Ayah, Kenapa...? (part end)
Oliv Pov.
Aku harus
pulang. Sungguh lelah hari ini. Apa Cuma perasaanku saja? Sudahlah. Jalan yang
ku lewati sudah tak seramai tadi sore. Ah lupa! Ini sudah larut malam. Aku baru
menyadari ketika ku tengok jam tangan menunjuk pukul 22.15 wib. Rasa malas
mendera diriku lagi. Ingin sekali ku berteriak lantang. Lega mungkin kali ya?
Ku pandangi
rumahku sesaat. Mataku tak berkedip sedikitpun. Ragu. Ya rasa ragu yang ku
rasakan sekarang.
“Huft...”
hanya helaan nafas panjang yang bisa ku lakukan.
Malas sekali
untuk masuk ke rumah. Aku buka kenok pintu tanpa mengetuk pintu dulu.
Pemandangan yang nyaris membuatku terkejut setengah mati. Sang Ayah membentak
dan tangannya mulai ingin menampar sang Ibu.
“AYAH!!!”
teriakku ketika melihat ibu hendak ditampar Ayah. Aku menghampiri Ibu yang
sedang menangis pelan.
“MASUK KAU KE
KAMAR!” perintah Ayah masih membentakku.
“Sudah Ayah!
Ayo masuk ke kamar, Liv!” pinta Ibu menggandeng tanganku agar masuk kamar.
“CUKUP!!! Ibu
, aku tak akan masuk!” ucapku melepas tangan Ibu dari lenganku. Sudah cukup!
Ini sudah keterlaluan.
“CEPAT MASUK
KAMAR!” bentak Ayah lagi.
“AYAH! SAMPAI
KAPAN KAU BEGINI?!!” teriakku keras. Aku sudah tak peduli aku berteriak pada
siapa.
“ANAK KURANG
AJAR!” teriak Ayah lagi.
“Heh? Apa Ayah
bilang? Anak kurang ajar? AYAH YANG MEMBUATKU BEGINI! Judi. Iya kan? Ayah kalah
berjudi lagi kan?! Itu yang selalu Ayah
lakukan” ucapku dengan menekankan beberapa kata.
“Kau?! Kau...”
ucap Ayah heran melihat tingkahku.
“Sudahlah,
Liv!” gumam Ibu memegang pundakku pelan.
“Ibu..Ini
belum cukup untuk Ayah. Ayah sudah keterlaluan!” ucapku pelan pada Ibu. “Lihat!
Mana peduli Ayah pada kita, Bu?! Dia hanya tahu menghamburkan uang untuk JUDI!
Heh?!” aku melirik dengan tatapan sinis pada Ayah yang selalu ku hormati.
Ayah masih
diam seribu bahasa. Dia tak bisa mengelak lagi. Inilah kenyataannya. Semua yang
ku katakan adalah kebenaran.
“Aku sudah bersabar.
Setiap hari selalu begini. Tak ada kata maaf sekalipun darimu. Apakah Ayah
pernah mengerti aku dan Ibu. PERNAH?!? Kenapa, Ayah? KENAPA?! ARRGGGHHH!!” aku
berteriak lantang.
Aku tak peduli
tetangga mendengarnya. Air mataku tak bisa terbendung lagi. Air mengalir dari
pelupuk mataku. Gigiku bergetar. Begitu juga tubuhku. Aku sudah tak tahan.
“Heh?! Air mata
keluar? Sungguh rugi aku menangis dihadapanmu, Ayah!” ucapku mengusap air mata
dan berlalu pergi begitu saja.
Aku berlari
sekencang mungkin di tengah malam yang dingin. Dingin ini sungguh menusuk, tapi
hatiku lebih sakit tertusuk. Aku menangis dalam diam. Aku terus berlari. Sebuah
taman bermain jauh dari rumah. Langkahku terhenti disana. Terlihat berdiri
seorang lelaki mengenakan hem berwarna biru dengan bercelana jins hitam
berjarak tiga meter dari hadapanku. Dia melihatku cukup lama. Tak bersuara.
