Am I Ghost? chapter 1

‘ Tap. Tap. Tap. Tap...’ suara sepatu berlari kecil. Kaki kecil nan indah sepatu high heels yang dikenakan. Aku berlari tak beraturan menghindari setiap tamu undangan yang berlalu lalang. Baju yang kukenakan cukup indah dan terlalu feminim. Sebuah baju berbahan brokat kebaya warna putih tulang dengan ukuran pas badan dan rok mengembang selutut berwarna hitam motif bunga. Sebuah tas kecil berwarna gold tergenggam indah ditangan. Senyum manis terukir indah di bibirku.
                “RISA!” suara bass memanggil diriku dan melambaikan tangan kearahku agar segera menghampiri.
                Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Aku Risa. Seorang gadis keturunan Jawa Cina. Umur 25 tahun. Orang beranggapan pasti kalau orang memiliki keturunan Cina terlihat dari matanya. Sipit dan berkulit putih langsat. Jangan terlalu berkhayal! Walaupun aku memiliki keturunan Cina, aku juga seorang gadis Jawa. Kulitku sawo matang, malah sedikit eksotis. Mataku juga tak sipit dan bola mata berwarna coklat. Tapi, banyak orang bilang katanya mataku indah. Katanya. Aku seorang pekerja di sebuah perusahaan advertising sebagai desaign grafis.
                Langkahku terhenti tepat pada sepasang pengantin yang sedang bahagia menuju hidup rumah tangga. Sedikit terengah karena nafasku habis untuk berlari.
                “Selamat ya atas pernikahan kalian!” ucapku memberi selamat pada kedua pemelai. Aku tak datang sendirian. Aku bersama ibu.
                “Terima kasih, Risa! Kapan kau menyusul?” tanya sang pengantin, teman sekantorku Tia.
                “Doakan saja secepatnya!” jawabku seadanya. Inginnya begitu tapi, apa daya belum bertemu sang jodoh. Selalu senyum manis yang ku tunjukkan.
                Suasana pernikahan sungguh ramai. Aku tak bisa terlalu lama berkumpul dengan teman-teman. aku dan ibu pamitan pulang lebih awal pad teman-teman. Bukannya tak ingin. Tapi, setiap ada  acara pernikahan rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Selalu itu yang ditanyakan sampai aku bosan sendiri. huft... apakah hidupku akan begini terus? Datar sekali hidupku. Aku ingin sesuatu.
Aku dan ibu keluar gedung menuju pulang. Langkahku tertuju kearah sebuah scooter matic berwarna merah. Suasan begitu ramai di dalam mau pun luar, mataku tertuju pada seorang anak kecil berlari kearah jalan raya. Mana orang tuanya? Jalan sangat ramai. Sebuah mobil sedan hitam melaju cepat. Mobil?! Dengan sigap aku berlari kearah sang anak tanpa mempedulikan sekitar.
“AWASSSS!!!” teriakku langsung menggendong sang anak kedalam pelukkanku.
-BRRRAKKK!!!! Cciiiitttttt!!!-
Terdengar suara rem mobil mendadak berhenti. Tapi... terlambat. Tubuhku terpental dan berguling sambil memeluk sang anak dalam dekapanku.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit parau. Tubuhku terasa nyeri.
“Hiks..hiks...huaaa...Ibu..Ibu..” Sang anak hanya menangis meraung-raung tanpa tahu yang terjadi.
“Syukurlah! Jangan mena..ngis...” suara tangisan sudah tak terdengar. Sunyi.
“RISAAAAA!!!!” Ibu terkejut melihat diriku tak berdaya dengan darah mengucur dari dahiku. Semua orang bergerombol mengelilingi diriku.
-Nguing..nguing..nguing...-
Gelap. Aku dimana? Apakah aku mati? Tidak!!! Jangan! Jangan!
