GONE
Aku... apa yang sedang aku
lakukan disini. Dimana ini? Tempat apa ini? Semua terlihat sama di mataku. Kata
seseorang, aku berada di sebuah tempat cukup nyaman di sebuah gedung. Aku duduk
di sebuah bangku panjang berwarna putih. Sekeliling dipenuhi tanaman bunga dan
beberapa pohon rindang menutupi cahaya matahari menyilaukan mata. Angin
sepoi-sepoi membuat diriku terasa ikut terbang bersama daun berguguran. Mata
ini terpejam sejenak menikmati suasana ini. entah ini pagi atau sore. Aku tak
tahu. Setiap hari aku selalu berkunjung ke taman ini.
“Lea...”
terdengar suara wanita paruh baya memanggil namaku. telingaku sungguh tajam
untuk mendengarkan suara. Ini sudah terbiasa sejak kecelakaan mobil enam bulan
yang lalu. Kecelakaan yang membuat diriku hanya mengenal warna hitam di mataku.
Aku
Lea. Seorang gadis berumur 19 tahun. Gadis berambut panjang bergelombang.
Berkulit putih. Mata yang indah. Seseorang yang memanggilku adalah perawat
rumah sakit tempatku berobat. Ya sekarang aku berada di taman rumah sakit. Aku
terlihat sama dengan pasien yang lain berseragam sama.
“Ah...
suster Ani!” sapaku tanpa menoleh padanya. Aku mengenali suaranya. Suara yang
sering aku dengar selama seminggu ini.
“Ini
sudah sore! Waktunya kau minum obat. Ayo kembali ke kamar!” pinta suster Ani
menggandeng lengan kiriku.
“Benarkah?”
tanyaku sambil berjalan menuju pintu masuk gedung rumah sakit. Aku tak mau
terlalu tergantung pada orang lain. Ditanganku selalu ada tongkat lipat yang
selalu menemani diriku.
Ah..sore
yang indah dalam bayanganku. Aku buta. Selama sebulan aku meratapi diriku yang
buta karena kecelakaan tragis itu. sebuah kecelakaan mobil menabrak pagar besi
jembatan. Seseorang yang begitu ku cintai telah tiada. Ibu... maafkan lea.
Hanya aku yang selamat. Tuhan memberikanku selamat, tapi tidak dengan mataku.
Kedua mataku terbentur kaca mobil sangat keras membuat kornea mataku rusak.
Sekarang aku tak bisa membedakan warna lagi. Tak bisa melihat siapapun dan
apapun. Namun, aku tak ingin terkurung dalam cangkang. Aku ingin keluar dari
cangkang keras ini. hati yang sudah menjadi serpihan, aku kumpulkan lagi
menjadi sebuah penopang hidupku sekarang. Bukan lagi tangisan yang ku
perlihatkan tetapi senyuman hangat untuk Ayah dan orang sekitarku. Ayah..kau satu-satunya
milikku sekarang. Kenapa aku di rumah sakit? Beberapa hari yang lalu, mataku
terasa nyeri. Sakit sekali. Ayah membawa diriku untuk berobat kembali. Lihat
sekarang! Aku sedang menjadi pasien untuk satu bulan kedepan untuk perawatan
intens.
Apakah
masih ada yang mau berteman denganku? Entahlah. Aku terus berjalan menelusuri
jalan setapak taman rumah sakit.
“Yakkk!
Sedang apa kau disini?! Kau membuatku kesal saja! Kau harusnya istirahat!
Mengerti kau?!” ucap suster kesal pada seseorang.
“Hehe..
Bibi! Aku ketahuan ya? ah..ampun! ampun! Sakit, Bibi!” terdengar suara lelaki
mengadu kesakitan.
Langkahku
sempat terhenti mendengar percakapan itu. Terdengar lucu.
“Ada
apa, Lea?” tanya suster Ani padaku.
Aku
hanya menggelengkan kepala pelan. Kami pun harus sampai ke kamar.
***
Senja
jingga. Sungguh indah untuk dinikmati. Taman rumah sakit yang tak berubah sama
sekali. Seorang lelaki bertubuh kurus tinggi, berkulit putih pucat dan rambut
hitam dengan poni menutupi dahinya. Sedikit imut. Dia sedang duduk santai di
sebuah bangku. Nafasnya terengah-engah sambil memegangi dada. Peluh keringat
mengalir dari pelipis keningnya.
“Ah..ah..ah..
huft! Kali ini aku berhasil lari dari bibi!” senyum sumringah tersungging di
bibirnya. sebuah kemenangan bagi dirinya yang berhasil lolos.
-Nyuuttt-
“Akh!
Aku harus kuat!” gumam lelaki muda itu merasa nyeri di dadanya. Segera mungkin
dia mengambil botol kecil dari saku celananya. Tak perlu pikir panjang dia
menelan sebutir pil berwarna merah seperti permen.
“Yakkk!
Sedang apa kau disini?! Kau membuatku kesal saja! Kau harusnya istirahat!
Mengerti kau?!” ucap seorang suster kesal padanya. Ah Ketahuan!
“Hehe..
Bibi! Aku ketahuan ya? Ah, ampun! ampun! Sakit, Bibi!” rintih sang lelaki mengadu
kesakitan.
“Bibi!
Bibi! Bibi! Siapa yang kau panggil bibi?! Aku belum terlalu tua untuk kau
panggil bibi! Cepat!” kesal suster Ria yang tak suka dengan kelakuan lelaki
itu.
“Akh...!
iya! Iya! Bibi, jangan begini! Sakit! Sudah berapa kali kau menyakiti
telingaku?!” teriak sang lelaki melepas cengkeraman jari suster Ria di
telinganya. Dia mengelus sayang telinganya.
“Huft...
