Am I Ghost? chapter 2

-SLEB!!-
Cahaya menghilang begitu saja seperti kilat. Mataku masih tertutup rapat. Hampir ketakutan setengah mati. Gelap. Aku coba untuk membuka mata. Perlahan tapi pasti. Kelopak mataku berkedip berulang kali. Buram semakin lama semakin terang. Pertama kali yang terlihat langit atap seputih salju.
“Dimana aku?” gumamku melihat tempat berbeda dari sebelumnya, seperti sebuah ruangan. Aku semakin bingung.”Apa ini?!” tubuhku dalam posisi tidur menghadap langit. Tanganku merasa ada sesuatu. Rasanya seperti ada sengatan kecil. Hangat. Sedikit ragu aku memberanikan diri menolehkan kepala ke samping. Mataku tak diam berkedip. Seseorang sedang menatapku dengan ekspresi sama. Satu detik..dua detik... tiga det....
“”AAAAAARRRGGGGGHHHH...!!!!””

***
chap 2

-cuit..Cuittt...Cuitt-
Suara cicitan burung. Ah di tengah kota besar masih adakah? Tentunya disebuah taman dekat sebuah apartemen elit. Sebuah apartemen bernomor 909 ada sebuah papan tag dinding ‘DEVIN MARK’ masih terkunci rapat. Devin masih tertidur pulas diatas ranjangnya. Matanya mulai bergerak ke kanan kiri tanpa membuka kelopak matanya. Devin bergerak tak nyaman berganti posisi tidur. Dia menyamping dan membuka matanya pelan. Buram.
“Eh??” gumam Devin. Dia mengusap matanya berulang kali. Pandangannya semakin jelas.
Tunggu dulu! Pupil matanya semakin membesar. Terlihat seorang gadis berambut panjang bergelombang tergerai indah. Gadis itu sedang menatapnya dalam posisi tidur berhadapan. Satu detik..dua detik... tiga det....
“”AAAAAARRRGGGGGHHHH...!!!!””
Sebuah teriakan. Ah tidak, tapi dua teriakan saling bersautan dan melengking tinggi. Keduanya terbangun dengan cepat menjauh satu sama lain. Devin terjatuh dari ranjang karena terkejut melihat seorang gadis diranjangnya.
“SIAPA KAU???!!” teriak Devin menunjuk kearah sang gadis. Siapa sangka ada yang bisa masuk ke apartemen kecuali manajernya.
“ARRGGGGHHH!!! SIAPA KAU??!! Pergi kau! Keluar!” teriak Risa, sang gadis yang tak kalah berteriak lantang. Ekspresi bingung dan terkejut  tampak di wajah imutnya. Refleks Risa melempar bantal dan guling kearah Devin.
“YAKK! YAKK! STOP!!!” geram Devin melihat orang asing dikamarnya. “ Siapa kau dan kenapa kau bisa ada disini?” tanya Devin sedikit tenang.
“Dimana ini?” tanya Risa dengan wajah cengo. Dia melihat sekitar dan tak menjawab pertanyaan Devin satupun.
“HEY! Kau tanya ini dimana? Dimana? Aishhh... Ini apartemenku!” ucap devin sedikit kesal. Wajah dan penampilannya sungguh berantakan. Imaje seorang artis 180 derajat berbeda ketika dia bangun tidur.
“Ma..af..aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku ada disini. Aku juga tidak tahu bisa sampai disini.” Jelas Risa gugup dan takut kemarahan Devin.
Devin berkacah pinggang bingung harus diapakan gadis dihadapannya ini. Tanpa pikir panjang Devin menarik lengan Risa keluar dari kamar menuju pintu keluar apartemen.
“Lepas! Lepas! AKU BILANG LEPAS!” teriak Risa menghentakkan tangannya yang tergenggam kuat oleh tangan Devin yang besar. Devin tak menghiraukannya dan tepat diambang pintu keluar ada sebuah cermin besar terpajang indah. Devin melepas genggaman Risa dan berbalik menghadapnya.
“Okey! Aku tak tahu siapa kau dan tak ingin tahu! Tiba-tiba kau ada dikamarku dan kau bilang tak tahu bisa ada disini. Atau kau jangan-jangan... fans fanatikku yang membuntutiku dan mencari tahu pin pintu apartemenku??” Devin merasa kesal tidurnya terganggu sambil mengusap keningnya.
