Ayah, Kenapa...? (Two Shoot)

PART 1

Sebuah kota kecil. Dimana setiap rumah berhimpitan satu sama lain. Sempit. Tak mungkin lagi, apabila ada yang berteriak akan terdengar seantero kampung. Semua akan tahu. Tak ada yang tak tahu.
Sebuah rumah beratapkan warna orange. Bertembokkan beton dengan cat berwarna coklat. Semua serba coklat. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Untuk beberapa saat mungkin tenang, tapi...
-BRAKKK!!!-
Terdengar suara benda terbanting keras di dalam rumah. Seketika itu juga, terdengar suara tangisan anak kecil meraung minta tolong.
“Huuuhuuuu..Huaaa...Ibu! Ibu!” tangis seorang gadis kecil berumur  5 tahun dan berambut keriting. Air matanya jatuh tak tertahan. Ingin sekali dia dekat dengan ibunya, tapi tak bisa karena tubuh kecilnya.
“UANG?! KAU KIRA AKU PUNYA UANG SEKARANG!!! BERISIK!!” bentak seorang pria paruh baya melempar kursi .
“SUDAH SEPANTASNYA KAU MENAFKAHI KAMI, MAS!” balas teriak seorang wanita paruh baya. Matanya sembab ingin menangis sekeras-kerasnya, tapi ia tahan sekuat tenaga. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan sang suami.
“DIAM! KAU INGIN KITA RIBUT?! HAH!”  sang suami membentak dan tangannya mulai ingin menampar sang istri, tapi ia tahan dengan kepalan kesal.
“KAU INGIN MENAMPARKU DI DEPAN ANAK? Heh.. KAU BERANI MENAMPARKU? INI SEMUA SALAHMU, MAS!  JUDI?! IYAKAN, JUDI. JUDI.JUDI LAGI! UANGMU HABIS UNTUK ITU!! ARRRGGHH!” teriak sang istri kesal. Apa yang di hati tak bisa ia bendung lagi. Rasa kesal yang telah bertumpuk keluar juga.
“Huhuhu...Ibu Ibu...” masih terdengar tangisan sang anak. Gadis kecil yang tak tahu apa-apa. Hanya mengetahui orang tuanya saling berteriak keras. Sang istri menggendong anak gadisnya keluar rumah. Kebetulan rumah sang nenek dekat dengan rumah mereka.  Dia membawa anaknya ke rumah nenek.
“Ibu, aku titip anakku sebentar! Jaga dia!” pinta sang istri pada sang nenek. Dia tak menunggu jawaban sang  nenek. Dia langsung kembali ke rumah itu.
“Nenek..huhuu..nenek..Huuuhuaa..” tangis gadis kecil itu memeluk sang nenek.
“Sudah..cep.cep.cep..jangan menangis! Ibu Ayahmu tak apa” hibur sang nenek menggendong sang cucu.
Suara itu masih terdengar dari rumah nenek. Teriakan dan suara bantingan barang. Hanya takut yang dirasakan sang gadis kecil yang masih sesengukkan.
***
17 tahun kemudian....
Awan terlihat tak bersahabat. Warnanya putih diselimuti warna abu-abu pekat. Cuaca tak mendukung. Mendung tapi tak hujan. Pagi yang seharusnya secerah hatiku malah terlihat muram.
“Susu Pagi!” teriakku meletakkan botol isi susu murni sapi ke setiap rumah langgananku.
Inilah kegiatanku sehari-hari di pagi buta. Kerja dan kerja. Pagi menjadi pengantar susu. Pagi sampai sore hari sebagai pegawai kantor. Malam hari menjadi penyiar radio. Super sibuk. Aku Olivia Anggraeni. Panggil saja Oliv. Aku bukan seorang gadis kecil lagi. Aku seorang gadis berumur 23 tahun. Dua tahun yang lalu, aku sudah lulus kuliah menjadi seorang sarjana ekonomi. Sekarang dalam pikiranku dapat membahagiakan orang tuaku yang semakin berumur. Pacaran? Ada dalam benakku, tapi ku urungkan niat itu saat ini. Yang terpenting adalah Ibu dan Ayah.
Tujuan terakhir tugas seorang pengantar susu. Sepedaku terhenti di sebuah gedung meyerupai sebuah rumah sederhana dikelilingi dengan kebun bunga. Sungguh indah berwarna warni. Ku letakkan sepedaku dibawah sebuah pohon besar nan rindang. Terlihat tawa riang menyelimuti hangatnya pagi hari. Aku berjalan bak seekor kelinci, mengendap-endap agar tak ketahuan. Tak lupa ku membawa botol susu dalam tas slempangku.
“Kakak, kau ketahuan!”  seorang anak kecil mengagetkanku dari  sesemakan.
“Kau?!  Hehehe..ketahuan ya?!” aku menyunggingkan senyum dan menggaruk kepala yang tak gatal.
“Teman-teman, kak Oliv DATANG!” teriak anak tadi.
“Mana? Mana? Mana? KYAKKKK...kak Oliv!” serbuan bertubi-tubi datang menghampiriku.
“Wowwww....!” aku membulatkan mata melihat anak-anak Tk Harapan Bangsa berebut minta dipeluk.
Sebuah TK Harapan Bangsa. Taman kanak yang selalu aku kunjungi setiap pagi setelah kerjaan mengantar susu telah selesai.  Sangat menyenangkan dapat bermain dengan anak-anak kecil. Lucu dan imut. Terkadang ada yang menangis. Kasihan tapi menggemaskan. Melihat pipi tembeb mereka membuat diriku terlepas dari beban. Sungguh polosnya mereka. Wajah-wajah tanpa dosa. Ingin sekali menjadi anak kecil lagi. Huft.