Kevin Pradikta! Kapan kau mau menurut, hah?! Itu hukuman untukmu yang tak mau
menurut. Semua suster tak sanggup lagi melihat kelakuanmu” ucap suster Ria
cukup kesal.
Kevin
Pradikta. Seorang lelaki berwajah imut. Usianya tak jauh beda dengan Lea. Hanya
lebih tua satu tahun dari Lea. 20 tahun. Usia yang masih muda. Seorang lelaki
tampan, tapi tertutup dengan wajah pucatnya karena sakit. Sakit? Sakit tapi
bisa lompat sana sini. Lelaki yang ceria. Dia merasa dirinya tak sakit. Hanya
kedua orang tuanya terlalu khawatir dengan kondisi kesehatannya. Setiap hari dia selalu membuat suster Ria
kesal. Sejak satu tahun yang lalu, rumah sakit adalah rumah kedua setelah rumah
orang tuanya.
Sebuah
ruangan rawat inap berukuran 4x4 meter. Cukup luas dengan sebuah ranjang ukuran
single, lemari pakaian dan tiang infus disana. semua serba putih. Kevin berbaring
disana terlindung selimut tebal.
“Ayo
minum obat!” pinta suster meraih segelas air mineral diatas meja samping
ranjang.
Kevin
menegak beberapa pil obat yang diberikan suster Ria. Dia terbaring untuk
istirahat. Sedikit lelah berlari tadi.
“Tidurlah!”
ucap suster pelan dan meninggalkan Kevin sendirian.
Mata
Kevin menerawang langit atap. Kosong. Ia pejamkan mata. Rasa kesepian yang
mendalam tanpa orang lain tahu. Tanpa terasa air mata keluar dari sudut
matanya.
***
Rumah
sakit masih tetap sama. Ramai orang. Orang yang hanya sekedar menjenguk atau
pasien periksa kesehatan. Lea masih terpaku di depan pintu kamarnya. Sebuah
lorong panjang agar bisa sampai ke pintu keluar menuju taman. Tongkat mana?
Hari ini Lea tak perlu tongkatnya. Dia sudah terbiasa dengan arah dan posisi
setiap ruang rumah sakit termasuk arah dari kamar menuju taman. Selayaknya
seperti orang bisa melihat, Lea berjalan menelusuri lorong rumah sakit.
Keahlian dalam pendengaran dan perasa, dia dapat mengetahui ada benda dan orang
lain melewati dirinya. Senyum mengembang di bibirnya. Tanpa ragu dan percaya
diri dia melankah.
Sebuah
taman minimalis yang selalu menjadi tempat favorit Lea. Dia duduk manis
menikmati angin yang bersemilir menerpa wajahnya.
“Hosh..hosh..hosh..”
terdengar nafas sedikit terengah-engah berhenti tepat di depan Lea.
”Jangan sampai
ketahuan lagi! Aish bibi! Ayo Kevin cepat putar otakmu!” gumam Kevin bingung
mencari akal yang sedang kabur. Dia baru tersadar ada seorang gadis duduk di
hadapannya. Otaknya kembali mendapat ide.
“Kau! Ya kau!
Akan ada seorang bibi mencariku. Tolong, jangan beritahu dia kalau aku disini!
Kau mengerti?!” tak perlu menunggu jawaban Kevin langsung bersembunyi dibalik
semak belakang bangku tempat Lea duduk.
Lea cukup
terkejut dengan permintaan seseorang. Suara lelaki. Belum sempat dia menjawab
terdengar suara derap kaki berlari menghampirinya.
“Permisi gadis
manis, apakah kau melihat seorang lelaki berlari kearah sini?” tanya suster Ria
tak mengetahui Lea yang buta karena beda departeman.
“Tidak ada
orang kearah sini” jawab Lea sambil menggelengkan kepala.
“Aish lari
kemana anak itu?! Ya sudah, terima kasih” ucap suster Ria pergi kembali mencari
Kevin.
Aura suster
Ria sudah menghilang ditelan bumi. Kevin dapat merasakannya. Dibalik semak dia
tersenyum kemenangan. Dengan sigap dia berdiri sambil mengintip apakah suster
Ria sudah pergi atau belum. Perasaan lega membuatnya senang. Kevin menghampiri
dan duduk bersebelahan dengan Lea.
“WOW!
Hahaha... bibi tak akan menemukanku! Terima kasih ya!” Kevin masih seperti
biasa, suka menjaili para suster. Tawanya sungguh renyah.
Sedari tadi
Lea hanya diam mendengar suara lelaki yang tak dia kenal.
“Siapa kau?”
tanya Lea masih pada posisi duduknya dengan tatapan lurus kedepan.
“Hehe... maaf
sebelumnya. Kevin. Kevin Pradikta. Salam kenal!” Kevin menyodorkan tangannya
kearah Lea.
Senyum Kevin
sungguh manis, namun terhalang oleh bibirnya yang pucat kering. Tangannya cukup
lama menggantung tak dibalas.
“Lea...” jawab
Lea tanpa membalas jabatan tangan Kevin. Senyum ia berikan dengan tulus.
Kevin tersontak
kaget melihat kejadian ini. Dia menatap telapak tangannya sendiri. senyumnya
telah hilang seketika itu juga. Benarkah apa yang dia lihat barusan? Kevin
melambaikan tangan kearah wajah Lea. Tak ada respon. Tatapan mata Lea masih
sama. Kosong.
“Salam kenal,
Kevin” jawab Lea sekali lagi membuat Kevin tersadar dari rasa terkejutnya.
“Ah iya! Lea,
kau...” belum sempat Kevin melanjutkan ucapannya.
“Buta. Aku tak
bisa melihat, Kev” Lea menjawab dengan biasa. Tak ada rasa tersinggung di
dalamnya.
“Maaf..”
“Untuk apa kau
minta maaf? Tak apa, tak hanya kau yang bertanya. Kenapa kau lari dari bibi
tadi?” tanya Lea mengalihkan pembicaraan.