***
Sebuah gedung putih berdiri kokoh. Berderet jendela kamar bertuliskan setiap nama pasien. Sebuah troli ranjang tertidur seorang gadis berlumuran darah tertutup masker face dan tak sadarkan diri. Tiga orang perawat dan seorang dokter berlari kecil menuju ruang UGD.
“Risa.. hiks..hiks..anakku!” tangisan seorang ibu melihat sang anak Risa tak berdaya.
Sebuah ruangan berukuran 5 x 5 meter berwarna putih. Ruangan dilengkapi dengan perlengkapan alat kedokteran. Sebuah ruang Unit Gawat Darurat harus steril dan nyaman. Sang dokter bersiap membersihkan luka dan sedikit menjahit bagian dahi Risa. Semua pertolongan pertama telah selesai. Risa selamat. Tapi,...
Sudah tiga hari Risa tak siuman. Dia terlihat seperti orang sedang tidur pulas diranjangnya. Sebuah ruangan berdinding putih. Semua serba putih. Sebuah selang infus menempel ditangan kirinya. Sang ibu selalu setia menemani Risa di rumah sakit. Ibu tak sendirian. Ada seorang dokter muda berperawakan tinggi dan tegap. Wajah yang sempurna. Seorang dokter muda dan tampan dengan jas putih menyelimuti tubuhnya. sebuah kacamata bulat tergantung indah di hidungnya yang mancung. Dokter Rian.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Ibu sambil mengusap pelan dahi Risa. Ada rasa sedih dalam pandangannya.
“Risa baik-baik saja, Bi. Bibi tak perlu khawatir, Risa selalu dirawat dengan hangat olehmu. Dia hanya tertidur” jawab dokter Rian tersenyum simpul.
Rian selalu saja tersenyum pada semua keluarga pasien dan tentunya selalu mengakrabkan diri pada semua. Dia sosok dokter yang baik hati.
“Apa ini efek dari dia tertabrak mobil tiga hari yang lalu?” tanya Ibu lagi.
“Kepalanya terbentur cukup keras sehingga terjadi pengumpalan darah pada kepalanya dan tulang punggungnya retak. Itu yang mengakibatkan dia koma sementara. Cek kesehatan cukup kali! Tolong ajak terus dia bicara untuk merespon saraf motoriknya. Saya permisi dulu, Bi.” Jelas Dr Rian sebelum meninggalkan kamar Risa.
***
Terik matahari yang menyengat kulit tak membuat segerombolan remaja muda untuk menunggu seseorang yang spesial. Sebuah gedung bertingkat bernama JS Entertaiment. Sebuah gedung manajemen para artis terkenal. segerombolan gadis remaja membawa banner dan spanduk bertuliskan ‘DEVIN! I LOVE YOU’ ‘YOU ARE ONE’. Beberapa wartawan dan kameramen sudah siap menunggu sang idola.
“DEVIN! DEVIN! DEVIN!” teriak serempak para gadis remaja.
-Ceklek-
Terbukalah pintu utama gedung. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi tegap, berkulit putih, dan berparas tampan rupawan. Penampilanya sungguh memukau para gadis. Baju hem berwarna biru laut dan celana panjang kain berwarna putih ia kenakan. Senyum memikat dengan ciri khas tatapan mata tajamnya.
Devin Mark. Seorang penyanyi solo sedang naik daun.  Seorang pria berumur 27 tahun. Ketenarannya ia dapat dari masa kecil. Sebuah nama keglamoran menjadi sebuah kebiasaan bagi hidupnya.
Kegiatan ia sebagai penyanyi selalu padat hingga langit berubah menjadi gelap pun tak terasa. Sebuah ruangan cukup luas menyerupai rumah kecil. Apartemen elit kalangan atas. Setiap sudut ruangan terpajang barang-barang mewah. Suasana minimalis dengan desaign interior super wow. Sungguh nyaman untuk ditinggali. Seorang pria yang tak lain adalah Devin berjalan gontai menuju sebuah sofa panjang di ruang tv.