“Hey..jangan berebut! Lihat kak Oliv sampai terjatuh!” celetuk seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, berkulit sawo matang dan berambut cepak keriting. Ah tak lupa dia mengenakan aprom berwarna biru tua bertuliskan TK Harapan Bangsa. Lelaki itu berusaha membantuku berdiri.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menarik lenganku. Senyumnya sungguh memikat. Khususnya untuk kaum ibu-ibu yang mengantar anaknya ke TK.
“Yups! Terima kasih, Pak Guru!”  ucapku membalas senyumnya.
“Kak Oliv..kak Oliv..ayo main!” ajak seorang anak menarik ujung baju Oliv karena tak sampai.
“Iya sebentar ya!” ucapku mencubit gemas pipinya.
“Ryan bermain dulu dengan yang lain ya! Pak Guru, mau bicara sebentar dengan kak Oliv” jelas sang lelaki pada siswanya. Anak yang bernama Ryan itu berlari menghampiri teman-temannya yang sedang bermain. Sungguh lucu.
Sesaat kami terdiam. Tak ada kata yang terucap. Pandangan mata kami tertuju pada kepolosan anak-anak itu. Matahari juga mulai menampakkan cahaya.
“Sungguh lucu sekali mereka! Polos. Selalu gembira” gumamku tersenyum manis.
“Dan belum tahu apa-apa. Banyak ekspresi yang mereka tunjukkan. Marah ya marah. Menangis ya menangis. Tertawa ya tertawa. Tak ada yang disembunyikan” sahut sang lelaki masih menatap pemandangan di depan sana.
“Tak ada yang disembunyikan. Ah..benar” jawabku singkat sambil mengigit bibir bawahku.
“Itu yang aku suka dari mereka. Bagaimana kabar orang rumah?” tanya  lelaki itu tiba-tiba. Pertanyaan yang selalu ku hindari selama ini. Dia menatapku lama menunggu jawabanku.
“Hmm..baik. Yakk! Kenapa Pak Reno selalu menanyakan itu setiap hari? Aku bosan mendengarnya!”  cibirku kesal.
 “Heh.. benar juga! Kenapa aku menanyakannya ya? Padahal setiap hari kita bertemu. Haha..” dia tertawa.
Reno. Seorang lelaki berumur satu tahun lebih tua dariku. Dia menjadi seorang guru taman kanak Harapan Bangsa setelah lulus kuliah. Dia teman sekaligus tetangga sebelah rumahku. Sungguh tak enak mempunyai teman mengetahui segalanya.
Aku pergi meninggalkannya sendiri disana. Lebih menyenangkan bermain dengan anak-anak. Bercanda dengan mereka sungguh menyenangkan.
“Kau selalu begitu. Tawamu sungguh indah, tapi hanya sebuah tipuan” gumam Reno melihatku dan masih memandangi anak-anak.
***
Sibuk dan sibuk. Itu yang selalu Oliv lakukan. Dia lebih memilih sibuk dan pulang larut malam daripada harus pulang lebih awal ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Dinginnya malam sudah menusuk sela-sela tulang rusuknya. Sungguh malas untuk membuka pintu rumah. Oliv berjalan gontai. Ketika dia hendak membuka kenok pintu, ia urungkan niatnya. Oliv mematung disana.
-BRAKKK!!! PRAKKKK!!!-
Suara itu lagi. Selalu saja. Terdengar barang pecah sengaja dijatuhkan.
“Semua barang kau pecahkan, Mas! BANTING semua!” teriak seorang wanita paruh baya.
“DIAM!” balas teriak marah seorang pria.
“Ibu...” gumam Oliv dari luar rumah. Oliv ingin sekali mengakhiri ini semua, tapi tak bisa ia lakukan. Dia sedang berusaha mengubah nasibnya.
-krek-
Suara pintu terbuka dengan cepat.
“Aku pulang!” ucap Oliv datar. Dia langsung menuju kamar tanpa menghiraukan kedua orang tuanya. Dia tak ingin ikut campur. Dengan keras Oliv menutup kenok pintu kamarnya.
“LIHAT DIA! ITU YANG NAMANYA ANAK GADIS?! PULANG LARUT MALAM!” bentak sang Ayah pada Ibu.
“Kapan kau mau mengerti kami, Mas? Aku sudah lelah. Cukup! Jangan kau salahkan anak kita. Hiks..” Ibu menangis. Ibu, apakah kau lelah? Maaf.
Ayah selalu saja menyalahkan Oliv dan selalu mengalihkan kesalahannya pada Ibu. Masih terdengar bentakkan itu. Tangisan mulai terdengar dari luar. Oliv masih bersandar membelakangi pintu kamar. Dia terduduk lemas dengan menggapit kedua kakinya. Kepalanya tertunduk seperti ingin menutupi sesuatu. Diam.
“Hiks..Hiks..Hiks..” suara sesengukkan yang Oliv tahan dalam diam. Ia tak ingin orang lain mendengarnya.
Oliv menangis. Dia tak bisa melakukan apa-apa. Keributan yang selalu terjadi. Semua berawal dari UANG dan UANG. Himpitan ekonomi yang menghantui keluarganya. Oliv tak menyalahkan sang Ayah. Dia justru bangga bahwa Ayahnya dapat membiayai sekolah sampai Sarjana walaupun sang Ayah hanya seorang sopir truk. Tapi, ada hal yang Oliv tak sukai dari sang Ayah. JUDI. Pertengkaran itu dimulai dari Judi. Ayah selalu menghabiskan uangnya untuk judi. Padahal, dia sering kalah bermain judi. Apa enaknya berJUDI?! Ayah,....?