“Dia itu
galak! Bibi selalu marah-marah tak jelas. Aishh!!” Kevin mempoutkan bibirnya
kesal.
“Dia bibimu?”
“Iya”
“Oh... sedang
apa kau dan bibimu di rumah sakit? Kau sakit?” tanya Lea tepat sasaran.
Kevin hampir
dibuat kaget lagi. pertanyaan Lea tepat sasaran. Huft.. untungnya Lea tak bisa
melihat wajahnya dan dia sedang tak mengenakan seragam pasien. Kaos dan celana
jins menempel ditubuhnya beserta tas ransel coklat dipunggungnya.
“Tidak! Aku
sedang menjenguk temanku yang sakit dan bibi tadi Ibu temanku. Aku setiap hari
kesini, jadi bibi marah padaku” bohong Kevin. Bagaimana bisa dia membohongi
gadis cantik dihadapannya.
Ada rasa
sedikit canggung pada keduanya. Diam tak ada lagi yang memulai bicara.
“KEVIN!!!”
terdengar suara lantang memanggil Kevin. Orang yang bersangkutan menoleh kearah
sumber suara.
“Aish...
bibiku datang lagi! Aku harus pergi. Ini buatmu! Sampai jumpa lagi!” ucap Kevin
bergegas pergi sebelum dia memberikan setangkai bunga mawar hijau pada Lea.
Dari mana dia dapat bunga? Tentunya mengambil tanpa ijin dari taman bunga
belakang rumah sakit. Hehe...
“Bunga...”
guma Lea menyentuh kelopak bunga mawar ditangannya. Senyum tipis ia selipkan
dibibirnya.
***
Kevin pov.
Sore itu aku
bertemu seorang gadis cantik. Matanya sangat indah. Bulu mata yang lentik.
Sungguh terkejutnya diriku ketika ku tahu dirinya tak bisa melihat. Buta. Aku
termenung duduk di pinggir ranjang kamarku. Masih menempel jarum infus
langgananku. Pikiranku menerawang jauh. Masih ada gadis buta tersenyum manis.
Gadis tangguh. Dalam pikiranku, sungguh beruntungnya diriku yang masih bisa
melihat dunia dan melihat dirinya. Lea. Aku hanya bisa tersenyum sendiri
membayangkannya. Jatuh cintakah? Aku menggeleng tak percaya.
-Tok..tok..tok..-
Pintu kamar
terbuka dan membuyarkan lamunanku. Seorang suster menyembulkan kepalanya
tersenyum padaku. cengiran khas milik bibi.
“Aku bosan
melihatmu, Bi! Ciks..” decakku melirik suster Ria yang menghampiriku dengan
berbagai macam obat.
“Ya! Ya! Ya!
kau ini!” suster Ria menjitak kepalaku pelan.
“Aish! Bibi
suka sekali menganiaya orang, hah?!” aku hanya bisa mempoutkan bibirku kesal.
“Oh Tuhan,
imutnya dirimu! Sadarmu kau, Kev! Ciks, ciks, ciks,” sang suster hanya
menggeleng kepala melihat tingkahku.
“Bi...”
“Hmm?” suster
Ria masih sibuk menyiapkan obat untukku.
“Bibi, kau
tahu pasien yang bernama Leana?” tanyaku sedikit ragu.
“Leana? Hmm..
aku tak pernah mendengar namanya. Mungkin dari departemen lain” jawab suster
sedikit berpikir.
“Dia buta”
“Buta? Ah..
itu bagian Departemen bagian Mata. Kenapa kau ingin tahu?” tanya suster
menyelidik kearahku. Tatapannya sungguh menjengkelkan. Huft.
“Hoammm...aku
ingin tidur! Bibi biang gosip!” aku langsung menarik selimut pura-pura tidur.
Malas sekali meladeninya.
“Aishh!”
suster tersenyum tipis dan berlalu pergi membawa nampan obat. Aku rasa suster
Ria akan mencari tahu tentang Lea.
Oh Tuhan!
Tubuh terasa pegal sekali. Mataku mengerjap pelan. hoammm... sudah berapa lama
aku tidur? ku lihat jam dinding di sudut sebelah pintu kamar. Jam menuju angka
tujuh dan ini sudah pagi. Terbukti suara burung gereja berkicau merdu dibalik
jendela kamarku dilantai dua. Aku masih terduduk di ranjang. Rambut berantakan
tak karuan.
“Sudah pagi”
gumamku menutupi wajah karena terlalu silau dimata.
Bergegas aku
membersihkan diri. Mandi biar wangi. Hehe... dan ku kenakan baju andalanku.
Seragam pasien dan sandal kamar. Rasa bosan selalu melanda setiap hari. Aku tak
bisa diam dikamar. Aku keluar kamar mencari udara segar. Berjalan menelusuri
lorong rumah sakit sambil bersiul gembira. Entahlah apa yang ku nyanyikan.
Senyum jailku tersungging melihat sekumpulan suster berada di ruang resepsionis
yang masih kosong. Belum ada kegiatan. Terdengar bisik-bisik...
“Kau tahu
gadis buta yang sering duduk di taman?” tanya seorang suster bertubuh tinggi. Sebut
saja suster Susi.
“Apa yang kau
maksud Lea?” tanya balik suster lain yang sedang duduk menatap layar monitor
komputer. Sebut saja suster Tiwi.
“Kau tahu
namanya? Iya gadis itu” tanya suster Susi lagi. rasa penasaran membuat yang
lain ikut mendengarkan.
“Ya! Ya! Ya!
kalian malah ikut-ikutan suster Susi!” teriak suster Tiwi kesal. Kalau sudah
berkumpul jadi biang gosip.
“Kita juga
ingin tahu, Wi. Kenapa dia jadi buta begitu? padahal dia masih muda dan cantik.
