Cinta atau Nafsu ??
Ada sebuah kisah seseorang
menggelitik hati dan tanganku untuk menulis hal ini. sebuah tulisan yang
mungkin tidak terlalu penting untuk dibaca. Mungkin. Aku lebih suka
mengungkapkan lewat tulisan dan aku mau menulis sebuah arti hubungan seseorang
dari sudut pandang diriku. Disini aku tak memihak pada siapapun. Dari pihak
sang lelaki ataupun sang perempuan. Mungkin... kalau dilihat sepintas sangat
sepele, namun dilihat dan didengar lebih lama semakin rumit, sebut saja
complicated.
Bukankah suatu hubungan dilandasi
cinta satu sama lain?? Tapi, mengapa terkadang hanya satu pihak yang berjuang
keras untuk meluluhkan salah satunya. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Ya
memang begitu. Namun, masih ada orang yang mau memperjuangkan hingga dia lelah
untuk berlari lagi mengikuti ingin nafsunya. Mungkin, kata penyesalan selalu
datang pada akhir cerita. Dia.. sekarang tak menyesali apa yang dia lakukan
untuk seseorang yang dulu dia kejar hingga lelah saat itu. Pemikirannya,
doanya, dan apa yang dia lakukan dahulu, semua dia bungkus dalam satu wadah
mulai dengan cinta Allah. Menyesal? Tidak. Kenapa tidak?? Dia tersadar, dulu
rasa dilandasi emosional menggebu-gebu membuat hatinya bungah, apakah berakhir
bahagia? Memang kata nyaman terdengar adanya. Doa yang selalu dia panjatkan
kepadaNya mungkin terasa ngilu untuk diucapkan dengan kata dan jawaban itu pun
masih buram dalam penglihatannya. Tapi... dia tersadar bahwa nafsu tak akan
menyelesaikan semua yang telah terjadi dan belum berakhir sampai sekarang. Apakah
akan kembali? Tak ada yang tahu. Apakah akan berakhir? Tak ada yang tahu. Aku tak
bisa menjawab apa yang menjadi takdir Tuhan. Tergantung sifat dan nalar yang
dia punya, inginkah dia jalan ditempat terus hingga berpuluh tahun meratapi nasib
dirinya dan tak melihat orang sekitarnya yang peduli ataukah dia ingin berjalan
pelan namun pasti menuju tempat yang lebih indah untuk dibijak bersama dengan
terkasih kelak. Tuhan Maha Adil. Tak ada yang tahu apa mauNYa, hanya Dia yang
dapat membolakbalikkan hati manusia. Ikhlaslah...ya walaupun rasa itu sulit
untuk dibuktikan dengan realita yang ada.
Fine.. ini memang sedikit
sentimental dan menyinggung isi hati yang terlalu sensitif. Aku jadi belajar
dari sudut pandang kedua orang, menjadi orang yang netral dalam memahami hal
atau peristiwa yang terjadi. Belajar memahami dan mengerti karena semua dimulai
dari diri sendiri. Dan aku belajar dari kata bijak sang penulis mba Asma dalam
filmnya “Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka”. Namun kenyataannya,
cinta masih dilandasi oleh nafsu. Saling menjagalah dilandasi dengan rasa
cintamu pada Allah, maka semua akan berakhir bahagia sesuai tali benang
merahnya. J
Comments
Post a Comment