Risa diam melihat Devin bicara tanpa jeda. Cerewet sekali! Masih ada pria seperti dia di dunia ini?!
“Fans? Fanatik? Apa yang kau bicarakan? Memangnya kau artis?! Tak sudi aku menyukai artis seperti kau!” Risa kesal sedikit terhina dengan ucapan Devin. Dia tak serendah itu masuk dan tidur di kamar orang lain. Apalagi dia tak mengenalnya.
“Heh? Kau tak tahu aku? Sudahlah, cepat keluar!” Devin menunjuk arah pintu menghadap cermin.
Sebuah cermin pasti memantulkan bayangan si objek yaitu Devin dan Risa. Tapi... mata Devin terbelalak tak percaya dengan yang dilihatnya. Apa hanya efek bangun tidur. ia  menelan salivanya dengan gemetar. Risa juga merasa bersalah dan kecewa diusir begitu saja. Dia melangkah menuju pintu sambil menundukkan wajah.
“Berhenti!” ucap Devin sebelum Risa beranjak pergi. Risa yang dipanggil menoleh menghadap cermin menatap Devin heran.
“Apa?”
Devin menoleh melihat Risa dari ujung kaki sampai kepala. Tak ada yang aneh. Dia kembali menatap cermin lagi masih dengan rasa ketidakpercayaan.
Risa mengikuti arah mata Devin. Apa yang Devin lihat? Dia mengikuti arah pandang Devin. Rasa penasaran membuatnya fokus kearah cermin. Apa ini? Hitungan detik Risa hampir dibuat setengah mati terkejut. Risa melihat kearah Devin dan juga sebaliknya. Keduanya memiliki ekspresi sama. Ada sebuah dejavu.
 “”AAAAAARRRGGGGGHHHH...!!!!””
Mereka berteriak untuk kedua kalinya. Pantulan bayangan Risa tak ada di cermin. Bagaimana bisa? Devin terkejut dibuatnya.
“Kau...kau... HANTUUUU!!!!!” ucap Devin terbata-bata melihat Risa dan melangkah mundur yang semakin lama berlari meninggalkan Risa sendiri. dia bersembunyi dibalik selimut tebal dikamarnya. Ketakutan. Ya!
***
Risa  pov.
Aku tak percaya ini. Kenapa bayanganku tak ada di cermin? Aku meraba-raba seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki.  Masih utuh tak kurang sedikitpun. Dia juga bisa melihat dan menyentuhku.
“Hantu? Aku..han..tu?” gumamku tak percaya. Aku kembali melihat kearah cermin untuk memastikan sekali lagi. Apakah benar aku hantu? Pelan nan ragu, aku ingin menyentuh cermin dihadapanku. Aku sungguh tak percaya. Tanganku menembus cermin! “KYYAAAKKKK!!” aku menangkup kedua pipiku dan berlari keruang tengah mencari tempat sembunyi. Aku telungkup diatas sofa sambil menutup kepala dengan bantal sofa. Teriakanku terbenam oleh bantal.
“Aku bukan hantu! BUKAN!!!” aku masih teriak tak percaya. Ku dudukkan tubuhku diatas sofa dengan nafas terengah dan memeluk bantal sofa.
“Hiks..hiks...HUUAAAAA aku bukan hantu! Huuuu... “ aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak tahu dimana sekarang. Aku harus bagaimana? Tak ada orang yang aku kenal. Ibu...”Astaga! Siapa kau?” tanyaku kaget dan takut melihat seorang kakek tua berwajah pucat duduk disebelah. Sang kakek berseragam tentara tempo dulu penuh dengan bercak darah, dia menatapku lama. Ada rasa takut ketika ku melihatnya.
“Aku penghuni disini.” Jawab kakek sedikit menyeramkan. Dia menjauh dariku.
“Kakek, kau menakutinya. Hey! Aku baru melihatmu hari ini. Apakah kau penghuni baru?” celetuk seorang lagi. seorang lelaki lebih muda dariku. Seperti anak SMA, dia masih mengenakan seragam sekolah. Dia sama seperti kakek tadi berwajah pucat, tapi dia tak menakutkan.
“Astaga! Kyakkkk!” teriakku melihat ada orang lain selain pemilik apartemen ini.
Si anak seragam SMA menutup telinganya. Dia hanya tertawa melihat diriku yang berteriak padanya. Apa yang dia tertawakan?
“Hey, kau ini aneh. Sesama hantu malah teriak seperti baru lihat hantu” ucap si anak SMA masih tertawa.