Benarkah begitu teman-teman?” ucap salah seorang suster lain minta persetujuan
yang lain.
Semua terdiam
menunggu jawaban suster Tiwi. Satu.. dua... tig...
“DORRRR!!!”
“KYAKKK!!”
Semua suster
berteriak kaget. Bagaimana tidak? Ulah siapa lagi kalau bukan diriku. Aku
bertampang tanpa dosa menyengir pada semua suster.
“Pagi
semua!!!” sapaku pada semua sambil menopang dagu dengan kedua tanganku.
“Aishh! Si
biang rusuh datang!” ucap suster Susi melihat kearahku.
“Ada apa? Ada
apa? Apa? Gosip pagi ini apa?!” tanyaku antusias ikut bergabung.
“Suster Tiwi, kau
belum jawab pertanyaanku?!” tanya suster Susi melanjutkan rasa penasarannya.
“Gadis itu
bernama Lea. Aku tahu dari suster Ani yang merawatnya. Dia baru seminggu
disini. Mata dia sedang bermasalah, jadi dia dirawat inap selama sebulan
disini” jelas suster Tiwi.
“Bagaimana dia
buta?” tanyaku penasaran.
“Aku dengar,
dia mengalami kecelakaan mobil bersama ibunya. Ibunya sudah tiada. Gadis
malang” ucap suster Tiwi menyudahi percakapan pagi.
“KEVINNN!!!”
teriak suster Ria memanggil. Bukankah di dalam rumah sakit tak boleh
teriak-teriak?
“Aish...
suster-suster cantik, aku pergi dulu ya! muach!” ucapku bergegas pergi dari
sana dan berjalan cepat.” Menganggu saja!”
Kumpulan
suster hanya cekikikan melihatku pergi dengan aksi kabur seperti biasa.
***
Hembusan
angin menerpa wajah cantik Lea. Seperti biasa dia menikmati senja sore di
taman. Duduk sendiri. Ah tidak lagi! Kevin selalu menemani dia. Kevin seorang
lelaki yang baik dan ceria. Lea sungguh terhibur dengan kehadiran Kevin di
kehidupannya. Senda gurau selalu menghiasi wajah mereka. Lea merasa punya teman
lagi. Seorang teman yang menerima dia apa adanya. Kevin tak pernah sekalipun
minder disamping gadis buta seperti Lea. Hari demi hari terus berlanjut.
Kebersamaan mereka selalu berakhir dengan jeweran di telinga Kevin.
Kevin selalu
menyembunyikan identitas dirinya. Cinta anak muda sedang bersemi disana. Sudah
lama Kevin tak seceria ini.
Mereka
duduk bersandar pada salah satu dinding bangku taman. Kevin mendongakkan kepala
dan menatap awan yang mulai jingga.
“Huft...Lea,
kau tahu? Cuaca sore ini sangat cerah sekali. Indah” ucap Kevin tersenyum masih
mendongak keatas.
“Benarkah?
Bisakah kau beritahu itu seperti apa?” tanya Lea. Dia ingin membayangkan susana
sore hari.
“Ada
gumpalan awan berwarna jingga, sedikit kekuningan. Matahari juga mulai
terbenam. Ah ada lagi! ada beberapa burung membentuk huruf V menuju arah sinar
matahari. Aku rasa, mereka sedang mencari tempat singgah” jelas Kevin menghela
nafas.
Keduanya
mulai diam. Hening.
“Kevin...”
panggil Lea dengan tatapan kosongnya menghadap Kevin.
“Hm?”
Kevin masih dengan posisi duduknya.
“Apakah kau
tak malu berteman denganku? Kau sering sekali ke rumah sakit menjengukku.
Apakah kau tak malu punya teman bu...” belum sempat Lea selesai bertanya, Kevin
menangkup pipi Lea dengan telapak tangannya.
“Sstttsss....!
Kau tak boleh bicara begitu! Aku senang berteman denganmu. Terserah orang lain
mau bilang apa, tapi aku yang berteman denganmu. Aku yang merasakannya nyaman
atau tidaknya diriku bertemen denganmu. Kau tahu... aku sangat senang bisa
bertemu denganmu disini. Kau itu gadis yang kuat, Lea! Hargailah dirimu! Siapa
lagi yang membuat dirimu sampai sekarang? Yaitu
semangat hidupmu. Itu yang aku suka darimu, Lea..” ucap Kevin tersenyum
melihat wajah Lea dari jarak dekat. Dekat sekali.
Lea tak bisa
melihat, namun dia bisa merasakan. Telapak tangan Kevin yang sedikit besar dan
deru nafasnya menerpa wajahku. Lea tahu, wajah mereka sangat dekat dan membuat
pipinya merona merah. Dia segera melepas tangan Kevin dari wajahnya. Ia tak
ingin Kevin mengetahui rona merah pipinya.
“Aku sungguh
beruntung memiliki teman sepertimu, Kev. Aku harap aku bisa melihatmu suatu
saat nanti. Bolehkah aku meraba wajahmu? Aku ingin tahu kau seperti apa?!
Seorang Kevin dalam bayanganku” pinta Lea sedikit ragu. Dia takut Kevin
tersinggung.
“Hm?!”
Belum Kevin
menjawab. Lea memberanikan diri menyentuh wajah Kevin pelan. Meraba wajah
Kevin. Sentuhan jari Lea pelan namun pasti. Alis... mata...pipi.. hidung... dan
bibir. Sentuhan itu membuat Kevin diam terpaku. Ada getaran yang berbeda di
dada.
-Nyuttt-
‘Akh!’ Kevin
menahan rasa ngilu di dada kirinya. Dia menjauh sedikit dari Lea sambil meremas
dada kirinya menahan rasa nyeri disana. Sebuah botol kecil ia keluarkan.
Sebutir pil warna merah langsung ia telan begitu saja.