***
Reno Pov.
Malam semakin larut. Bosan. Ku langkahkan kaki keluar rumah sebentar untuk menghirup udara malam. Dingin. Ku masukkan kedua telapak tanganku kedalam saku celana. Jalan kaki menelusuri trotoar dekat rumah.
“Dia pasti belum pulang” gumamku sesaat melewati depan rumah Oliv. Aku melanjutkan jalanku.
Hampir setengah jam aku mengelilingi komplek rumah. Rasa lelah sudah melanda tubuhku. Aku pun berniat kembali ke rumah. Aku percepat langkah kakiku. Langkahku terhenti sejenak melihat Oliv berjalan gontai menuju rumahnya. Senyum tipis tersungging di bibirku.
“Hey! Kau sudah pulang” sapaku menghampiri Oliv yang sudah berada di depan rumahnya.
“Hey! Ya, baru selesai siaran. Aku masuk dulu ya! Dah..” sapa Oliv sekaligus mengakhiri percakapan kami sambil melambaikan tangan. Tak lupa dia tersenyum.
“Baiklah. Bye..” balasku. Aku pun melangkah pergi menuju rumahku.
-BRAKKK!!! PRAKKKK!!!-
Suara itu lagi. Selalu saja. Terdengar barang pecah sengaja dijatuhkan. Sesaat ku hentikan langkah kakiku. Aku kaget mendengarnya. Suara itu terdengar dari arah rumah Oliv.
“Lagi?! Huft..” aku menghela nafas panjang. Aku berbalik menuju rumah Oliv. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Ku urungkan niatku untuk melangkah lebih jauh. Aku bersandar dibalik pagar agar tak terlihat Oliv. Aku tahu Oliv masih di depan pintu.
‘Oliv, apakah kau baik-baik saja?’ batinku. Ingin sekali ku tanyakan ini padanya. Tapi, ini bukan area dan hakku untuk masuk didalamnya. Ingin sekali ku melihatmu tersenyum ikhlas.
Malam yang dingin semakin dingin. Mungkin ada rintik hujan, tapi tak semua orang dapat melihat jatuhnya air hujan.
***
Hari demi hari berlalu. Oliv terus menjalankan hidupnya. Aktivitas sehari-hari masih dia lakukan. Harus tertawa atau tersenyum pada banyak orang. Memang lelah hidup ini, tapi mengeluh juga percuma. Tak bermanfaat dan menghabiskan waktu yang berharga. Setiap menit dan detik harus semangat menjalani hidup.
Awan kuning menyelimuti langit biru. Cuaca sore yang cerah. Sangat menyenangkan bersepeda di sore hari. Oliv mengayuh sepedanya sekencang mungkin. Angin sepoi membuat rambut panjangnya yang tergerai berkibar. Sejuk.
-CiiiTTT-
Sepeda Oliv berhenti di sebuah gedung tak terlalu besar, tapi bisa disebut sebagai kantor. Terpampang sebuah papan nama FULL fm Radio. Dia menyandarkan sepedanya di tempat parkir. Dengan berlari kecil Oliv menggendong tas ranselnya. Ah..dia sudah berganti pakaian. Hem panel, kaos bergambar menara Eiffel, celana jins dan sepatu kets melekat ditubuhnya yang tinggi semampai. Ya..kalau orang lain melihat Oliv mungkin mengira dia masih anak kuliahan, karena wajahnya yang terlihat muda dari umurnya.
“Sore!” sapa Oliv pada semua pegawai Full fm Radio di sebuah ruangan yang penuh dengan meja dan kertas
“Sore, Liv! Siaran ya?” celetuk seorang pria duduk di meja paling pojok.
“Semangat ya, Liv!” sahut mba Emi seorang staf akunting memberi semangat. Ah senyum mba Emi sungguh menyejukkan hati.
“Semangat, Mba!” ucap Oliv sambil mengepalkan tangannya.
“Woy! Ayo siaran, my sist!” celetuk Dj Ary yang baru saja datang menghampiri Oliv.
“Okey. Okey. Okey..Dj kece!” ucap Oliv sambil memberi tanda lingkar dengan jari jempol dan telunjuknya.
“Udah sana!” Dj Ary mendorong punggung Oliv pelan keluar dari sana.
Tepat pukul 19.00 wib. Waktu siaran dimulai. Oliv sudah bersiap memulai siarannya. Ada ritual yang selalu ia lakukan sebelum siaran. Berdoa dan tarik hembuskan nafas. Okey ready!
“Malam  semua, Full Lovers!! Wahh!! Sudah petang saja ya? Hmm..banyak lagu-lagu yang akan diputar malam ini. Tapi sebelumnya, malam ini ada tema seru loh! Penasaran? Mungkin sedikit mengenang masa lalu ya. Masa kecil. Ya tema kali ini adalah Lagu anak. Apakah ada yang masih ingat dengan lagu-lagu anak kecil? Ah..sungguh mengecewakan sekali! Hm..menurut survei, banyak yang melupakan lagu-lagu anak kecil. Masih ingatkah kalian dengan lagu Lihat Kebunku? Naik kereta Api? Atau...Satu-satu Sayang Ibu? Hehemm..coba aku nyanyikan ya!....”