“Aku bukan hantu!” aku mempoutkan bibir karena kesal. Aku tak percaya itu.
“Bukan hantu? Kalau kau bukan hantu, kenapa kau bisa melihat kami? Kau juga sama seperti kami, tembus pandang. Lihat bantal sofa itu! Bantal itu tak ada dipangkuanmu” ucap si anak SMA menunjuk bantal sofa dipangkuanku. “Tapi, penampilanmu sedikit berbeda. Kau...” dia diam sejenak memikirkan sesuatu dan mendekat kearahku.
“Mau apa kau?!” aku mundur membentur dinding sofa. Dia cukup lama menatapku dalam jarak 5cm.
“Hmm..ternyata dugaanku benar” gumam si anak SMA menjauhkan wajahnya dariku.
“Ah tidak, nanti kakak juga tahu sendiri.” dia tersenyum seperti tahu segalanya.
“Aku rasa pria itu sedang ketakutan syok melihatmu” sahut kakek berseragam tadi sambil melihat senapan terpajang indah di dinding.
“Kakek, kau juga menyadarinya? Ternyata kakek lebih unggul dariku” ucap si anak SMA bersandar pada meja dekat tempatku duduk.
“Anak kurangajar, kau merendahkanku”jawab kakek tegas bak seorang jenderal.
“Hehehe..maaf, pak Jenderal!” si anak SMA memberi hormat pada sang kakek.
Adegan apa ini? aku melihat keduanya berbincang tanpa menghiraukan diriku.
“Yakk! Kalian ini siapa? dan kau! Apa yang kau bicarakan tadi?” aku menunjuk kearah si anak SMA dengan rasa kesal. Keduanya terdiam dan menoleh kearahku.
“Hadeuh..kau ini, tadi aku kan sudah bilang kami hantu. Kau masih juga tak percaya. Dia akan turun kebawah. Ayo kek, kita pergi!” jawab si anak SMA dengan santainya.
-cling!-
Kedua orang itu menghilang begitu saja dari hadapanku. Huft... apakah benar aku sama seperti mereka? Hantu? Entahlah.
“Kau.. masih disini?!” ucap pria menuruni tangga kecil sambil membawa alat pukul bisball. Ada sedikit nada takut dalam bicaranya ketika melihat diriku duduk di sofa.
***
Devin pov.
Aku tak habis pikir dengan apa yang aku alami pagi ini. pikiranku entah kemana.  Aku berlari kilat telungkup diatas ranjang. Oh Tuhan! Aku melihat hantu? Benarkah hantu??? Tunggu dulu! Hantu? Kalau hantu bukankah aku tak bisa menyentuhnya? Tadi aku menggenggam tangan dan bicara dengannya. Penampilannya juga tak seperti hantu. Inikan PAGI HARI!!! Otakku sudah tak waras. aku memberanikan diri turun ke lantai satu sambil membawa tongkat bisball sebagai perlindungan. Siapa tahu gadis itu menerkamku?! Keringat dingin mengucur deras dari pelipis dahiku. Aku menuruni tangga dan melihat sosoknya sedang duduk di sofa. Langkahku terhenti melihat dirinya diam tak melihatku.
“Kau.. masih disini?!” ucapku menuruni tangga kecil sambil membawa alat pukul bisball. Ada sedikit nada takut dalam bicaraku ketika melihatnya duduk di sofa.
Aku menghampirinya dengan sedikit keberanian duduk disebelahnya dan sedikit jarak.
“Ka..u...kau manusia atau ha..ntu?” tanyaku ragu terbata-bata menatapnya.
“...” diam tak bersuara. Gadis itu tertunduk malas.
“Hey!” panggilanku tak dihiraukannya. Tanganku perlahan dan gemetar mengarah padanya.
“HUUUAAAA!!!! HIKS HUAAAA HUUUU!!”
“Astaga!” aku terkejut dibuatnya.
Teriakan tangisnya melebihi ibuku kalau mengomel. Tangisnya sungguh memekikkan telinga. Aku menutup telingaku rapat-rapat.
“Yakkkk!!! Yak!!! BERISIK!!!” pekikku kesal. Rasa takutku entah hilang kemana. Menghadapi gadis ini justru tak ada rasa takut padaku.