“Lea, aku
pergi dulu ya! Maaf tak bisa mengantar sampai kamar. Ini untukmu!” pamit Kevin
meninggalkan Lea sendiri tanpa menunggu jawaban. Setangkai bunga mawar singgah
di pangkuan Lea. Mawar hijau.
***
Lea
pov.
Alis...
mata...pipi.. hidung... dan bibir. Aku menyentuh wajahnya. Bayangan Kevin mulai
tergambar dalam benakku. Ukuran wajah kecil. Aku tahu dari ukuran wajahnya, dia
sesosok lelaki tak terlalu tinggi. Bulu matanya sangat lentik, padahal dia
seorang lelaki. Wajah yang tampan. Aku tersenyum tipis membayangkannya.
Setangkai mawar. Dia selalu memberiku setangkai mawar setiap hari.
“Bunga
lagi...” gumamku meraba mawar pemberiannya.
Sebuah
kamar VVIP rawat inap. Fasilitas lengkap. Ukuran yang luas membuat pasien
tinggal cukup nyaman disana. Terlihat sebuah ranjang putih di sudut dekat
jendela. Sebuat sofa panjang untuk menerima jengukan. Sebuah lemari kayu klasik
untuk pakaian dan terpajang sebuah lukisan sebuah senja di pantai berukuran 2x1
meter di dinding sebelah pintu kamar. Ah.. dan sebuah vas bunga di atas meja
samping ranjang. Sebuah vas berisi kumpulan mawar hijau pemberian Kevin.
Aku
menaruh mawar dalam vas besar berisi air. Sudah ada 9 tangkai mawar hijau
disana. Aku meraba dan menyentuh setiap mawar itu.
-Ceklek-
Terdengar
suara pintu terbuka.
“Waktunya
minum obat, Lea!” suara suster yang kukenal. Dia mendekat kearahku.
“Hmm..
Suster Ani, sudah berapa lama aku tinggal disini?” tanyaku sambil tiduran
bersandar dinding ranjang.
“Sudah
25 hari kau disini. Waktu sunggguh vepat berlalu ya, Lea. Ada kabar gembira
juga tentangmu, 4 hari lagi kau bisa pulang! Ayahmu sedang membereskaan
administrasi rumah sakit sekarang” jelas suster Ani senang.
“Benarkah?”
ada rasa antusias terpancar diwajahku. Bagaimana tidak?! Aku senang bahwa
keadaan mataku mulai membaik.
“Tentu
saja! Aku yakin, kau senang. Lihat wajahmu! Berseri-seri sekali” sahut suster
Ani tak kalah senang mendengar kabar dari dokter.
Ketika
suster Ani hendak mengambil air minum, dia melihat kearah sebuah vas bunga dan
tersenyum.
“Eh?
Bunga mawarnya bertambah? Apakah temanmu memberi mawar lagi? Mawar hijau yang
indah” puji suster Ani melihat kearah bunga tersebut.
“Mawar
hijau? Aku baru tahu, dia memberiku mawar hijau. Aku kira mawar putih” aku
sedikit heran. Mawar hijau?
“Heh?
Kau tak tahu sebelumnya? Iya, ini mawar hijau. Suster kira kau sudah diberitahu
oleh temanmu” suster Ani malah lebih heran dengan pertanyaanku. Aku hanya
menggelengkan kepala tanda tak tahu. Entahlah.
***
Sungguh
beruntung! Cuaca sore sangat indah. Awan senja mulai menghiasi langit biru.
matahari mulai membenamkan lingkaran bulatnya. Masih sama, berhembus angin sore
membuat hawa tak panas ataupun dingin. Sebuah kata ‘Sejuk’. Terlihat dua sosok
anak manusia sedang tertawa riang duduk bersandar di bangku taman. Entah sedang
mengobrol apa. Mereka sungguh menikmati sebuah kebersamaan yang ada. Kevin dan
Lea. Seperti biasa mereka bertemu di taman rumah sakit setiap hari. Tapi, entah
kenapa Kevin beberapa hari ini jarang datang ke taman. Tak ada kabar dari
Kevin. Sejak 3 hari yang lalu terakhir kali mereka bertemu, baru sekarang Kevin
berkunjung ke rumah sakit.
“Terima
kasih sudah datang menjengukku lagi” ucap Lea tersenyum manis.
“Hey..aku
senang datang kemari. Aku juga sedang menjenguk temanku” jelas Kevin berbohong
lagi.
“Tiga
hari ini kau tak datang. Aku khawatir denganmu. Ups!” Lea keceplosan berkata,
dengan segera dia menutup mulutnya yang mulai tak terkendali menahan rasa
rindu. Apa-apaan kau, Lea?!
“Heh?”
Kevin terbelalak kaget mendengar pengakuan Lea. Otaknya sedang mencerna ucapan
Lea. Benarkah yang ia dengar?
Mereka terdiam
sejenak. Ada rasa canggung merayapi keduanya.
“Apa? Apa?
Khawatir? Khawatir atau rindu? Keduanya beda tipis, Lea. Hahaha...” canda tawa
Kevin berkumandang ria. Itu cara dia menghilangkan rasa canggung diantara
mereka.
“ Yak! Yak!
Yak! Kau ini! Tentu saja, aku ingin tahu kabarmu. Kau ini temanku!” Lea
mengelak dari sergahan Kevin. Sedikit rona merah terpancar di kedua sisi
pipinya.
Kevin hanya
tersenyum tipis melihat ekspresi Lea. Dia tahu bahwa Lea sedang berbohong. Lihat
saja wajahnya yang malu! ‘Lea, kau temanku yang berharga’ batin Kevin masih
memandangi wajah Lea. Cantik.
“Kevin...
kenapa kau memberiku mawar hijau padaku? Kenapa mawar hijau?” tanya Lea mengalihkan
pembicaraan.