Namun, matanya tersirat mengetahui semua yang terjadi.
***
Reno Pov.
Hmm...suntuk.
setiap malam pasti aku selalu keluar rumah. Menyegarkan pikiran memang sangat
diperlukan. Aku duduk bersandar pada bangku taman. Sepi. Mungkin hanya aku yang
disini. Pemandangannya cukup indah di tengah malam. Lampu-lampu kota berkedip
seperti bintang. Sekaleng kopi hangat menemaniku. Tegukkan terakhir sudah ku
minum, aku harus pulang karena esok harus mengajar anak-anak . Aku langkahkan
kaki pelan keluar taman.
Deg. Langkahku
terhenti ketika melihat sosok Oliv dihadapanku. Jarak kami tak begitu jauh.
Kami mematung di tempat kami berdiri. Aku melihat Oliv menahan tangis. Aku
ingin menghampiri dia. Satu langkah..dua langkah..tig..
“Berhenti!
Jangan mendekat!” ucap Oliv memberi tanda agarku tak melangkah mendekatinya. Ku
hentikan langkahku, berdiam diri disana. Ingin sekali ku menepuk pelan bahunya.
Entah rasa apa ini. Kasihan? Entahlah. Aku mengangkat kedua bahuku tanda
setuju.
“Hiks..Hiks...Huhuhuuuuu..HuAAAhuUUAAAAA”
suara tangis terdengar jelas. Oliv meraung-raung menangis dihadapanku. Aku tak
bergerak dari tempatku. Dia yang menyuruhku agar tak mendekatinya.
‘Menangislah
sekeras mungkin! Legakan hatimu, Liv!’ batinku melihat Oliv disana. Itu lebih
baik untuknya saat ini. Terlalu banyak beban yang kau pikul sendiri.
Menangislah.
***
Reno tak dapat
berbuat banyak. Dia meninggalkan Oliv di taman sendirian. Itu lebih baik daripada
dia disana. Reno menelusuri trotoar pinggir jalan komplek dekat rumahnya. Dia
melihat Pak Anggoro, Ayah Oliv dari arah berlawanan. Setiap malam Reno
mendengar Pak Anggoro berteriak dan membentak. Ingin sekali rasanya dia
menghajar Ayah Oliv.
“Aish..” decak
kesal Reno melihat sosok Ayah Oliv.
Pak Anggoro
melihat Reno si anak tetangga sebelah. Mereka saling menyapa memberi salam.
“Malam,
paman!” sapa Reno sambil tersenyum ramah.
“Malam, nak
Reno!” balas Pak Anggoro. Ayah Oliv berlalu pergi setelah menyapa Reno.
“Tunggu,
paman!” ucap Reno berhasil menghentikan langkah Pak Anggoro.
Pak Anggoro
berbalik badan dan juga sebaliknya dengan Reno. Mata Pak Anggoro penuh tanya.
Reno tersenyum pada Ayah Oliv.
“Aku rasa,
paman harus berubah. Apakah paman tahu kalau Oliv sering menangis? Oliv tak
pernah melihatkan diri menangis pada siapapun. Apakah paman tak bisa melihat
isi hatinya, walaupun hanya sedikit? Maaf bila aku sedikit lancang, paman! Aku
harap paman memahami perasaan Oliv dan bibi. Selamat malam, paman!” ucap Reno
menjelaskan sesuatu yang memang harus Pak Anggoro ketahui. Reno meninggalkan
Ayah Oliv setelah berpamitan tanpa menunggu jawaban. Pak Anggoro masih diam
untuk memahami ucapan Reno.
***
Setelah
kejadian malam itu, Oliv tak bicara lagi dengan sang Ayah. Sebenarnya, dia tak
marah. Tapi, melihat sang Ayah membuatnya kembali benci. Oliv masih tetap
menjalani aktivitasnya. Tak peduli pada apaun. Terpenting, senyum dibibirnya
terus mengembang.