Dia berhenti menangis tapi masih terisak. Gadis ini seperti gadis biasa. apakah dia tersesat? Jangan konyol, Dev! Aku menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Huft... sebenarnya kamu siapa? dan kenapa kau tak terlihat dicermin?! Kalau memang hantu, kamu malah berlagak bukan hantu” aku sudah pasrah dunia akherat kalau dicekik hantu ini. aku bicara dengan hantu??!!?? Good bye para fans ku...
“Hiks..hiks.. jangan tanya aku! Aku saja tak tahu kalau tak terlihat di cermin dan berada di apartemenmu. Hiks.. hiks..aku saja tak tahu aku ini hantu atau bukan!” jelas gadis hantu masih sesenggukan.
Aku memandang tubuh kecilnya terbalut pakaian indah. Gaun pesta? apa peduliku? Dia tetap hantu bagiku. Hadeuhh.. pagi-pagi buta dapat kejutan gila!
“huft... sepertinya aku perlu ke dokter. Aku bertanya padamu! siapa namamu dan tinggal dimana?” tanyaku untuk memperjelas masalah. Katanya bukan hantu, manusia juga bukan. Aisshh!!
                “Risa. Namaku Risa. Hanya itu yang aku ingat” jawab sang gadis menatap harap padaku.
                “Percuma aku tanya lagi karena kau tak ingat apa-apa. Aku akan coba membantumu” ucapku kasian melihatnya.
                “Benarkah?” pekik sang gadis dengan raut bahagianya. Aku kaget dibuatnya. Dia mendekat kearahku.
                “JANGAN MENDEKAT!! Stop!! Aku masih belum terbiasa ada makhluk lain di dekatku” aku menghindar ketika dia berusaha duduk mendekatiku. Raut wajahnya berubah sedih. Ciks, mudah sekali dia merubah raut wajahnya.
                “Baiklah, Tuan” Risa menuruti kataku.
                “Tuan?? Sejak kapan aku jadi majikanmu? Aku punya nama. Devin. Panggil aku Devin!” ucapku masih duduk di ujung sofa ruang tengah.
                “Devin...”
***
                “Astaga!” Devin kaget melihat Risa menampakkan dirinya tanpa permisi. Risa selalu saja mengikuti Devin pergi kemanapun terkecuali toilet. Hampir setiap hari Devin mendapatkan kejut jantung karena ulah Risa muncul sesuka hatinya. Setiap saat Risa seperti lem selalu menempel pada Devin.
                “DEVIN”
“Astaga! Yakk!” saat jogging.
“DEVIN”
“OMG!” saat syuting.
Saat gladi resik untuk acara jumpa pers. Devin sudah siap dengan penampilannya.
“DEVIN”
“YAKKK!! JANGAN MENGIKUTIKU!!” teriak Devin bergidik saat di backstage.
“Kau bicara dengan siapa, Dev?” tanya sang manajer melihat tingkah aneh Devin.
“Ah! Ini ada lalat nakal!” ucap Devin menekan kata lalat nakal dan memberi isyarat mata pada Risa ‘pergi kau!’
Sudah sebulan Risa berada dekat Devin. Tak terasa Devin mulai terbiasa dengan kehadiran sosok Risa disampingnya. Setiap hari tak ada celah tanpa Risa. Setiap hari Risa selalu membuat Devin kesal akan tingkah hantu manis itu. Terkadang Risa juga sering membantu dalam masalah dapur alias memasak saat Devin tak ada jadwal manggung. Bukan berarti Risa memasak untuk Devin.
“HEY! Jangan kau campur air terlalu banyak!” ucap Risa panik melihat adonan roti yang sudah pas berubah encer.
“Yakk! Kenapa kau kesal?! Ini masih bisakah ditambah tepung?” tanya Devin ragu melihat wajah Risa cemberut. Sia-sia mengajari Devin membuat roti.
“Terserah!” Risa kesal juga dengan sikap Devin.
Risa hanya membimbing Devin apa yang harus dilakukan dan yang tidak. Tak ada yang menyadari keduanya menikmati keadaan itu. tawa dan tersenyum jail menghiasi wajah  mereka.
“Selesai!!!” keduanya bersorak gembira melihat hasil roti croassant hasil karya sendiri. mereka bertos ria sambil tertawa lepas.
Tak terlihat dua sosok pria sedang memperhatikan tingkah mereka. dua sosok pria itu bersandar pada dinding sambil memandang sesuatu yang romantis.
“Kek, Risa terlihat bahagia ya?” tanya sesosok hantu berseragam sekolah masih dengan wajah pucatnya.