“Hmm... mawar
hijau ya? Entahlah. Aku suka saja, saat melihat banyak mawar hijau
bermekaran... sangat indah dipandang. Tadinya, aku pikir... setangkai mawar
hijau terlihat pucat dan tak menarik, tapi ketika mawar hijau itu dijadikan
sebuket bunga hasilnya... Sungguh menakjubkan! Sangat cantik! Aku pikir mawar
hijau memiliki arti yang sangat indah. Saat aku melihat mawar hijau, dalam
benakku hanya terlintas sebuah harapan. Harapan setiap orang yang ingin keluar
dari sini dengan senyuman” Kevin menerawang kearah awan yang menguning.
“Harapan?”
“Ya, harapan.
Harapan untuk kesehatan yang lebih baik! Bukankah kau kesini juga ingin berobat
dan sembuh? Itulah harapan semua pasien. Semua memiliki harapan besar agar
sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga di rumah. Kau juga begitukan?!”
Kevin berbicara seolah tak sakit. Dia memegang erat dada kirinya. Rasa sangat
nyeri disana. AKH! Dadanya berdebar
sangat kencang. Denyut jantung tak wajar. AKH!
-Nyuuuuttt!-
‘Oh Tuhan!
Jangan dulu! Ini terlalu sakit!’ batin Kevin sambil merogoh saku celananya.
Masih cukup tenaga dia menegak pil obatnya.
“Hmm.. aku
selalu mengharapkan itu, Kev” jawab Lea tersenyum mantap tanpa mengetahui
kondisi Kevin sebenarnya.”Oh ya! aku punya kabar gembira untukmu. Besok ak....”
“Lea, aku
pulang dulu ya! Dah!” pamit Kevin sebelum Lea melanjutkan ucapannya. Dia
langsung pergi dan menaruh setangkai bunga dipangkuan Lea.
Kevin berjalan
sedikit terseok-seok menahan rasa sakit di dada. Dia harus cepat sampai ke
kamarnya. Sekarang dia ingin sekali bertemu suster Ria.
“Bibi...
dimana kau? Ah..ah..ah..” gumam Kevin sedikit bergetar memasuki gedung rumah
sakit. Ia tak bisa bernafas. Sesak.
“Bibi...”
pandangan mata Kevin buram, berputar dan gelap.
***
Kevin pov.
Semua terasa
berat. Aku merasa melayang terlalu tinggi. Terdengar deru suara orang
berlari-lari. Tubuh terasa ringan. Remang-remang sedikit buram.
‘Bibi...’
Dokter dan
beberapa suster berwajah cemas mendorong ranjang pasien. Masih terasa nyeri
teramat sangat di dada.
“Kita harus
cepat! Suster Ria, siapkan UGD sekarang!” perintah dokter pria bertubuh tegap.
Dokter Arya, dokter spesialis jantung.
“Baik, Dok!”
bergegas dokter Ria berlari kearah pintu ruang UGD.
Spesialis
jantung? Tak bisa aku menutupi hal ini
lagi. Jantung Aritmia. Efek samping yang ku terima ketika penyakit ini
kambuh seperti ada yang menyumbat di leher dan mudah kelelahan. Aku mengidap
penyakit jantung sudah lama. Stadium akhir. Aku tak bisa berlari lagi untuk
kabur. Kabur kemana lagi? Hanya taman, tempat pelarianku. Percuma meratapi
hidupku yang tersisa? Ah tidak! Tuhan memberiku umur. Umur agar aku gunakan
sebaik-baiknya. Tapi... masih adakah kesempatan lagi untukku, Tuhan? Maafkan
aku yang membuat jantung ini berdetak melewati wajar! Seharusnya itu tak boleh!
Aku melanggarnya. Sakit... sakit...
***
Sebuah ruangan
cukup luas. Sudah tersedia peralatan medis cukup canggih untuk digunakan. Semua
serba modern dan dengan sigap para medis memberi pertolongan pertama pada
pasien. Kevin membutuhkan asupan oksigen.
“Pasang face masker dan infus!” perintah dokter
cekatan sambil memeriksa detak jantung Kevin dengan stetoskop.
Semua berharap
Kevin baik-baik saja. Seorang suster melihat kearah monitor EKG (Elektrokardiogram) alat perekam detak jantung.
-Ti...tiii...tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...-
“Detak jantung
mulai melemah, Dok!” ucap suster panik melihat reaksi monitor EKG semakin lemah.
“Defribillator!” pinta dokter mengatur
daya tegangan alat kejut jantung. Suster Ria bergegas mengolesi dada Kevin
dengan jelli.
“Menjauh!”
dengan pasti alat kejut jantung tertempel di kedua sisi dada Kevin. Sengatan
listrik membuat tubuh Kevin terlonjak. Tak ada respon.
“Tambah
tegangan! 360 joule!” dokter memberi perintah pada suster. Semua harus bekerja
sama.
Tubuh Kevin
terlonjak lebih keras. Ada respon.
-ti..titi..ti..ti..ti.ti.ti.ti...-
“Denyut
jantung kembali normal!” ucap salah seorang suster melihat reaksi detak jantung
kearah monitor EKG. Terlihat deretan
garis berfluktuasi.
“Syukurlah, kita
tak perlu operasi ulang! Tetap pasang face
masker dan infusnya! Cek dan laporkan perkembangan kesehatannya!” ucap
dokter menghela nafas lega menatap cemas pada Kevin sebelum pergi.
““Baik, Dok!””
para suster menjawab serempak.
Keadaan Kevin
mulai membaik, tapi kondisinya tak memungkinkan untuk terbangun. Dia seperti
tidur pulas. Para suster membawanya kembali ke kamar sedangkan kedua orang tua
Kevin menangisi kondisi anaknya yang belum sadarkan diri.
***
Sebuah kamar
inap VVIP. Ruangan serba putih dan bersih. Sebuah ranjang sudah tertata rapi.
Hari terakhir Lea berada di rumah sakit. Dia terlihat cantik dan anggun. Baju
berkerah putih dan rok pendek selutut bermotif bunga melekat di tubuhnya.
Sebuah coat berwarna coklat muda juga melapisi pakaiannya. Rambutnya tergerai
indah memakai jepit rambut berbentuk pita kecil. Dia duduk di tepi ranjang
sambil menggenggam tongkat.
“Semua sudah
beres! Ayahmu sebentar lagi menjemputmu, Lea!” ucap suster Ani selesai
membereskan pakaian Lea kedalam koper.
“Suster, Lea
ingin pergi ke taman sebentar ya!” Lea beranjak pergi menuju pintu keluar
dengan tongkat lipat sebagai petunjuk arahnya.
“Perlu suster
temani?”
“Aku bisa
sendiri. suster disini saja, siapa tahu Ayah nanti mencariku? Anda suster yang
memberitahu” Lea tersenyum agar suster Ani tak khawatir lagi.
Lea sangat
hafal jalan menuju taman rumah sakit. Dia sudah terbiasa pergi kesana
sendirian. Bangku kayu dekat air mancur menjadi tempat favorit Lea dan Kevin
saling bertemu. Lea menunggu Kevin. Dia belum sempat memberitahu Kevin bahwa
dia akan pulang hari ini. Bukan pulang?! Ayah mengajaknya berlibur sekaligus
berobat ke Singapura. Dalam jangka waktu panjang.
Orang yang
ditunggu tak kunjung datang. Hampir setengah jam Lea duduk disana. Tapi, Lea
masih mau menunggu Kevin. Sebentar lagi. Dia pasti datang.
“Lea! Ayo kita
pergi!” suara Ayah memanggil dan menghampiri Lea.
“Ayah...”
senyum Lea tersungging indah.
“Ayo, kita
harus cepat ke bandara! Oh ya, mawar ini mau kau apakan?” tanya Ayah memeluk
vas berisikan 10 tangkai mawar hijau yang mulai bermekaran.
“Sini! Biar
Lea saja yang bawa, Yah!” pinta Lea membawa vas itu dalam pelukkannya.
“Hati-hati
membawanya! Apakah kau sedang menunggu seseorang?” tanya Ayah melihat
sekeliling tak ada orang di dekat Lea.
“Tidak!” Lea
menggelengkan kepala kecewa. Kevin tak datang.
“Ayo!”
“Hmm” Lea
menggangguk pasti dan bergegas pergi dengan sang Ayah.
Sebuah taman
yang memberikan sebuah harapan dan kenangan indah untuk mereka.
‘Sampai jumpa
lagi, Kevin...’ batin Lea.
***
Kevin pov.
Semua yang ku
rasakan sangat lelah. Pandanganku gelap. Dimana aku? Sebuah titik kecil
berwarna putih diujung sana. Semakin lama semakin melebar dan menyilaukan
pandanganku. Bola mataku bergerak ke kanan dan kiri. Perlahan mataku terbuka. Penglihatanku
sedikit buram. Jari telunjukku mulai merespon. Aku melihat ruangan yang tak asing
lagi. kamarku di rumah sakit. Aku melihat kedua orang tuaku menangis
dihadapanku. Tubuhku masih lemas tak berdaya.
“Kevin! Kau
sudah bangun, Nak! Ayah, cepat panggil dokter Arya!” suara Ibu yang ku
rindukan.
“Baik! Suster,
Kevin sadar! Cepat panggil dokter Arya!” dengan cekat Ayah langsung memencet
tombol darurat pasien diatas ranjangku terbaring.
“Kevin...
anakku! Kau akan baik-baik saja!” bisik Ibu kearah telingaku.
Aku mendengar
suaramu, Bu. Aku ingin bersuara, tapi tak bisa. lidahku keluh untuk bicara.
Hanya air mata keluar dari pelupuk mataku. Jangan menangis, Bu! Dengan tenaga
yang tersisa, aku ingin sekali menggenggam tangan kedua orang tuaku. Ayah dan
Ibu dengan sigap meraih tanganku.
“Ada apa, nak?
Kau ingin sesuatu?” tanya Ayah padaku.
Aku ingin
bicara, namun terhalang face masker.
Tanganku menggapai face masker dan
melepasnya sejenak. Cukup kuat diriku untuk bicara beberapa patah kata.
“Ayah...
Ibu... Jangan menangis!” gumamku pelan hampir tak terdengar.
“Ibu tak akan
menangis lagi!” Ibu menggelengkan kepala dan menghapus air matanya.
Masih terasa
genggaman tangan Ibu dan Ayah ditanganku. Lea! Terlintas dalam benakku sosok
gadis cantik yang selalu menemani hari-hariku. Apakah sekarang dia masih duduk
di taman? Maafkan aku, Lea. Aku ingin sekali bertemu denganmu, tapi tubuhku
sudah tak kuat lagi. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
“Ayah.. Ibu..
aku sayang kalian!” gumamku semakin lemas.
Pandangan
mataku mulai gelap. Aku sudah lelah. Lelah sekali, Tuhan. Aku ingin tidur
nyenyak. Rasa nyeri di dada sudah tak ada dan aku mulai bisa bernafas lega. Aku
sudah sembuh. Bolehkah aku tidur sekarang? Nyaman sekali....
***
3 bulan
kemudian...
Awan putih
bersih tanpa noda menyelimuti langit biru. terbentang luas hamparan rumput
hijau sudah tertata rapi. Tersusun rapi berderetan batu semen bertuliskan nama
dan tanggal. Seorang gadis cantik mengenakan sweater warna merah muda dan rok
selutut berwarna gelap. Sepatu flet terpasang indah dikaki. Sebuah tas slempang
berwarna senada dengan roknya tergantung manis. Rambutnya terkucir indah dengan
seutai tali membentuk pita. Sang gadis berjalan menelusuri jalan yang penuh
dikelilingi rumput hijau.