Satu-satu aku sayang Ibu
Dua-dua juga sayang Ayah
Tiga-tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya....

“...Wah kalau ada yang ingat, beruntunglah diri kalian! Lagu-lagu ini sangat ceria bila dinyanyikan. Aku berharap masih ada yang mau mengajarkan anak-anak kecil yang lucu itu bernyanyi dengan lagu sesuai umurnya. Ayo kita Amini. Amin...! hmm..sepertinya, aku sudah terlalu panjang bicara ya? Hehe..baiklah, untuk Full Lovers yang kece badai. Aku putarkan lagu yang sedang hits dengan goyang pinggulnya yang WOW. Ini dia Firly Firlana dengan Get U Back. Lets go!” ucap Oliv dengan gaya ciri khas menjadi seorang penyiar radio. Huft.
.....
Bukan sekali ini aku melihat
Bukan dua tiga kali ku dengar
Dirimu diriya semua
Every little thing about you
Sehebat-hebatnya kamu menghindar
sedalam-dalamnya kamu sembunyi
Disini disana dimanapun
i will find you girl ! girl ! girl !
.....
By. Firly Firlana- Get U back

Oliv melepas headphone dan beristirahat sejenak sambil menikmati lagu yang sedang diputar. Capek. Oliv meregangkan lengannya lebar-lebar. Suara siaran Oliv terus berkumandang sampai jam sepuluh malam. Inilah aku Dj Oliv.
***
Oliv Pov.
Aku harus pulang. Sungguh lelah hari ini. Apa Cuma perasaanku saja? Sudahlah. Jalan yang ku lewati sudah tak seramai tadi sore. Ah lupa! Ini sudah larut malam. Aku baru menyadari ketika ku tengok jam tangan menunjuk pukul 22.15 wib. Rasa malas mendera diriku lagi. Ingin sekali ku berteriak lantang. Lega mungkin kali ya?
Ku pandangi rumahku sesaat. Mataku tak berkedip sedikitpun. Ragu. Ya rasa ragu yang ku rasakan sekarang.
“Huft...” hanya helaan nafas panjang yang bisa ku lakukan.
Malas sekali untuk masuk ke rumah. Aku buka kenok pintu tanpa mengetuk pintu dulu. Pemandangan yang nyaris membuatku terkejut setengah mati.

Comments

Popular posts from this blog

Darell Ferhostan

Jam Berbunyi TIK...TOK..

GONE