“Hmm...” Kakek tentara hanya berdehem masih dengan muka tegas dan pucatnya. Seram.
“Apakah ini tidak masalah, Kek?” tanya hantu lelaki berseragam lagi seperti mengkhawatirkan sesuatu.
“Kita tak tahu rencana Tuhan. Kita cukup melihat saja. Disini kita tak punya hak untuk membaur dengan mereka. Kau anak pintar pasti mengerti, bukankah begitu?” jelas kakek selalu dengan kata bijaknya dan menghilang.
“...” sebuah anggukan mengerti dari hantu berseragam sekolah.”huft..” dia pun ikut menghilang.
***
Di sebuah fitting room bertag Devin Mark setelah menyanyi di acara musik tv. Devin duduk santai di ruangannya. Dia tak sedirian, ada seorang lagi disana manajer artis sebut saja Simon. Simon sudah dikenal sebagai manajer sekaligus asisten pribadi Devin sejak kecil. Umur mereka tak terpaut jauh. Simon lebih muda dua tahun dari Devin sehingga mereka tak terlihat seperti manajer dan artis. Bagaimana bisa akrab? Jelas akrab, mereka sudah berteman sejak kecil. Mereka sedang membicara jadwal syuting video musik untuk single terbaru Devin. Risa mana? Ah, kali ini Risa tak mengikuti Devin. Devin melarang Risa untuk mengikutinya ke kantor. Entah dimana dia sekarang. Aneh.
“Ini skrip yang harus kau pelajari!” ucap Simon memberikan beberapa lembar kertas.
“Apa ini?” tanya Devin sambil membaca setiap lembar kertas tersebut.
“Tema dan skenario pendek video musikmu. Kau harus berakting sesuai dengan tema lagu yang kau nyanyikan dan kau...” jelas Simon duduk saling berhadapan.
“Penari?!  Apa aku tak salah baca?” celah Devin sebelum Simon selesai bicara.
“Iya” jawab manajer santai.
“Kau hanya jawab iya? Simon.. kau tahu sendiri, aku tak bisa menari. Kau ingin mempermalukan aku di depan fans. Jangan bercanda!” rasa tidak percaya Devin melihat skrip bertema penari klasik pada video musiknya. Semua orang disekitar Devin tahu bahwa dia tak bisa menari, tapi para fans tak mau tahu itu.
“Aku tidak bercanda, Dev. Aku juga tahu kau tak bisa menari, tapi tolong kau sedikit untuk belajar dari pengalaman. Kau tahu tahun ini banyak penyanyi debut dengan ciri khasnya sendiri. kita sebagai tim kerja ingin kau memiliki sesuatu yang baru. Tak mungkin kau terusan monoton. Fansmu pasti akan antusias dengan rilisnya video musik ini” Simon berusaha untuk menjelaskan agar Devin mau menari.
“...” Devin diam dalam pikirannya sejenak.
“Berlatihlah! Aku sudah siapkan pelatih tari. Aku tahu kau tak bisa mengecewakan fansmu” ucap Simon menepuk bahu Devin dan berlalu pergi membiarkan Devin dengan pikirannya.
=Blam=
Pintu tertutup. Devin seorang diri disana. Pikiran dan mata tertuju pada kertas skrip diatas meja.
‘Menari? Oh Tuhan, apakah aku harus menari? Semua orang tahu kalau aku memang tak bisa menari sejak kecil, tapi mereka tak tahu alasanku tak bisa menari termasuk Simon. Bagaimana ini? mungkin tak ada istilah ini, tapi aku phobia menari. Entah kenapa aku bisa begini. Setiap kali aku mencoba menggerakkan tubuh untuk menari, keringat dingin keluar, tubuhku jadi kaku dan pusing melanda. Aku tak ingin mereka tahu kelemahanku, tapi...” batin Devin bimbang apa yang harus dia lakukan.
Devin mengambil smartphone miliknya dan menyentuh layar kontak.
“Ya aku akan lakukan itu” ucap Devin berbicara pada Simon lewat telepon.
=Baiklah! Aku tahu kau pasti bisa melakukannya= jawab Simon senang.
“Aku butuh waktu lama untuk berlatih” ucap Devin malas.
=Tenang saja masih ada waktu sebulan dalam persiapan video musikmu=
“YAKK!! SEBULAN?! Itu terlalu singkat. Aku tak mungkin bisa menari dalam sebulan! Bodoh!” teriak Devin terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Waktu hanya sebulan buat berlatih.