Panas teriknya
matahari sungguh menyengat di kulit. Oliv dan teman kantornya hendak makan
siang diluar kantor. dia melihat sesosok pria paruh baya sedang berdiri
menunggu seseorang. Ah..Oliv mengenalinya. Pria itu juga melihat Oliv yang
sedang menatap dan menghampirinya.
“Oliv...” sapa
pria itu pelan. Mungkin takut salah bicara.
“Ayah..Ada apa
kemari?” tanya Oliv untuk pertama kalinya setelah kejadian malam itu. Pria itu
aadalah sang Ayah. Dia tak ingin memperburuk suasana.
“Bisakah nanti
kita bicara? Sepulang kau kerja, Ayah akan menunggumu di taman!” pinta sang Ayah
agak ragu.
Oliv hanya
diam menatap Ayahnya. Dia diam sejenak belum menjawab. Apakah harus datang?
Tidak! Tidak!
“Baiklah..tunggu
aku disana!” jawab Oliv. Ada angin apa ini? Oliv spontan menjawab setuju untuk
datang, padahal dia tak ingin datang.
Oliv meninggalkan
sang Ayah disana tanpa berpaling melihatnya. Entah apa yang Ayah inginkan
sekarang.
***
Ayah pov.
Awan sore hari
begitu indah. Cerah tak hujan. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulit. Terlihat
banyak ank kecil bermain di taman. Ada yang berain pasir, ayunan, dan
kejar-kejaran. Aku hanya seorang pria tua yang bisa duduk bersandar melihat
mereka. Aku seperti mengingat kenangan tempo dulu. Anakku Oliv. Kenangan itu
berputar kembali seperti roll film dalam ingatanku. Bermain bersama.
Flash
back.
Di
sebuah pantai dengan pasir putihnya yang bersih.
“Ayah..Ayah..lihat
ini! aku dapat kerang!” teriak Oliv kecil menunjukkan kerang ditangan
mungilnya.
“Coba
ayah ingin lihat!” pinta Ayah sambil tersenyum pada Oliv. “Anak pintar!” sambil
mengacak-acak rambut si anak.
“Ayah!
Ibu sudah susah payah menghias rambutku” teriak Oliv dengan suara lucunya. Oliv
memanyunkan bibirnya yang merah.
“Ayah!
Oliv! kalian sedang tertawa apa?” celetuk Ibu sedikit berteriak. Dia berlari
kecil menghampiri Ayah dan Oliv. semua tertawa bahagia.
Flash
back end.
Aku, istriku dan juga Oliv. Tertawa bersama
menikmati liburan keluarga. Dulu sekali. Hampir saja aku melupakan harta yang
paling berharga. Aku menyadari bahwa aku salah pada mereka. Selama ini, aku tak
pernah menanyakan apa ingin mereka. Selalu sibuk sendiri tanpa mempedulikan
istri dan anakku. Pandanganku tak beralih dari anak-anak kecil yang sedang
bermain.
“Ayah”
terdengar suara orang yang ku kenal. Aku beralih melihatnya. Anak gadisku. Dia
duduk diujung kursi bangku taman bersebelahan denganku. Dia tak menatapku.
“Kau sudah
datang” ucapku beralih lagi menatap ke depan.
“....” Oliv
tak bergeming.
“Apakah kau
ingat waktu kita ke panta bersama? Kau tertawa riang seperti mereka. Sungguh
lucu saat itu” aku berusaha mencairkan suasana kaku ini.
“...”
“Oliv...”
panggilku kedua kalinya.
“Saat itu. Ayah
mengingatnya sebagai saat itu. Sejak Ayah mengenal judi, apakah Ayah masih bisa
mengingatnya?! Heh..baru sekarang Ayah ingat kembali?” ucap Oliv berbicara
tanpa melihatku. Matanya tersirat marah padaku. “Aku pergi!” pamit Oliv hendak
beranjak pergi.
“Maafkan Ayah,
Anakku” hanya satu kata terlontar dari bibirku. Maaf.
“...” Oliv
berhenti sejenak mendengar permintaan maaf diriku. Tak ada niat dia berpaling
untuk melihatku. Dia pergi melangkahkan kakinya seiring jalan setapak.
‘Hanya kata
maaf yang terlontar dari mulut, tapi tidak dengan tindakanmu, Ayah!’ gumam Oliv
dalam hati.
***
Oliv pov.
Flash
back.
Reno
melihatku menahan tangis. Dia ingin menghampiriku. Satu langkah..dua
langkah..tig..
“Berhenti!
Jangan mendekat!” ucapku memberi tanda agar tak melangkah lagi.
“Hiks..Hiks...Huhuhuuuuu..HuAAAhuUUAAAAA” suara tangisku terdengar jelas. Aku
meraung-raung menangis dihadapannya. Aku tak bergerak dari tempatku. Dia juga
sebaliknya.
Cukup
lama aku menangis tak jelas disana. Ketika diriku mulai reda menangis, Reno
membelikanku sekaleng kopi hangat. Kami duduk di sebuah bangku taman.
“Terima
kasih” ucapku menerima kopi hangat pemberian Reno.
“Aku
rasa, kau lebih baikan sekarang” ucap Reno melihat keadaanku.
“Ya..”
sahutku dengan tatapan kosong.
“....”
“....”
Aku
dan Reno tak ada yang bicara. Apa yang dibicarakan? Sungguh memalukan.
“Apakah
kau selalu begini?” tanya Reno memulai pembicaraan.
“Maksudmu?”
tanyaku balik. Aku tak mengerti.
“Kau..kau
selalu tersenyum, tapi yang aku lihat sebuah senyum palsu” ucap Reno.
“hmm..lebih
baik begitu. Daripada aku setiap menit dan detik menangis tak jelas. Pikirku
ini merugikan. Tapi, aku sudah tak bisa memendung semuanya lagi. Dalam benakmu,
aku pasti sering menahan tangis?” ucapku panjang lebar.
“Ya..”
“Dalam
benakku, Ayah dan Ibu sangat berarti dalam hidupku. Walaupun, aku tahu bahwa
Ayah tak bisa aku harapkan seperti dulu” ucapku lagi tanpa melihat Reno yang
sedang mkenatapku.
“Ibumu..”
“Ibu..ya
Ibu. Aku belum bisa melakukan apa-apa untuk dia. Sungguh menyedihkan diriku!
Ingin sekali membahagiakan mereka” helaan nafas panjang ku hembuskan.
“Amin”
sahut Reno mengaminkan inginku.
“Aku
harap, setelah ini kau berpura-pura tak tahu. Terima kasih, Reno” ucapku
mengakhiri pembicaraan kami.
Reno
mengganggukkan kepala tanda setuju. Ku balas senyuman Reno padaku.
Flash
back end.
‘Hanya kata
maaf yang terlontar dari mulut, tapi tidak dengan tindakanmu, Ayah!’ gumamku
dalam hati. Aku berpaling dan meninggalkan Ayah seorang diri. Tak terasa air
mata keluar dari pelupuk mataku.
Ingin sekali
aku mengakhiri semua. Ayah tak berubah sama sekali. Dia pasti akan mengulangi
hal yang sama berkali-kali. Judi. Hidup ini akan terus berjalan. Waktu pun
terus berputar. Ayah...apakah kau akan sadar dengan teguran Tuhan? Tidak.
Disaat kau berjalan pincang, kau pun tak berubah. Apakah kau tak malu
denganNya, Ayah? Aku tak tahu jalan hidupku kedepan. Bahagia atau tidak
bahagia? Takdirku, Dia yang menentukan. Nasibku, aku yang menentukan. Tak ada
yang bisa menebak putaran hidup manusia.
The End
Comments
Post a Comment