Lea. Ya gadis
cantik itu adalah Lea. Sudah tiga bulan lamanya, dia baru pulang dari
Singapura. Dia tak sendiri ke tempat itu. Ada seorang sopir yang
mendampinginya. Aku terus berjalan sambil memeluk sebuket bunga. Bunga
kesukaaannya.
“Kita sudah
sampai, Nona” ucap sang sopir.
Mereka berhenti
tepat didepan gundukkan tanah tertutup rumput. Lea masih dengan tatapan kosongnya.
Menatap lurus menghadap gundukkan tanah. Ia cukup lama berdiri dan menggenggam
sebuket bunga. Bunga kesukaan sang mendiang juga. Mawar hijau.
Lea pov.
“Apa kabar,
Kevin? Lama tak jumpa” sapaku sedikit senyum dipaksakan.
Apa kabar?
Jahatnya dirimu, Kev. Aku tak tahu tentang dirimu, tapi justru kau tahu semua
tentang diriku. Selemah itukah aku dihadapanmu? Sampai kau tak memberitahu
kondisimu yang sebenarnya. Baru aku tahu tadi pagi kenyataan pahit ini.
Flash
back.
Aku
berkunjung ke rumah sakit dengan rasa bahagia ingin bertemu seseorang. Kevin.
Aku harap dia masih sering menjenguk temannya yang sakit disana. Seperti biasa
aku duduk di bangku taman tempat kita saling bergurau.
“Lea,
sedang apa kau disini?” sapaa seseorang yang masih ku kenal suaranya.
“Suster
Ani! Apa kabarmu?” tanyaku sudah lama tak berjumpa.
“Aku
sedang menunggu teman” jawabku antusias.
“Siapa
namanya? Mungkin suster bisa bantu mencarinya” suster Ani menawrkan bantuan.
“Suster
tak mengenalnya. Namanya Kevin. Dia hanya seorang pengunjung” ucapku tersenyum.
“Kevin?”
celetuk suara seorang suster lain.
“Siapa
itu?” tanyaku mendengar suara asing.
“Ah
sampai lupa! Kenalkan, ini suster Ria dari departemen penyakit dalam” ucap
suster Ani memperkenalkan suster Ria saat bersamanya.
“Salam
kenal, suster Ria!” sapaku ramah.
“Senang
bertemu denganmu! Maaf, tadi kau menyebut nama Kevin. Apakah yang kau maksud
itu Kevin Pradikta?” tanya suster Ria sedikit penasaran.
“Bagaimana
suster tahu? Iya, dia sering menemaniku di taman ini setiap sore” jelasku pada
suster Ria.
Suster
Ria tersontak kaget dengan penuturanku. Tapi sayang, aku tak bisa melihat
ekspresinya.
“Ada
apa suster Ria?” tanya suster Ani heran dengan ekspresi wajah suster Ria.
“Lea...
maafkan Kevin. Dia telah berbohong padamu” ucap suster Ria.
“Maksud,
Suster?” aku tak mengerti. Ada apa ini?
“Kevin
sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Dia terkena penyakit jantung aritmia.
Sudah setahun lebih dia menjadi pasien disini. Aku rasa, dia sering tersenyum
bahagia sebulan terakhir kepergiannya, mungkin itu karena kehadiran dirimu didekatnya.
Aku harap kau bisa tabah” suara suster Ria sedikit berat. Bagaimana tidak? Dia
yang selalu merawat Kevin dalam jangka waktu yang lama. Kevin sudah dia anggap
seperti anaknya.
Aku
terdiam. Semua rasa bercampur aduk. Kaget. Tak percaya. Takut. Sedih. Rasa
bahagia dan antusiasku telah pupus.
Flash
back end.
Sebuah batu
nisan bernamakan Kevin Pradikta. Aku menaruh bunga kesukaannya diatas gundukan
rumput. Tak terasa menggenang air dipelupuk mata. Ingin sekali meraung-raung,
tapi percuma. Air mataku menetes dalam diam.
“Apakah kau
tahu, Kev? Apa arti dari 10 tangkai mawar hijau yang kau berikan padaku?” aku
bertanya pada diriku sendiri. Sedikit ada jeda disana menunggu jawaban dan tak mungkin ada orang lain yang menjawab. “Cantik.
Kata itu yang selalu kau lontarkan padaku. Itulah arti dari pemberian darimu.
Andai saja aku bisa melihat, Kev. Aku ingin sekali melihat wajahmu. Melihat
wajahmu yang tampan. Bukan hanya wajah, tapi juga hatimu yang tampan. Sampai
saat inipun, aku tak bisa melihatmu, Kev! Aku harap kau hidup tenang disana.
Walaupun aku tak bisa melihatmu, aku tahu... kau akan selalu melihatku disana”
ucapku sambil menghapus air mata di pipi.
‘Selamat
tinggal, Kawan...’ batinku sambil beranjak meninggalkan tempat peraduan
terakhirnya.
“Kita pulang,
Pak!” tanganku mencari sosok pak sopir dibelakangku.
“Mari, Nona!”
pak sopir meraih tanganku dan mengaitkan di lengannya. Kami berjalan menelusuri
jalan setapak menuju pintu gerbang pemakaman.
Sebuah
kenangan bahagia sekaligus duka. Kau buka dengan sebuah senyuman canda tawa. Kau
tutup dengan sebuah kejutan dan tangisan. Kau berhasil Kevin! Kau benar-benar
malaikat pemberi harapan bagiku. Kebutaanku ini tak akan membuatku sedih. Terima
kasih, Teman! Kau akan selalu ada di hatiku. Selalu...
The end
Comments
Post a Comment