=Aish! Tak usah berteriak! Aku belum tuli. Pokoknya kau harus bisa menari dalam sebulan. Titik.= jawab Simon tak kalah kesal.
-tuutt...tuuuu...- sambungan telepon terputus.
“Halo...HALO...!!! Manajer kurang ajar!” ucap Kevin kesal mengacak-acak rambutnya kesal dan berlalu pergi meninggalkan fitting room.
***
Risa pov.
Aku bosan. Biasanya kau selalu ikut kemana saja Devin pergi, tapi sekarang dia melarangku. Huft..bosan! Dari pagi sampai malam aku hanya mondar mandir tak jelas di dalam apartemen. Kedua hantu itu juga tak menampakkan batang hidungnya.
“YAAAKKKKKK!!! BOSAAAAANNN!!!” teriakku sekencang-kencangnya. Tenang saja tak ada yang dengar.
“AHA!!” ucapku senang. Baru saja terpikir olehku. Aku selalu muncul tiba-tiba dihadapan Devin karena aku selalu memikiran dirinya dan berhasil muncul dihadapannya. Pasti kalau aku memikirkan tempat yang ingin dituju, aku bisa ada disana.
“Ayo Risa coba kau pikirkan sesuatu!! Ayo! Ayo!” gumamku menutup mata sambil berpikir keras.
Tempat ramai yang ingin aku kunjungi yaitu pasar malam. Apakah ada pasar malam disekitar sini? Aku paling tak suka tempat sepi. Aku terus memikirkan sebuah pasar malam dan...
-CLING!-
Terdengar suara ramai. Perlahan ku buka mata. Pupil mataku membesar, rasa senang aku tunjukkan dengan sebuah cengiran. Sebuah cengiran tanda berhasil ke tempat yang dituju. Aku ingin berteriak, tapi ku tutup mulut dengan kedua tanganku. Ku lihat sekeliling, ada tukang bakso, tukang jagung bakar, pedagang pakaian dan masih banyak lagi.    Aku berjalan menelusuri setiap jalan dan mataku tak pernah berhenti melihat sekitar. Malam yang semakin larut semakin ramai. Belum pernah aku segembira ini. Terkadang aku suka berpikiran jail dengan kondisiku sekarang. Menjaili orang ternyata mengasyikkan. Menjaili orang dengan menepuk bahunya. Mencicipi makanan yang dijual tanpa permisi. Itu semua hanya anganku karena aku tak bisa menyentuh apapun kecuali Devin.
“Maaf ya, Pak..Bu...” ucapku sebelum mencicipi jajanan itu. Aku sudah berdosa. Maafkan aku Tuhan.
Leganya. Bisa jalan-jalan melihat keramaian malam. Hampir semua yang datang berpasangan. Hanya aku sendiri dan tak terlihat pula. Kenapa aku tak melihat hantu lain? Apa memang aku bukan hantu? Sudahlah. Aku berjalan santai menelusuri trotoar jalan yang dihiasi lampu-lampu lentera warna warni.
“Huaaaa... kapan lagi bisa begini?!” aku merasa senang sambil meregangkan kedua lenganku lebar dan menghirup udara malam.
Lelah menghilang terus, aku baru sadar kalau menghilang dapat menguras tenaga. Berjalan sambil menikmati malam. Langkahku terhenti disebuah halte dan duduk disana layaknya seseorang menunggu bus datang. Beberapa menit telah berlalu, terlihat sepasang kekasih berdiri di depanku. Mereka terlihat bahagia saling menggenggam tangan. Ah, pasti mereka dari pasar malam. Aku berdiri memperhatikan sepasang kekasih itu. Sang pria cukup tampan. Penampilannya menarik dengan jaket berkerudung berwarna coklat dan celana jins sedikit sobek dibagian lutut serta sepatu kets. Gaya rambutnya juga keren dengan poni menutupi dahinya. Putih, bersih untuk wajahnya. Sang gadis juga tak kalah. Si gadis berparas cantik dengan rok selutut bermotif bunga mawar, atasan kaos polos berwarna peach dan sepatu high heels melekat indah di tubuhnya.
“Pasangan serasi. Andai saja aku... loh? Aku kenapa?” gumamku heran. Tiba-tiba saja air mataku menetes begitu saja. Ada apa ini? kenapa?

-tbc- 

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE