Your Choice

Semilir angin berhembus
melambaikan gelombang air saling bertautan. Sungai besar bernuansa biru
terbentang bangunan kokoh guna seberangan. Burung-burung berterbangan saling
bersiul indahnya. Cuaca pun sangat sejuk untuk menikmati sore hari. Aku duduk
termenung menikmati pemandangan sore hari. Mataku tak pernah lepas mengarah pada sungai
itu. Sungai Han. Sebuah sungai terbesar di negara dengan julukan negeri Ginseng.
Sekarang adalah musim semi disini. Banyak
bunga sakura sedang bermekaran, tapi aku tak menikmatinya seperti yang lain.
Namaku Anna. Aku hanya orang
asing. Ya... orang asing, aku terdampar di negeri orang. Mungkin orang akan
melihatku cukup lama karena warna kulitku yang berbeda. Hari ini tak ada yang
spesial, menikmati sungai Han sungguh menyejukkan hati. Sedikit damai
mengurangi beban pikiranku. Ku keratkan jaketku lebih erat karena hawa masih
dingin bekas musim dingin lalu. Tak lupa aku mengunyah permen karet andalanku,
bubble rasa jeruk.
“Huft... dingin,” hanya helaan
nafas panjang keluar mengepul dari
mulutku. Terlihat melamun, tapi pikiranku
merajalela entah kemana.
Tersadar oleh sesuatu, mataku
melirik kearah pinggiran sungai Han jarak dua meter dari arah tempatku duduk. Aku baru sadar ada orang lain disana. Aku hanya diam melihatnya. Terlihat dari
belakang sosok punggung seorang pria. Bahu yang lebar terbalut coat berwarna
abu-abu polos. Aku masih sibuk mengunyah permen. Ada satu lagi yang pakai untuk
dirinya duduk, kursi roda. Ya.. kursi roda agar lebih menyakinkan dengan apa
yang aku lihat sekarang. Dia duduk termenung
menghadap sungai Han. Sebuah kursi roda cukup canggih yang mungkin hanya
menekan tombol saja bisa langsung berjalan sesuka hati secara otomotis oleh
pemiliknya. Aku tahu siapa pria ini. aku tahu potongan rambut dan kursi roda
itu.
“Dasar orang kaya,” gumamku lirih
masih dengan posisiku duduk santai sambil memasukkan kedua tanganku kedalam
saku jaket.
Mataku sedikit tertarik dengan
pria itu. Tak lepas mataku melihat dirinya masih diam tak ada reaksi. Aku beranjak
mengarah padanya, namun tak sedekat jarak yang ku mau. Aku berdiri disamping
kiri sejarak dua meter darinya.
“Kau ingin bunuh diri?” tanyaku
datar padanya.
Pria itu menoleh kearahku
berdiri. Dia pasti bertanya-tanya siapa
orang ini? Masa bodo! Dia kembali pada posisinya menghadap sungai Han.
“Mungkin iya atau mungkin tidak,”
jawab pria itu tersenyum tipis mendengar jawabannya sendiri.
“Itu pilihanmu. Bukankah tinggal
pilih?” tanyaku lagi menoleh kearahnya. Ku lihat matanya sedikit sayu.
“Kau pasti tau tentang diriku,”
dengan percaya diri dia menatapku.
“Lee Sam alias Dion Wicaksono. Seorang
pengusaha kaya raya dibidang teknologi gadget. Pemuda keturunan Cina-Indonesia
yang tinggal menetap di Korea Selatan. Pemuda
tampan yang digandrungi wanita manapun
dulu maupun sekarang dan dia sedang duduk di kursi rodanya sekarang,” ucapku
menjelaskan semua yang ku tahu tentang dirinya dari berita yang beredar
akhir-akhir ini. Sebelum itu? Aku tak tahu.
“Gadis aneh. Aku rasa.. aku tak
perlu dan tak ingin tahu siapa dirimu,” ucap angkih sang pria yang bernama
Dion.
“Itu malah lebih baik,” aku masih
bersuara datar menanggapi keangkuhan nada suaranya.
Aku tahu dia seorang pemuda yang
arogan dan ambisius dalam menghadapi hidupnya. Apalagi melihat dia berkursi
roda, pasti dia tipe orang yang tak ingin dikasihani.
“Apakah kau ingin bunuh diri
juga?” tanya Dion menoleh kearahku melontarkan pertanyaan sama persis
sepertiku.
“Tidak,” Jawabku singkat menatap
mata sayunya.
“Kenapa?” tanya dia penasaran
dengan jawabanku.
Aku diam sejenak mendekat perlahan kearahnya. Dia masih
menatapku yang sedang mendekati dirinya.
“Kau tanya kenapa? Aku tak punya
pilihan sepertimu. Aku tak berhak mati sekarang karena aku tak punya pilihan
untuk kata mungkin yang kau lontarkan tadi. Aku berbeda denganmu. Kau seorang
pemuda yang memiliki fasilitas segalanya yang dapat kau pilih. Ya, pilih sesuka
hatimu. Harusnya kau hargai yang sudah
kau miliki sekarang. Tinggal pilihanmu, tepat sasaran atau mau terpeleset jauh?”
jawabku sesuai kata hatiku. Terserah dia tahu maksudku atau tidak dari ucapanku
barusan.
“Kau tahu apa?! Seenak jidat kau
menghakimi hidupku!” ucap Dion sedikit geram mendengar perkataanku ya mungkin
sedikit menyinggung perasaannya.
“Aku tak menghakimimu dan aku
sebatas tahu dirimu dari luar. Hanya kau yang tahu dirimu sendiri seperti
apa. Tinggal kau tentukan pilihanmu
sendiri mau bagaimana,” ucapku masih datar tak menanggapi kemurkaan hatinya. Sedikit
bersenang-senang di sore hari tak masalah bukan?
“Siapa kau?” tanya Dion menatapku,
mendekatkan kursi rodanya kearahku lebih dekat.
“Kursi roda? Oh, apakah kursi
roda ini yang menghalangimu untuk memilih salah satu. Aku rasa itu bukan untuk
alasan kau untuk dikasihani, benarkan? Senang bertemu denganmu, Dion.” ucapku
tanpa menjawab dan mundur beberapa langkah ketika dia mendekat kearahku lebih
dekat.
Aku tersenyum dan meninggalkannya
seorang diri.
“Yakkk!!! SIAPA KAU?!” teriak
Dion masih terdengar di telingaku.
Aku berbalik sejenak melihat
kearahnya.
“Kau tak perlu tahu, karena aku
bagian dari kumpulan kecil yang tak terlihat olehmu. BYE!” aku berbalik
meninggalkannya tanpa menoleh kembali.
Aku tersenyum puas sore ini. Apakah
aku sedang mendapat jackpot besar mengerjai seorang bos besar. Permen karet
yang ku kunyah sedari tadi lebih nikmat ketika bergelembung besar menempel dibibirku.
Mungkin kata ‘Pilihan’ hanya bisa
dilakukan oleh orang-orang diatas saja, sedangkan orang-orang dibawah apakah
mereka masih bisa untuk memilih? Kata ‘Pilihan’ yang terlontar dari bebeda
kasta akan terlihat jelas beda artian dari kata tersebut. Kata ’Pilihan’ yang
hanya dapat menjadi angan untuk kaum kecil, tapi nyata untuk kaum borjuis.
“Dingin...Jadi ingin melihat
sakura. Hemmm...” gumamku menaiki anak tangga menjauh dari sungai Han.
Fin.
Comments
Post a Comment