“Huft...” Devin menghela nafas. Rasa lelah sudah mencapai puncaknya.
Dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang berwarna putih. Sebuah remote televisi ia nyalakan tv. Setiap ia mengganti saluran tv lain, semua adalah tentang berita dirinya. Terkadang sebuah rasa bosan terlintas dalam pikirannya. Sungguh malas Devin berada di apartemennya. Terlalu besar? Mungkin. Sepi. Terasa sangat sepi karena dia tinggal sendirian disana. Waktu juga menunjuk jam satu dini hari. Dengan malas dia merebahkan diri di ranjang king size. Sungguh nyaman. Tubuhnya terlentang menikmati langit atap tak bergambar. Diam hanya terdengar bunyi detik jam dinding.
‘Putih. Bersih. Tanpa noda sedikitpun. Sungguh membosankan! Pulang pagi. Jadwal padat. Harus tersenyum palsu. Pergi dugem. Aishh! Hidupku hanya itu-itu saja. Sungguh datar hidupku! aku ingin sebuah kepolosan dalam hidup seperti langit atap kamarku. Kehidupan glamour selalu melekat padaku. Aku ingin sesuatu. Apa itu? Entahlah!’ batin Devin memikirkan hidupnya. Jam terus berbunyi. Lama semakin lama Devin terlelap. Cukup nyenyakkah?
Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi disana. Tempat baru. Orang baru. Kisah baru...
***
Risa pov.
Terlihat sebuah hamparan padang rumput sangat luas. Serba hijau ditumbuhi pohon besar tertata rapi sejajar. Aku bingung. Pakaian yang ku kenakan masih sama saat menghadiri pesta, tapi kenapa aku tak beralas kaki? Terus... dimana aku? Padang rumput seluas ini tak ada seorang pun kecuali diriku. Aku tengok ke kanan dan kiri. Terkadang berbalik arah siapa tahu ada orang datang. Sepi.
“Ibu! Ibu! Ibu!” teriakku.
Aku masih ingat aku pergi bersama ibu. Ibu dimana? Aku berlari mencari sosok yang begitu ku kagumi dalam hidup. Kegundahan dan khawatir menyelimuti perasaanku. Bagaimana tidak? Aku tak sekalipun memikirkan diriku sendiri, malah lebih memperhatikan orang lain. Keluarga ataupun orang lain. Aku terus memanggil ibu.
“Ah..ah..ah..hahh.. ibu, kamu dimana? Dimana aku?” gumamku terengah-engah kehabisan nafas. Aku tak menyadari kakiku penuh dengan luka goresan kecil dan berdarah. Tapi...kenapa tidak sakit? Tiba-tiba ada kilauan cahaya menarik perhatianku. Bola mataku tak sanggup melihat sinar menyilaukan mata. Seluruh tubuhku tenggelam dalam lautan cahaya itu.
“APA INI?!” teriakku sambil mengangkat lengan untuk menghalangi pandanganku dari silau cahaya.
-SLEB!!-
Cahaya menghilang begitu saja seperti kilat. Mataku masih tertutup rapat. Hampir ketakutan setengah mati. Gelap. Aku coba untuk membuka mata. Perlahan tapi pasti. Kelopak mataku berkedip berulang kali. Buram semakin lama semakin terang. Pertama kali yang terlihat langit atap seputih salju.
“Dimana aku?” gumamku melihat tempat berbeda dari sebelumnya, seperti sebuah ruangan. Aku semakin bingung.”Apa ini?!” tubuhku dalam posisi tidur menghadap langit. Tanganku merasa ada sesuatu. Rasanya seperti ada sengatan kecil. Hangat. Sedikit ragu aku memberanikan diri menolehkan kepala ke samping. Mataku tak diam berkedip. Seseorang sedang menatapku dengan ekspresi sama. Satu detik..dua detik... tiga det....

“”AAAAAARRRGGGGGHHHH...!!!!””

-tbc-

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE