teriakanku proses syuting sedikit tertunda. Semua mata mengarah padaku. ada rasa kesal melihat tatapan tajam mereka. aku tak berani berkata dan hanya cengiran kuda yang kuberikan. Sungguh memalukan!
“BULAN!!!” teriak pak Tino sang sutradara. Dia berdiri menghampiriku yang masih menempelkan cengiran kuda di bibirku.
“Maaf... maaf... maaf...” pintaku pada semua staf. Sungguh tak enak hati merusak kerjaan mereka.
“Bulan.. Bulan.. kau baru datang? Apa yang aku suruh sudah kau kerjakan?” tanya pak Tino sambil menggelengkan kepala.
“Sudah, pak! Dokumen yang bapak minta sudah aku antar ke rumah. Maaf, saya jadi terlambat datang kemari” ucapku meminta maaf.
“Tak apa. Lagian kau juga telat karena disuruh saya. Bintang, kemarilah!” ucap pak Tino dan beralih memanggil sang artis. Oh... Bintang namanya.
Oh Tuhan! Dia mendekat semakin dekat. Benarkah dia seorang pria? Mataku melihat lebih teliti. Rambut hitam lurus tergerai indah. Postur tubuh tinggi semampai nan ramping. Kulit mulus bagaikan susu dan wajahnya terlihat... cantik? Ah tidak! Aku lihat lebih seksama, dia memiliki rahang tegas dan tatapan mata yang tajam bagaikan elang. Sepintas memang terlihat seperti perempuan dan kenyataannya dia seorang PRIA. Bintang sekarang malah terlihat tampan dengan rambut dikucir ala yakuza yang sedikit berantakan.
“Ya, ada apa pak?” tanya Bintang dengan suara bassnya.
Suaranya itu menandakan dia seorang pria. Maaf ya sebelumnya mengira kau perempuan. Hehe...
“Bulan, kau akan akting bersama Bintang!” ucap pak Tino kembali duduk di depan layar monitor tanpa menunggu jawaban.
“HAH?!” aku sungguh dibuat terkejut kedua kalinya.
Bintang yang sedari tadi berdiri dihadapannya hanya tersenyum tipis dan kembali ke tempat syuting.
***
Mulut Bulan menganga lebar, mungkin sebentar lagi ada lalat masuk ke mulutnya. Bagaimana dia tidak syok? Dia hanya penulis naskah dan kenapa dia harus merangkap menjadi artisnya??? Mustahil.
“Tak ada yang mustahil. Ayo Lan, aku akan meriasmu!” ucap Nina menarik lengannya cepat menuju ruang ganti. Bulan menurut pasrah. Apa yang direncanakan pak sutradara?
Beberapa menit telah berlalu. Bulan sudah stand by di depan kamera dengan busana syuting yang telah disediakan. Dengan sedikit riasan Rere terlihat lebih fresh dan feminim. Beda jauh dengan tadi dandanan street style. Hatinya bergemuruh tak karuan. Ini syuting pertamanya tanpa persetujuan lebih dulu dari pihaknya. Keputusan sepihak. Huft...
“READY ACTIONS!” teriak sutradara melalui toah yang ia pegang. Semua kembali fokus dan diam.

Suara alunan lagu terdengar. Setiap melodi dan liriknya memiliki arti di setiap adegan. Sepasang kekasih sedang bersenda gurau dan memasang balon warna warni di sebuah ruangan. Sebuah ruangan menjadi sebuah kenangan.

Bulan berusaha tersenyum senatural mungkin dihadapan Bintang. Oh tuhan! Bulan tak habis pikir dapat melihat wajah Bintang dari dekat. Sepertinya, Bintang berusaha mengimbangi aktingnya yang sedikit kaku. Tanpa Bintang, mungkin Bulan diam saja tanpa bereaksi sedikitpun.

Sang gadis tersenyum manis pada sang pria dan juga sebaliknya. Sang gadis menggenggam sebuah balon berwarna pink. Dia menengadah keatas melihat sang pria sedang memasang balon. Terlihat manik mata sang pria menatap lekat sang gadis. Perlahan namun pasti, sang pria membungkuk, mencondongkan kepalanya kearah sang gadis. jarak antara mereka hanya tiga puluh sentimeter. Semakin dekat...

 Bintang mengambil posisinya condong melihat wajah Bulan dari dekat. Mata Bulan membulat besar dan nafasnya tertahan hampir kehabisan oksigen. Bulan mendongak melihat wajah Bintang diatasnya yang terlalu tinggi walaupun membungkuk untuk dirinya. Saling menatap dalam sebuah adegan.
“Tinggi...” gumam Bulan lirih terdengar sampai ke telinga Bintang. Wajah Bulan yang terlihat polos membuat Bintang tak tahan lagi untuk...
“Mmm..mbahaha... maaf...” Bintang membuyarkan lamunan Bulan seketika itu juga. Bintang menutup mulutnya saat tertawa.
-CUT!-
“Kita istirahat sebentar! Bintang, tolong konsentrasinya ya!! jangan buang-buang waktu!” seru pak Tino berkumandang.
Semua staf hilir mudik kembali dengan tugas mereka. Nina sang make up artis menghampiri Bintang dan Bulan membetulkan riasan mereka. Bintang masih tertawa dibalik tangannya.
“Pak Tino!” panggil Bulan menjauh dari Bintang sejenak dan mendekati sang sutradara.
“Apa?” tanya pak Toni datar.
“Aku mohon... bisakah mengganti aku dengan yang lain? Disinikan banyak yang cantik menghiasi layar kameramu. Aku mohon....” ucap Bulan memelas dengan mata kucingnya minta dikabulkan.
“Lihat dirimu! Lan, kau seperti anak kecil saja. Kau sudah 25 tahun. Aku tak bisa menggantikan dengan yang lain! Kau tahu, artis perempuan yang menjadi lawan main Bintang sebelum sampai disini terkena usus buntu, jadi dia harus rawat inap” jelas pak Tino sambil membolak-balik lembaran naskah yang ia pegang.
“Aku mohon...” Bulan memelas lagi dan lagi.
“Kau tahu, harusnya malah kau lebih tahu. Dalam naskah yang kau buat, sang gadis bertubuh pendek sedangkan sang pria bertubuh tinggi semampai. Semua itu ada padamu. Ayo kita syuting lagi!” ucap pak Tino menunjuk naskah yang ia pegang tadi.
Benar kata pak Tino, Bulan yang membuat alur cerita dan ciri fisik tokoh dalam cerita. Bodoh! Dia sampai melupakan itu dan memukul pelan kepalanya.
“Bodoh..bodoh..bodoh...”gumam Bulan menyesal.
Sedangkan diwaktu yang sama dan diruang stand by syuting.
Bintang masih tetawa ketika Rere pergi setelah bunyi ’cut’. Dia bersam Nina disana yang sedang menambah bedak dan mengelap keringatnya.
“Kanapa kau tertawa? Ada yang lucu?” tanya Nina sambil membetulkan pakaian Bintang.
“Dia membuatku tertawa. Dengan polosnya dia bilang ‘tinggi’ padaku dan itu terlihat lucu dimataku” senyum manis menghiasi bibirnya.
“Bulan?” tanya Nina tersenyum. Sebenarnya dia tahu bahwa Bulan selalu membawa suasana baru disetiap dia berada.
“He-em. Dia membuat hilang konsentrasiku. Kapan syuting ini selesai?” tanya Bintang sambil melihat jam tangan melingkar dipergelangan tangannya. Maklum... Bintang merupakan model catwalk yang memiliki jam terbang tinggi.
“Masih ada 2 kali take lagi. Kau butuh konsentrasi tinggi bila berhadapan dengan Bulan. Hmm.. sepertinya bukan kau, tapi Bulan yang butuh konsentrasi penuh. Hahaha...” tawa Nina senang menggoda Bintang.
“Oh... adegan terakhir itu” gumam Bintang melihat Bulan yang sedang memelas pada sutradara.
***
Bulan pov.
Percuma saja aku memohon pada pak Tino, malah lelah sendiri. Aku berjalan gontai menghampiri Bintang dan Nina dengan mempoutkan bibirku.
“Menyebalkan!” umatku kesal.
“Tak usah cemberut! Kau turuti saja pinta sutradara. Lumayankan dapat uang tambahan, lagian kau sendiri buat ciri fisik tokoh cerita cari yang pendek. Ya susah! Mana ada model cantik bertubuh pendek? Kalaupun ada itupun jarang”  ceramah Nina melipat tangannya di dada. Bintang sedari tadi hanya melihat celotehan kedua orang di hadapannya.
“KITA MULAI!” teriak pak Tino kembali untuk syuting dan semua staf kembali dengan tugasnya masing-masing.
“Huft...” aku menghela nafas panjang meratapi nasibku.
***
“READY ACTIONS!” suara sutradara mendominan.
-Tak!-

Sang pria mendekatkan wajahnya pada kekasihnya. Postur tubuh pria lebih tinggi dan wajahnya terlihat lebih cantik dari sang gadis, tapi tak menyurutkan kemaskulinan sang pria.
Alunan melodi lagu terdengar lirih membuat suasana semakin romantis. Seorang kekasih ini saling tersenyum dan memandang satu sama lain. Tatapan penuh arti dari keduanya.

 “CUT!” teriak sang sutradara.
Semua staf kembali menyiapkan adegan terakhir diluar studio, tapi tidak dengan kedua tokoh dalam video musik tersebut. Bulan dan Bintang masih dengan posisi mereka. Bulan mendongakkan kepala, sedangkan Bintang masih membungkuk 90 derajat. Saling menatap. Entah apa yang membuat Bulan terbengong disana. Mungkin terhipnotis dengan kecantikan eh ketampanan sang Bintang. Sedangkan, Bintang tersenyun sambil mengacak rambut Bulan sebelum ia pergi. Pria penuh misteri.
Bulan pov.
Cuaca saat ini sangat mendukung sekali. Awan berwarna kuning berpadu apik dengan langit biru yang tersorot indah terkena silau matahari. Angin sepoi-sepoi behembus mengibarkan helaian rambut Bintang yang tergerai indah. Mataku dibuat iri dan terhipnotis dengan sosoknya. Sekarang kami berada disebuag padang ilalang dengan ribuan tangkai batang rumput ilalang yang menjuntai tinggi. Kami akan melakukan adegab terakhir untuk video musik ini. aku malah berharap waktu cepat berlalu dan selesai sudah. Aku dan Bintang berdiri di tengah ilalang mempersiapkan diri.
“Kau terpesona padaku?’ tanya Bintang menghilangkan kesunyian diantara kami. Dia bertanya tapi tak melihat kearahku sambil mengucir rambutnya.
“Kau terlalu cantik untuk ukuran pria” jawabku lancar tanpa basa-basi dan takut salah.
“Terima kasih~~~” ucap Bintang tersenyum. Dia tak marah?
“Aku kira kau akan marah bila aku mengatakan kalimat barusan” ucapku menghadap Bintang lebih dekat menyesuaikan adegan selanjutnya.
“Untuk apa marah? Aku sudah biasa dengan orang mengataiku seperti itu. Lagian, profesiku terkadang mengharuskanku berpenampilan perempuan” Bintang ambil posisi sama denganku, saling berhadapan sambil mengantungi kedua tangannya  masuk kedalam saku jaket coatnya.
“Ya aku tahu, model androgyny” ucapku mengetahui profesi seorang Bintang.
Model androgyny, aku sedikit tahu mengenai hal ini melalui internet. Model androgyny adalah seorang pria yang bekerja sebagai model photo atau catwalk yang terkadang menyerupai perempuan dan itu hanya dilakukan saat bekerja saja. Diluar itu semua, model androgyny merupakan sosok pria pada umumnya. Selain itu, jangan tanya aku lagi! Aku bukan asisten pribadinya.
“Ck, itu tahu” ucap Bintang masih dengan senyum meremehkan. Semakin gemas aku melihatnya. Aku jitak juga kepalanya! Sayangnya, dia terlalu tinggi.
***
Sepasang kekasih saling menatap penuh makna. Tak ada kata. Tak ada kesedihan. Terlihat raut keduanya sangat bahagia. Sang pria masih menggenggam erat telapak tangan sang gadis. tersenyum indah.
“Itu lihat sana!” tunjuk sang pria melihat arah lain. Sontak sang gadis mengikuti arah pandangnya, dan...
-CUP!-

Bulan pov.
Sebuah kecupan mendarat dengan mulus dibibirku. Ini yang membuatku tak suka. Adegan terakhir adalah sebuah kecupan manis dari seorang pria terhadap kekasihnya. Sontak mataku seperti akan keluar dari tempatnya.
“Huft...” dengan kesal aku mempoutkan bibirku.
Rasanya ingin sekali mencekik leher jenjangnya. Sungguh sangat menyesal aku membuat cerita naskah ini. Terlihat dengan jelas senyum licik diwajahnya. Ada apa dengan otaknya? Gila! Sekarang, aku sedang membenci sekaligus mengagumi dirinya. Aishhh! Ini karena hobiku suka dengan pria-pria cantik dalam drama korea. Terjadilah, efek sampingnya sampai sekarang. Oh Tuhan!!!!
-CUT!-
 Berakhir sudah syuting kali ini. Rasa kesal masih melanda diriku. Ku kepalkan tangan erat. Rasanya ingin sekali aku cekik sekarang juga si Bintang.
“BINTANGGGGGGG!!!!” teriakku lantang dan langsung saja ku cekik lehernya. Semua mata sontak melihat kearah kami.
“Akh! Bu..lan... Lepp... paskan!” ucap Bintang terbata karena cekikanku membuatnya tak bisa bicara lancar.
Tak ada yang berani melihat kemarahanku saat ini. Para staf hanya menggeleng kepala melihat tingkah kami sekarang.
“Kau... kau mau mati, HAH?!! Berani sekali kau mencuri cium dariku!” ucapku kesal belum juga melepas tanganku dari lehernya.
“YAKKKK!! Kau membuatku sesak nafas!” Bintang berhasil melepas cekikanku dari lehernya. Dia mengusap-usap lehernya yang terlihat mulus. “Ya..ya..ya.. itu ciuman pertamamu” ucap Bintang dengan entengnya melirikku tanpa rasa dosa.
“Aishhh!!! Kau mau aku cekik lagi??? Dengan senang hati aku akan melakukannya sampai kau mati” senyum jahatku terpantul indah sambil mendekat kearah Bintang yang mulai sedikit takut dengan raut wajahku. Perlahan namun pasti Bintang melangkah mundur.
“Terima kasih... sepertinya aku harus pergi. Bye!” ucap Bintang  sambil tersenyum kecut sambil berlari meninggalkan diriku yang penuh amarah.
“Jangan harap kau bisa kabur!” teriakku mengejar Bintang belum jauh dari penglihatanku.
“AWWW!! Ampun, Kak!! SAKITT!!!” teriak Bintang kesakitan ketika dengan mudah aku menarik rambut panjangnya.
“Ck, baru sekarang kau panggil aku ‘kakak’?? Dasar adik kurang ajar!” jitakan mendarat tepat di kepala Bintang yang masih berjongkok membelai rambutnya yang hampir rontok. Aku tak peduli.
“Kau terlalu jahat aku panggil ‘kakak’. Mana ada seorang kakak menjambak rambut adiknya seperti tadi. Ya maaf, itu kan adegan hanya dalam skenario dan itu kakak yang buat sendiri. Kenapa salahkan aku??!! Coba salahku dimana?!” jelas Bintang tak mau kalah. Memang benar katanya, aku saja yang terlalu berlebihan. Tapi... tapi... ciuman pertamaku!!! Kenapa harus dengan adikku sendiri!!! ARGGHHHH!!!
Tunggu dulu! Adik? Kakak? Ya... aku dan Bintang adalah kakak beradik. Hanya saja, aku selalu lupa diri mengagumi kecantikan sekaligus ketampanan adikku sendiri dan Bintang tahu kelemahanku itu. Terkadang aku juga kesal, bagaimana tidak?? Adikku yang notabene seorang pria, malah memiliki tingkat kecantikan diatas rata-rata dan berbanding terbalik dengan diriku.
“Kau masih berani melawan??? BINTANGGGG!!!!” teriakku kesal mengejar Bintang yang berlari gesit menghindariku. Alhasil, kami main kejar-kejaran ala Tom and Jerry.
“Ck, sampai kapan mereka akan terus-terusan begitu? Kakak adik sama saja” ujar beberapa staf menggelengkan kepal melihat tingkah laku kami.
Tapi... bagaimanapun, Bintang tetap menjadi adik yang ku sayang. Kami akan selalu mendukung satu sama lain sampai kapanpun, karena kita adalah BULAN dan BINTANG.

The end


Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE